Psikiater: Orang dengan Gangguan Jiwa Tak Perlu Pendampingan di TPS

Orang yang mengalami gangguan jiwa dinilai bisa mengikuti pemilu tanpa perlu pendampingan. Dokter Spesialis Kejiwaan, Irmansyah mengatakan, orang dengan gangguan jiwa harus diperlakukan sama dengan orang sakit fisik.

BERITA

Kamis, 20 Mar 2014 08:01 WIB

Author

Aisyah Khairunnisa

Psikiater: Orang dengan Gangguan Jiwa Tak Perlu Pendampingan di TPS

pemilu, gangguan jiwa

KBR68H, Jakarta - Orang yang mengalami gangguan jiwa dinilai bisa mengikuti pemilu tanpa perlu pendampingan. Dokter Spesialis Kejiwaan, Irmansyah mengatakan, orang dengan gangguan jiwa harus diperlakukan sama dengan orang sakit fisik. 


Jika gangguannya ringan, mereka masih bisa datang ke TPS sendiri. Namun jika gangguan jiwanya berat, boleh tidak dipaksakan namun harus dijamin menjalankan hak pilihnya.


"Memang ada yang betul-betul parah, yang tidak mau, atau yang saat itu masih agitasi (berteriak-teriak ke orang banyak), tapi jumlahnya sangat kecil. Mereka barang kali tidak perlu kita minta untuk ikut, tapi tidak boleh kita larang. Kalau mereka tidak mau, kalau mereka lagi marah-marah, tapi jumlah itu sangat sedikit. Tapi secara umum tidak perlu pendampingan," kata Psikiater, Irmansyah di Gedung KPU Jakarta, Rabu (19/3).


Sebelumnya KPUD Sulawesi Tengah dan Rembang, Jawa Tengah terbukti menghapus orang dengan gangguan jiwa dari daftar pemilih dalam pemilu. Mereka dihapus lantaran Ketua KPU menganggap orang dengan gangguan jiwa tidak termasuk dalam daftar pemilih. 


Padahal KPU tidak menerapkan aturan tersebut. Sementara salah seorang penderita gangguan jiwa (Schizophrenia), Erifah saat datang ke KPU mengatakan dirinya tidak merasa kesulitan dalam mengikuti pemilu sebelumnya. Da juga sudah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Namun Perhimpunan Jiwa Sehat mengatakan, masih banyak orang dengan gangguan jiwa yang tidak masuk dalam DPT. 


Editor: Antonius Eko 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Akibat Pandemi, Angka Kehamilan dan Pernikahan di Jepang Turun

Survive Corona ala Gue

Bias Kognitif Dalam Masyarakat Saat Pandemi

Eps4. Berhitung Plastik pada Kopi Senja

Seribu Jalan Penolak Undang-undang Cipta Kerja