Dugaan Pencurian Ginjal TKI Sri Rabitah, BNP2TKI Tunggu Bukti Tertulis

"Kami harus memastikan dulu apakah Sri Rabithah ini betul-betul organ tubuhnya atau ginjalnya itu diambil secara ilegal,"

BERITA , NASIONAL

Selasa, 28 Feb 2017 14:32 WIB

Author

Ika Manan

Dugaan Pencurian Ginjal TKI Sri Rabitah, BNP2TKI Tunggu Bukti Tertulis

Sri Rabitah eks TKW di Qatar menunjukkan hasil rotgen yang menunjukkan ginjalnya tinggal satu. (Foto: Medsos)


KBR, Jakarta- Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengumpulkan sejumlah bukti untuk menindaklanjuti dugaan pengambilan ginjal Sri Rabitah, buruh migran asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sekretaris Utama BNP2TKI Hermono mengatakan, masih memerlukan keterangan tertulis dari dokter yang menangani perempuan usia 25 tahun tersebut.

Kata dia  hasil rontgen dan pengakuan Sri,  belum cukup kuat untuk membuktikan hilangnya organ ginjal.

"Yang lebih penting, kami harus memastikan dulu apakah Sri Rabithah ini betul-betul organ tubuhnya atau ginjalnya itu diambil secara ilegal," jelas Hermono saat dihubungi KBR, Selasa (28/2/2017).

"Rontgen itu (memang) ditunjukkan, tetapi yang kami minta sekarang ini ada surat keterangan dokter yang berwenang yang tegas menyatakan bahwa ginjal dari Sri Rabitah memang diambil. Jadi surat keterangan tertulis. Karena sebagai alat bukti kita harus betul-betul solid," tambahnya.

Keterangan tertulis mengenai ketiadaan ginjal Sri Rabitah itu, kata Hermono, akan menjadi bekal proses hukum selanjutnya. Apabila terbukti ginjal Sri diambil, maka KBRI Doha akan meminta keterangan ke rumah sakit di sana. Salah satunya terkait rekam medik Sri Rabitah.

"Menurut pengakuan Sri Rabithah, dia tidak menyadari kalau ginjalnya diambil. Ini kan tuntutannya ke rumah sakit di Qatar nanti, tentu kedutaan besar kita di Qatar akan melakukan langkah hukum kalau memang bukti yang kita dapat di sini ada pelanggaran pengambilan organ tubuh. Itu langkahnya di Qatar, kami kan punya lawyer di sana."

Perusahaan Penyalur

BNP2TKI hari ini berencana memeriksa petugas di PT BLK-LN Falah Rima Hudaity Bersaudara selaku agen penyalur Sri Rabitah. Sekretaris Umum BNP2TKI Hermono mengatakan bakal mendalami proses perekrutan dan penempatan Sri pada 2014 lalu.

"Kami juga harus memeriksa PPTKIS yang mengirimkan, hari ini kami panggil PPTKIS yang bersangkutan, cabangnya yang di Lombok. Kami ingin tahu kronologis penempatan yang bersangkutan, apakah sesuai prosedur atau tidak. Dan juga kami ingin meminta pertanggungjawaban dari PT yang memberangkatkan (Sri Robithah)," kata Hermono kepada KBR, Selasa (28/2/2017).

Keterangan yang juga harus dicek ulang adalah ketidakcocokan komitmen awal penempatan dengan pelaksanaan. Kepada BNP2TKI, Sri mengaku saat itu dijanjikan akan dipekerjakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Namun belakangan, ia malah ditempatkan di Qatar. Hingga kemudian dugaan pencurian ginjal ini terjadi.

"Dia (Sri Rabitah) itu dijanjikan dipekerjakannya di Abu Dhabi bukan di Qatar. Nah hal-hal seperti ini kan juga harus di-crosscheck apakah pada saat perekrutan terjadi semacam penipuan? Ini kan juga harus didalami."

Nama Sri Rabitah tercatat dalam daftar resmi buruh migran Indonesia yang bekerja di Qatar pada 2014. Hanya saja memang sejak 2016, Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) perusahaan yang menjadi penyalur Sri, telah dicabut.

"Sebetulnya PT (Falah Rima Hudaity Bersaudara) ini kan SIUPnya sudah dicabut. Karena melakukan pelanggaran. Sudah dicabut bersama 41 PPTKIS lainnya. Meskipun dia sudah dicabut tetapi kan tanggung jawabnya  tidak selesai," kata Hermono.

Kendati demikian, BNP2TKI akan tetap meminta pertanggungjawaban PT Falah Rima Hudaity Bersaudara sebagai agen penyalur. Bahkan, tak menutup kemungkinan perusahaan akan dikenai sanksi pidana.

"Tetap kami mintai keterangan. Dan kalau memang ada bukti bahwa ada pelanggaran, ya tentu bukan hanya sebatas administratif SIUPnya saja yang dicabut. Tetapi kan ini juga masih didalami oleh Polda NTB," tukasnya.

Editor: Rony Sitanggang
 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17