Dugaan Pencurian Ginjal TKI Sri Rabitah, BNP2TKI Siap Fasilitasi Pemeriksaan di Jakarta

"Jadi tidak ada katakanlah spekulasi ini diatur. Ya okelah mari kita cari second opinion ke Jakarta aja sekalian biar netral kan gitu,"

BERITA , NASIONAL

Selasa, 28 Feb 2017 21:08 WIB

Author

Wydia Angga, Hanapi

Dugaan Pencurian Ginjal TKI Sri Rabitah, BNP2TKI Siap Fasilitasi Pemeriksaan di Jakarta

Sri Rabitah tengah memberi keterangan didampingi pejabat setempat, Selasa (28/02). (Foto: KBR/Hanapi).


KBR, Jakarta- Badan Nasional Perlindungan dan Pentempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mempersilakan Sri Rabitah untuk mencari pendapat lain di Jakarta. Pendapat lain diperlukan  jika ada yang meragukan obyektifitas pernyataan Rumah sakit bahwa ginjalnya tidak hilang.

Sekretaris Utama BNP2TKI Hermono, mengatakan berpegang pada pernyataan  rumah sakit  yang menyatakan ginjal dari buruh migran asal Lombok itu utuh.  

"Silahkan kalau ada yang ingin mendapatkan kepastian lebih besar, lebih yakin, periksa saja ke Jakarta kita fasilitasi. Periksa katakanlah di Rumah Sakit Polri, ya ayo kita bawa ke sana gitu kan. Jadi tidak ada katakanlah spekulasi ini diatur. Ya okelah mari kita cari second opinion ke Jakarta aja sekalian biar netral kan gitu," ujar Hermono kepada KBR, Selasa (28/2/2017).

Hermono mempersilahkan  keterlibatan LSM untuk mendampingi Sri dalam mendapatkan kepastian pendapat kedua dengan fasilitas yang ditanggung BNP2TKI.

"Jangan lalu menyebar isu di daerah yang justru timbul spekulasi-spekulasi tuduhan-tuduhan saya kira ini kan tidak sehat juga. Ya tidak sehat, seolah ini kita ini dipaksa, ada LSM yang selama ini mendampingi tidak diikutsertakan, ya ayo dibawa," ujar Hernowo.

Hernowo melanjutkan, "pernyataan saya di media, ayo kita tawarkan atas biaya BNP2TKI tidak ada masalah. Yang penting bagi BNP2TKI kasus ini harus betul-betul clear jangan lalu berkembang isu macam-macam, ini dipaksa, masih ada sogoklah, ini kan tidak sehat," pungkasnya.

Minta Maaf

Sri Rabitah eks tenaga kerja  di Qatar, diminta untuk meminta maaf, karena ginjalnya tidak ada yang hilang, seperti yang ia ceritakan sebelumnya.

“Sekarang kamu tahu ginjal kamu ada dua-duanya, jadi sekarang kamu harus ngomong minta maaf sama wartawan, ini cuma kesalah fahaman, disuruh saya ngomong seperti itu. (Siapa yang suruh?) Tidak tahu namanya, cuma bapak kepala BP3TKI (Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI), dia yang suruh. (Lalu bilang apa?) Seperti yang saya jelaskan tadi di depan pintu, semuanya yang berdiri di samping saya itu yang suruh saya ngomong seperti itu," ungkap Sri di hadapan wartawan.

Rabu pagi Sri Rabitah mendatangi Rumah Sakit Umum Propinsi  Nusa Tenggara Barat bersama Dinas Kesehatan Lombok Utara. Dengan  didampingi oleh bapak mertuanya,  Sri hendak  mengecek kesiapan  untuk melakukan operasi pelepasan selang yang ada di dalam perutnya.

Sri yang tiba di RSUP NTB sekitar pukul 10.00 WITA lantas diminta  masuk ke dalam sebuah ruangan bersama petugas dari BNP2TKI dan Wadir Pelayanan dr. Agus Rusdhy, SpOG, tanpa didamping oleh kuasa hukumnya dari Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran (PBHBM). Setelah keluar dari ruangan Sri memberikan keterangan kepada para wartawan bahwa ginjalnya masih utuh semua, dan keterangan yang sebelumnya hanya kesalah pahaman saja.

Sebelum pengakuan Sri di hadapan para wartawan,  rumah sakit berkilah kalau dokter yang menangani  tidak pernah mengatakan kalau salah satu ginjalnya Sri Rabitah sudah tidak ada.

“Semua dokter yang periksa itu sudah saya ketemu dan tidak menyatakan seperti itu, rumah sakit belum pernah mengeluarkan pernyataan bahwa ginjal ibu tidak ada," kata dr. Agus Rusdhy SpOG.

Sementara itu Kuasa Hukum Sri Rabitah, Muhammad Saleh mengaku kecewa dengan tindakan  Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Nusa Tenggara Barat (NTB), dan BNP3TKI yang memaksa Sri meminta maaf ke publik. Saleh menilai apa yang dilakukan pihak rumah sakit tak beretika.

Saleh menuding RS   lancang memaksa Sri meminta maaf saat tidak ada pendampingan kuasa hukum. Seharusnya, kata dia, permintaan maaf tersebut disampaikan pihak RS. Sri hanya menerima penjelasan dari dua dokter radiologi yang menyebut ginjal kanannya tidak nampak.

"Harusnya tidak boleh terburu-buru memberikan informasi, bahwa ini ginjal ada dua. Itu harusnya didiskusikan, harus dikaji, benar-benar objektif, benar-benar merugikan. Merugikan kesehatan atau merugikan publik. Mengecewakan bukan hanya banyak orang, termasuk korban," katanya.

Tindakan BNP3TKI dan RSUP menyebut seolah-olah yang salah adalah Sri Rabitah. Publik akan menilai Sri selama ini memberikan keterangan palsu kepada publik.

Saleh mengaku sudah membuka komunikasi secara terus menerus dengan pihak RSUP. Namun, RSUP tetap menyatakan Sri salah mengartikan hasil rongent. Saleh pun meminta dua dokter radiologi dihadirkan untuk mengklarifikasi semuanya. Hal itu pun, kata dia ditolak RSUP.

Sri Rabitah (25 tahun) warga Dusun  Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan Lombok Utara  berangkat bekerja pada 27 Juni  2014 lalu. Setelah satu minggu di rumah majikan di Doha, Sri dibawa  ke pemeriksaan kesehatan karena dianggap lemah. Dengan alasan untuk kesehatan, Sri  dibawa ke ruang operasi lantas  disuntik hingga tak sadarkan diri.

Seminggu kemudian korban dikembalikan ke PT. Aljajira Qatar karena dianggap tidak bisa bekerja dan lemah. Di perusahaan itu  korban mengalami tindakan kekerasan karena dianggap tidak bisa bekerja. Sri akhirnya dikirim pulang dengan tanpa gaji.

Sepulang dari Qatar pada Juli 2014 itu Sri semakin kerap sakit. Beberapa waktu lalu korban memeriksa kesehatan ke RSUD Tanjung.  Setelah diperiksa dan melihat hasil rongent ternyata ginjal sebelah kanan korban tidak ada dan sudah diganti dengan selang plastik. Sri kini tengah  menunggu jadwal operasi untuk mengangkat selang itu. 

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945