Angin Kencang Sulitkan Pemadaman Karhutla Riau

"Ibaratnya gambut rusaknya sudah puluhan tahun. Jadi nggak mungkin dengan dibangun sekat kanal sekian ratus itu langsung lahannya jadi basah kembali."

BERITA , NASIONAL

Jumat, 22 Feb 2019 00:23 WIB

Author

Astri Septiani, Astri Yuana Sari

Angin Kencang Sulitkan Pemadaman Karhutla Riau

Tim gabungan dari BPBD, TNI dan polisi memadamkan kebakaran hutan dan lahan karhutla di Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai, Riau, Selasa (12/2/2019). (Foto: ANTARA/Aswaddy Hamid)

KBR, Jakarta - Pasukan pemadam kebakaran hutan Manggala Agni di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus melakukan upaya pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau.

Koordinator Manggala Agni Provinsi Riau, Edwin Putra mengatakan Manggala Agni dan petugas gabungan sedang berusaha memadamkan api di Kota Dumai, Kecamatan Rupat di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Rokan Hilir, dan Meranti.

Daerah yang terkena dampak besar karhutla saat ini adalah Bangsal Aceh Kota Dumai dan Rupat Kabupaten Bengkalis.

Namun pemadaman mengalami banyak kendala. Salah satunya karena tiupan angin yang sangat kencang.

"Angin cukup kencang di beberapa lokasi, karena dia berdekatan juga dengan laut pantai timur Riau. Kemudian banyak sekali semak belukar alang alang yang mudah terbakar. Karakteristik lahannya gambut di wilayah pesisir ini, sehingga menyulitkan kita melakukan operasi pemadaman darat," kata Edwin ketika dihubungi KBR (21/02/2019).

Saat ini Manggala Agni telah menurunkan 135 personel untuk memadamkan kebakaran, dengan menggunakan mesin pompa. Selain itu KLHK juga mengerahkan satu helikopter untuk pemadaman udara dan pengecekan lokasi kebakaran.

Edwin menambahkan, saat ini petugas kesehatan juga telah dikerahkan untuk pemeriksaan kesehatan masyarakat sekitar yang terdampak karhutla.

Selanjutnya kata Edwin, kepolisian saat ini juga sedang menyelidiki penyebab Karhutla Riau ini.

"Penyebabnya belum diketahui, masih pendalaman pihak kepolisian. Beberapa tempat sudah dipasang garis polisi. Ini sedang dalam proses lidik sepertinya," tutupnya.

Lahan gambut


Gubernur Riau Syamsuar secara resmi menetapkan status siaga darurat penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Riau.

Status siaga darurat berlaku sejak Selasa, 19 Februari lalu. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Riau, kebakaran hutan meluas sejak Januari hingga awal Februari 2019.

Diperkirakan sudah ada hampir seribu hektare luas lahan terbakar. Mayoritas lahan terbakar berada di Kabupaten Bengkalis sebanyak 620 hektare. Jenis lahan yang terbakar didominasi lahan gambut.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) Myrna Asnawati Safitri mengatakan, wilayah target restorasi gambut masih berpotensi untuk terbakar kembali.

Tetapi, kata dia, wilayah yang berpotensi terbakar tersebut kemungkinan besar adalah areal target yang masih belum dibangun sekat kanal dan sumur bor. Atau, areal target yang sudah dibangun sekat kanal, tapi jaraknya jauh dari sekat kanal atau sumur bor yang ada.

"Kegiatan restorasi dalam bentuk pembasahan kembali itu kan baru efektif di akhir 2016 sampai 2018. Itu baru upaya-upaya untuk membangun beberapa infrastruktur. Tentu nggak mungkin begitu kita bangun, ekosistemnya langsung pulih," kata Myrna pada KBR, Kamis (21/2/2019).

"Ini kan ibaratnya rusaknya udah puluhan tahun. Jadi nggak mungkin dengan dibangun sekat kanal sekian ratus itu langsung lahannya jadi basah kembali. Tentu tidak. Jadi memang potensi terbakar itu masih tetap ada," tambah Myrna.

Badan Restorasi Gambut selama 2016 – 2018 melakukan proyek Pembangunan Infrastruktur Pembasahan Gambut (PIPG). Tujuannya untuk pembasahan kembali ekosistem gambut yang telah terdegradasi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2015.

Di Provinsi Riau, pada 2017–2018, BRG membangun 725 unit sumur bor dan 1.126 unit sekat kanal untuk upaya pembasahan ekosistem gambut.

Myrna menambahkan, saat ini BRG masih melakukan pengecekan apakah wilayah yang terbakar di Riau, masuk ke dalam areal restorasi atau tidak.

"Memang ada beberapa lokasi terbakar, tapi tidak semua lokasi di areal target restorasi gambut. Tidak semua areal bergambut itu masuk ke dalam target restorasi. Tapi kami sedang melakukan pengecekan, untuk mengetahui apakah titik kebakaran sekarang ini masuk target restorasi atau tidak," tambah Myrna.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.