Bank Dunia Belum Bisa Pastikan Dampak Ekonomi Wabah Corona Wuhan

“Kalau dampak ekonomi mungkin kita harus melihat apa yang akan terjadi, karena masih banyak yang tidak diketahui atau yang tidak pasti.”

BERITA | NASIONAL

Rabu, 05 Feb 2020 19:56 WIB

Author

Siti Sadida Hafsyah, Adi Ahdiat

Bank Dunia Belum Bisa Pastikan Dampak Ekonomi Wabah Corona Wuhan

Mari Elka Pangestu, bekas Menteri Perdagangan RI yang kini menjabat Direktur Pelaksana di Bank Dunia, di kantor Antara, Jakarta (4/2/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Mari Elka Pangestu, bekas Menteri Perdagangan RI yang kini menjabat sebagai salah satu Direktur Pelaksana Bank Dunia, belum bisa memastikan dampak ekonomi dari wabah virus Corona Wuhan.

“Kalau dampak ekonomi mungkin kita harus melihat apa yang akan terjadi, karena masih banyak yang tidak diketahui atau yang tidak pasti,” kata Mari Elka di Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Ia menilai situasi wabah Corona Wuhan ini mirip dengan virus SARS yang merebak di Cina tahun 2003 lalu. Saat itu perekonomian Cina turun dari 11 persen menjadi 10 persen.

“Kalau kita asumsi, dia (Corona Wuhan) polanya mirip SARS, tentunya akan ada dampak pada perekonomian Cina dan berimbas pada pertumbuhan ekonomi global,” ujarnya.

Mari Elka menegaskan pemerintah Indonesia harus terus memantau perkembangan penyebaran virus Corona Wuhan, dan mengantisipasi dampaknya terhadap perekonomian dalam negeri.


Dampak Wabah Corona Wuhan di Sektor Pariwisata dan Perdagangan

Mari Elka menyebut wabah virus Corona Wuhan akan mengurangi jumlah turis asing dari Tiongkok ke Indonesia, dan dengan begitu mengurangi pemasukan sektor pariwisata.

Namun, pariwisata hanya berkontribusi 4 persen bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, sehingga tidak begitu mempengaruhi perekonomian nasional.

"Mungkin dari segi dampak langsung, dari tourism kepada pertumbuhan ekonomi ada (dampak wabah Corona Wuhan), tapi tidak terlalu besar," kata Mari Elka.

Menurut Mari Elka, sektor yang berpotensi terpengaruh signifikan adalah perdagangan, karena Tiongkok merupakan salah satu pasar utama untuk komoditas Indonesia.

"Yang lebih besar dampaknya kalau pertumbuhan ekonomi Tiongkok turun. Karena setiap 1 persen penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia 0,3 persen. Menurut makro model pernah dilakukan hitungannya. Karena jalurnya masuk dari permintaan komoditi dan harga komoditi seperti batu bara dan kelapa sawit," lanjutnya. 

Ia pun menyarankan pemerintah Indonesia mempertimbangkan kemungkinan penghentian impor barang dari Cina, dan mencari pasar baru untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mengusung Pilkada yang Sehat dan Berkualitas