Karst Kendeng, JMPPK: Kajian Kementerian ESDM Meragukan

“Kalau nggak ada indikasi air ini salah. Air ini melimpah di sumber mata air Brubulan dan Kacar.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 31 Mar 2017 15:55 WIB

Author

Rio Tuasikal

Karst Kendeng, JMPPK: Kajian Kementerian ESDM Meragukan

Goa di kawasan Kendeng, Rembang, Jateng. (Foto: KBR/Noni A.)


KBR, Jakarta– Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) meragukan hasil kajian Kementerian ESDM bahwa CAT Watuputih tidak memiliki indikasi air sungai bawah tanah, sehingga bukan kawasan Karst. Hal ini disampaikan setelah menteri ESDM menyerahkan kajian itu ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk bahan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kendeng.

Menurut Koordinator JMPPK Joko Prianto, penelitian ESDM pada   15-24 Februari dan 8-9 Maret 2017 belum cukup meyakinkan untuk menyimpulkan kawasan Watuputih sebagai kawasan karst atau bukan. Kata dia, jika tidak ada airnya, tidak mungkin ada empat mata air di Kendeng.

 “Kalau ada yang mengatakan tidak ada sumber mata air, ini saya jadi ragu,” terangnya kepada KBR, Jumat (31/3/2017).

“Kalau nggak ada indikasi air ini salah. Air ini melimpah di sumber mata air Brubulan dan Kacar. Itu melimpah untuk PDAM semua, dan itu sepanjang tahun tidak berhenti,” tambahnya.

Joko menambahkan, sudah banyak kajian yang menyatakan Watuputih masuk kawasan Karst. Salah satunya adalah tim LIPI yang menyatakan secara biologi Watuputih memiliki indikasi fungsi lindung ekosistem karst.

Pihaknya juga meminta tim Kemen ESDM untuk kembali melakukan identifikasi lapangan bersama masyarakat. JMPPK juga memiliki sejumlah data primer terkait Watuputih. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Pandemi dan Kesejahteraan Jurnalis dalam Krisis

Kabar Baru Jam 8

Seperti Apa Tren Wisata 2021?

Kabar Baru Jam 10