Mahfud MD: Surat dari Veronika Koman Dianggap Sampah Belaka

Bahkan menurut Mahfud, jika saja surat itu sampai ke tangan pemerintah maka surat itu bukanlah hal yang penting dan dianggap sampah belaka.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 11 Feb 2020 20:37 WIB

Author

Dwi Reinjani, Resky Novianto

Mahfud MD: Surat dari Veronika Koman Dianggap Sampah Belaka

Presiden Joko Widodo bersama Chief Executive National Capital Authority Canberra Sally Barnes (kedua kanan) di Australia (9/2/2020). (Foto: ANTARA/Desca Lidya N

KBR, Jakarta - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD mengatakan, pemerintah belum melihat adanya surat yang konon diserahkan oleh aktivis sekaligus pengacara HAM Papua, Veronika Koman. Bahkan menurut Mahfud, jika saja surat itu sampai ke tangan pemerintah maka surat itu bukanlah hal yang penting dan dianggap sampah belaka.

“(Suratnya sudah diterima?) Orang berebutan salaman, kagum kepada presiden lalu dia ngasihkan map, ada yang kasihkan amplop surat gitu jadi, tidak ada urusan (Veronika) Koman atau bukan, kita enggak tahu itu Koman atau bukan, setiap surat ya kita bawa kan suratnya banyak. (Pemerintah tidak menerima data itu?) belum dibuka barangkali suratnya, surat banyak kan surat orang banyak, rakyat biasa juga mengirim surat ke presiden. Jadi anu kalau memang ada ya, sampah sajalah yang kayak gitu. (Jadi klaim sepihak?) ya mungkin benar saja dia mengirim tapi kan sama saja dengan surat-surat lain,” ujar Mahfud di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/2/2020).

Sebelumnya, Veronica Koman mengklaim bahwa dirinya sudah menyerahkan surat berisi data tahanan politik dan korban tewas Papua kepada Presiden Joko Widodo yang sedang melakukan lawatan kenegaraan ke Canberra, Australia. Ia juga mendesak agar krisis politik dan kemanusiaan di Papua segera dihentikan.

"Tim kami tadi menyerahkan dua jenis data, yaitu yang pertama terkait detil tahanan politik Papua yang tersebar di tujuh kota di Indonesia termasuk Papua, ada 57 orang. Kemudian, data berikutnya adalah jumlah nama dan umur 243 korban sipil sejak dimulainya operasi militer di Nduga, Papua. Mereka ini baik dibunuh oleh aparat keamanan maupun meninggal dalam kelaparan dan sakit dalam pengungsian," ucap Veronica Koman saat dihubungi jurnalis KBR, Resky Novianto.

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

KPK Hentikan Puluhan Penyelidikan Kasus Korupsi

Sulap Limbah Jadi Produk

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13