Berkeliling Dunia Dengan Lomba Lari

Lari memberi pengalaman unik dan membawa Hendra keliling dunia.

BERITA

Senin, 03 Mar 2014 02:32 WIB

Author

Citra Dyah Prastuti

Berkeliling Dunia Dengan Lomba Lari

Lari, Hendra Wijaya, Perspektif Baru

KBR68H - Lari merupakan olah raga sehat yang sedang kembali menjadi trend di masyarakat akhir-akhir ini. Pada kesempatan ini, kita akan berbincang-bincang dengan pelari ultra Hendra Wijaya. Perlombaan lari ultra merupakan perlomban lari jarak jauh dengan jarak lebih dari 50 km, yang event-eventnya kerap diselenggarakan secara internasional di berbagai negara di dunia. Hendra akan bercerita berbagai seluk-beluk lomba ultra yang bisa dijadikan gambaran bagi anggota masyarakat yang juga ingin terjun menekuni olah raga ini.


Menurut Hendra, perlombaan lari ultra terdiri dari dua kategori yaitu ultra road yang diadakan di jalan dan ultra trail yang diadakan di gunung, pantai dan hutan. Perlombaan-perlombaan ini telah menjadi jalan bagi Hendra yang sebelumnya tidak pernah ke luar negeri, untuk berpergian ke berbagai negara untuk berkompetisi. 


Hendra senang mengikuti lomba-lomba lari ultra di berbagai negara karena ia menyenangi petualangan-petualangan yang didapatkan selama lomba. Ia mendapatkan berbagai pengalaman unik seperti berlari di bawah suhu dingin Hong Kong dan tanpa penunjuk arah di Australia.


Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hendra Wijaya dalam acara Perspektif Baru yang disiarkan KBR68H. 


Selain lomba lari maraton yang biasa kita lihat, ada lomba lari yang disebut ultra trail. Apa perbedaan ultra trail dengan lomba lari lainnya?


Sebetulnya namanya ultra bukan spesifik ke ultra trail saja. Ultra adalah lari dengan jarak tempuh yang di atas maraton, yaitu 50 km ke atas. Jadi ada dua katogeri, ultra road jika lombanya diadakan di jalan biasa dan ultra trail bila lomba larinya diadakan di gunung, pantai, dan hutan. 


Lalu bagaimana awalnya sehingga Anda bisa mengikuti lomba ultra?


Kebetulan saya senang bertualang di alam terbuka, yang sulit dijangkau oleh kendaraan sehingga harus di tempuh dengan jalan kaki. Dengan keadaan seperti itu, kita dapat mendayagunakan kemampuan tubuh kita secara keseluruhan. Jadi saya senang sekali dengan tantangan yang sangat ekstrim.


Apa lomba ultra yang pertama kali Anda ikuti?


Saya pertama kali ikut lomba lari ultra road 100 km, namanya Sundown Ultra Marathon yang diadakan di Singapura pada Juni tahun 2011. Sebelumya saya belum pernah mengikuti lomba lari sama sekali. Sundown Ultra Marathon adalah lomba ultra dan lomba lari pertama bagi saya.


Sebelum mengikuti lomba lari itu, apa persiapan Anda dari segi fisik?


Pada awalnya saya memulai olahraga lari sebagai upaya memulihkan kondisi fisik saya pasca mengalami kecelakaan di tahun 2009.  Supaya fisik saya cepat pulih, saya berlatih lari secara terus-menerus. Kemudian saya mengenal sebuah alat bernama Nike Plus (Nike+ red) yaitu suatu alat yang bisa mengukur jarak tempuh, kecepatan, dan kalori saat kita lari. Nike Plus itu berbentuk seperti flash disc, jadi kita bisa langsung unggah data hasil lari di aplikasi Nike Plus. Nah, di Nike Plus selalu ada challenge-challenge yang membuat saya ingin jadi yang terbaik. Dari pengalaman itu, jarak tempuh dan endurance saya semakin kuat. Dari situ saya melihat ada lomba-lomba ultra dan saya pikir bisa. Sampai sekarang saya terus menambah tantangan mulai dari 100 km di road, 100 km di  trail, kemudian 160 km, 230 km, 240 km sampai terakhir 300 km.


Apa persiapan Anda saat akan mengikuti lomba ultra trail pertama kali?

 

Dari pengalaman saya menggunakan Nike Plus, sehari saya lari 30 km jadi total dalam seminggu bisa mencapai 200 km. Kalau ada lomba 100 km, dalam hati saya itu sama dengan jumlah saya saya melakukan lari sekitar 3 hari dan setelah itu saya bisa istirahat.


Mengenai teknis pelaksanaannya sendiri bagaimana, apakah lari terus hingga jarak dan waktu yang telah ditentukan?


Setiap orang punya kemampuan masing-masing. Ada orang yang mengejar Personal Base (PB) dari segi waktu, ada orang-orang yang mengejar target waktu, dan ada orang yang mengejar target bisa finish atau Finisher. Ketika mengikuti lomba Ultra 100 km di Sundown Ultra Marathon, saya lari nonstop. Saat di kilometer ke-50, ada drop bag dimana kita bisa mengambil kebutuhan kita seperti ganti sepatu, ganti kaos, atau makan makanan khusus yang telah kita bawa, walaupun di setiap check point ada makanan yang disediakan. Di lomba-lomba ekstrem atau ultra, mayoritas orang ingin menjadi Finisher. Ada anggapan bagi para Finisher, walau mereka tidak juara, mereka juara bagi diri sendiri karena banyak orang yang tidak selesai atau biasa kita sebut Did Not Finish (DNF).


Kalau check point fungsinya sebagai apa?


Ada fungsi mencatat apakah pelari sudah lewat atau belum. Ada juga check point yang menyediakan makanan dan minuman. Ini tergantung dari bobot perlombaan yang diadakan. Jika lomba itu bergengsi, biasanya makanan yang disediakan juga berkualitas. 


Dari segi kesehatan, apakah panitia penyelenggara lomba menyediakan marshall untuk mengikuti para peserta sebagai antisipasi jika ada suatu kejadian yang menimpa si pelari?


Dalam lomba lari ultra, peserta dianggap sudah mempunyai kondisi fisik dan mental yang luar biasa. Walau begitu, masalah medis selalu menjadi perhatian dari pihak penyelenggara. Berbeda dengan lomba maraton yang jaraknya dekat sehingga bisa dimonitor, dalam lomba lari ultra peserta menandatangani pernyataan atau disclaimer. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa dia sudah siap menanggung resikonya sendiri jika terjadi kecelakaan bahkan kematian tanpa menuntut panitia. Tentunya panitia juga minta peserta melampirkan sertifikat medis.


Jika ingin ikut lomba lari ultra, apakah ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi secara fisik dan non fisik?


Misalkan ada lomba 100 km ultra trail, saat  pendaftaran dia harus sudah pernah ikut lomba maraton beberapa kali. 


Apa yang paling menarik selama Anda mengikuti lari ultra?


Saya mengikuti berbagai lomba ultra karena ingin merasakan berpetualang di sana-sini, dan semuanya berkesan. Saat mengikuti Sundown Ultra marathon, walau hanya 100 km tapi mempunyai kesan tersendiri karena itu pertama kali saya ikut lomba ultra. Saat itu saya belum mengerti, seharusnya minimal seminggu sebelum mengikuti lomba sudah harus istirahat, tetapi saya masih tetap lari. Akibatnya saat saya sudah di kilometer ke-51, saya benar-benar sempoyongan karena mengantuk tetapi akhirnya saya bisa selesai. Setiap lomba banyak pengalaman, misalnya saat saya mengikuti Vibram® Hong Kong 100 km, tempatnya sangat dingin dan suhu mencapai 4° Celcius, dan saya belum pernah ke Hong Kong sebelumnya.


Lalu bagaimana mengatasi kondisi cuaca yang sangat dingin?


Ternyata biasa-biasa saja, karena saat kita berlari tidak terlalu dingin. Kemudian di Great North Walk di Australia, terus terang kemampuan Bahasa Inggris saya kurang. Great North Walk itu lomba yang tidak ada petunjuk arah, setiap tempat hanya ada patok-patok yang sudah dibuat sejak lama.


Tetapi umumnya memang disediakan petunjuk arah bagi para peserta lari?


Tidak semua lomba ada petunjuk arahnya. Seperti kemarin saat saya mengikuti Transoman 300 km yang lokasinya ada di gurun pasir. Petunjuk arah memang ada, tetapi setiap peserta harus membawa Global Positioning System (GPS). Alat ini membantu peserta menunjukkan arah, karena terkadang petunjuk arah di padang pasir bisa hilang karena terkena angin dan di gurun tidak ada jalan.


Di Great North Walk juga berkesan  karena tidak ada petunjuk arah dan banyak peserta yang DNF. Terakhir pengalaman saya di Australia itu mengikuti Coast to Kosciuszko Ultramarathon yaitu lari dari pantai ke Gunung Kosciuszko. Gunung ini masuk dalam Seven Summits yaitu gunung dengan puncak tertinggi di dunia.


Lomba Coast to Kosciuszko berbeda dengan lomba yang lainnya. Di sini kita harus punya supporting crew sendiri dan tidak ada check point. Supporting crew ini harus bisa mobile untuk membantu si pelari seperti membawakan barang hingga melayani kebutuhan si pelari. Saya mengajak teman-teman untuk menjadi supporting crew saya tetapi tidak ada yang bisa, mungkin karena mereka mempunyai kesibukan tersendiri. Kemudian saya sangat terharu saat ada orang Australia, namanya Michael Lovric yang mau membantu. Michael Lovric bukanlah sembarangan orang, dia adalah Finisher di lomba ini. Selain itu dia pernah mengikuti 24 World Cahmpionship yaitu lomba lari 240 km dalam waktu 24 jam. Michael Lovric tergerak hatinya ketika panitia mengumumkan ada orang Indonesia yang akan ikut lomba Coast to Kosciuszko Ultramarathon dan membutuhkan supporting crew. Dia tergerak hatinya menjadi supporting crew saya karena dia pernah tinggal di Indonesia selama 15 tahun.


Salah satu hal yang membuat saya terharu saat dia mau mengoleskan Glide, yaitu semacam deodorant yang dioleskan di jari-jari kaki, fungsinya sebagai pelumas agar tidak lecet saat berlari. Dia sempat marah dan kecewa saat melihat kaki saya agar memar, karena dua minggu sebelumnya saya mengikuti lomba Bromo Tengger Semeru 100 Ultra. Lomba Coast to Kosciuszko Ultramarathon menempuh jarak 240 km dan lomba sebelumnya menempuh jarak 155 km. Sebetulnya jeda jarak ideal untuk mengikuti lomba lari satu dengan lainnya adalah 6 bulan, karena jika berdekatan akan membahayakan kesehatan si pelari. Tapi saya yakinkan dia bahwa saya bisa finish. Akhirnya saya benar bisa finish dan saya ucapkan terima kasih atas bantuannya. 


Sebenarnya apa yang Anda cari dalam melakukan lari ultra seperti ini? 


Pertama saya senang bertualang, dalam artian saya ingin menikmati keindahan-keindahan alam baik di Indonesia maupun di dunia. Saya ingin menikmati dan berbagi keindahan alam ini.  Kedua dalam hidup ini saya selalu senang tantangan, baik tantangan dalam bekerja, berkarir maupun tantangan seperti berlari. Saya sebenarnya bukan hanya berlari, tapi juga berenang, dan bersepeda. Insya Allah bulan Maret nanti saya sudah daftar lomba Hyperman Journey, yaitu lomba berenang 10 km, sepeda 400 km, kemudian lari 100 km Trans Lantau Trail. 


Perspektif Baru disiarkan jaringan radio KBR68H setiap Minggu pukul 8.30-9.00 WIB. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Travel Advisory Amerika Jadi Refleksi?

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11