Perspektif Baru: Memperbaiki Pendidikan Seperti Membangun Tim Sepak Bola (2)

Yang harus pertama dibenahi adalah guru.

BERITA

Minggu, 09 Feb 2014 14:04 WIB

Author

Citra Dyah Prastuti

Perspektif Baru: Memperbaiki Pendidikan Seperti Membangun Tim Sepak Bola (2)

Perspektif Baru, Retno Listyarti, pendidikan, guru

KBR68H, Jakarta – Bicara soal pendidikan di Indonesia sama artinya dengan bicara soal masa depan negeri ini. Retno Listyarti termasuk yang khawatir soal ini. Menurut pratisi pendidikan dan Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia ini, pendidikan Indonesia dalam 10 tahun terakhir diwarnai berbagai kemunduran. Setelah ditetapkannya Ujian Nasional sebagai syaraat kelulusan siswa, terjadi insiden-insiden negatif termasuk bunuh dirinya siswa yang tidak lulus. Berbagai penilaian internasional juga menunjukkan rendahnya kualitas siswa-siswa Indonesia dibandingkan para siswa di negara-negara lain. 


Retno Listyarti mengatakan yang pertama harus benar-benar dibenahi ialah guru. Itu karena tidak mungkin menciptakan murid kreatif kalau gurunya tidak kreatif. Tidak mungkin menciptakan murid kritis kalau gurunya tidak kritis. Kedua adalah kepala sekolah dan pengawas sekolah karena mereka adalah penjaga mutu terdepan. Sebenarnya guru bukan satu-satunya faktor dari kualitas pendidikan yang buruk. 


Dan menurut Retno, membangun kualitas guru dan pendidikan seperti membangun tim sepak bola. Lalu apa saja yang diperlukan demi mencapai kualitas pendidikan Indonesia yang lebih baik? Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Retno Listyarti. 


Apa faktor-faktor utama masalah sistem pendidikan jika diurutkan prioritasnya dari satu hingga lima yang terpenting?


Kalau misalnya diurut satu sampai lima, yang pertama harus benar-benar dibenahi ialah guru. Itu karena tidak mungkin menciptakan murid kreatif kalau gurunya tidak kreatif. Tidak mungkin menciptakan murid kritis kalau gurunya tidak kritis. Tidak mungkin menciptakan murid-murid yang berani berpendapat dan memiliki gagasan, berani punya ide, berani melakukan inisiasi, kalau gurunya penakut dan pengecut. Guru adalah yang pertama harus dibenahi. Kedua adalah kepala sekolah dan pengawas sekolah karena mereka adalah penjaga mutu terdepan.


Ada apa dengan kualitas kepala sekolah kita? Bukankah di Jakarta sudah ada lelang jabatan kepala sekolah di masa kepemimpinan Joko Widodo dan Basuki?


Itu hanya di Jakarta. Di wilayah lain di seluruh Indonesia tidak berlaku. Kepala sekolah sebenarnya adalah guru yang mendapat tugas tambahan. Mereka masih punya kewajiban mengajar  enam jam. Namun hanya sangat sedikit dari mereka yang punya kesadaran mengajar. Itu karena memang kepala-kepala sekolah ini adalah orang-orang yang ketika menjadi guru  tidak suka mengajar. Kami membuktikan betul hal tersebut. Mereka menjadi kepala sekolah karena kedekatan dengan kepala dinas, pihak dinas pendidikan, dan lain-lain. Jadi ketika menjadi kepala sekolah pun mereka hanya tundak pada kepala dinas. Mereka juga harus membayar. Jadi ada dua hal yang menjadi penting dalam penerimaan seseorang yaitu, “siapa yang membawa” dan “siapa yang dibawa”. Kolusi, Korupsi, Nepotisme (KKN) kuat sekali di sini. Kepala sekolah mempunyai kewenangan untuk memberikan surat rekomendasi bagi guru untuk menjadi calon kepala sekolah. Saya yang sangat kritis di sekolah dan kerap mengkritisi kebijakan sekolah, tidak akan ada kepala sekolah yang akan memberikan rekomendasi. Jadi dengan demikian, guru-guru bagus dan guru-guru kritis tidak akan pernah jadi kepala sekolah. 


Apakah itu artinya lelang jabatan ini bisa menjadi solusi yang baik?


Betul. Selama ini pengangkatan kepala sekolah dilakukan karena kedekatan dan uang. Di Jakarta pada era sebelumnya, nilainya mencapai kira-kira satu mobil Xenia yaitu 120 juta rupiah. Karena itu sekarang kebijakan itu dirombak. Akibatnya, ketika menjadi kepala sekolah yang mereka pikirkan adalah bagaimana modal mereka kembali. Kepala sekolah itu tak peduli kualitas pendidikan di sekolahnya, tapi lebih peduli pada bagaimana caranya mendapat kembali modal. Setelah mendapat modal kembali, mereka berpikir mendapat untung berapa. Jangan lupa mereka pun masih memberikan yang disebut dengan “upeti-upeti” pada pejabat-pejabat dinas. Jadi  sebenarnya ini yang merusak kualitas pendidikan pada level sekolah. Kalau korupsi pendidikan dilakukan terus-menerus seperti itu dan dibiarkan tanpa ditindak, maka mustahil kita berbicara mengenai kualitas.


Ketika pada masa Perang Dunia II Hiroshima dan Nagasaki diluluh-lantakkan. Kaisar Jepang  Hirohito tidak menanyakan berapa sisa serdadu tentara dan tank, namun berapa sisa guru yang masih hidup. Berbicara pendidikan dan bicara guru tidak bisa lepas dari visi dan juga orientasi dari pemimpin dan pengelola pendidikan. Bagaimana menurut Anda?


Oh, iya jelas. Seperti yang telah dibahas tadi, bagaimana keadaan para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Bagi sekolah dasar namanya penilik namun bagi sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas namanya pengawas. Pengawas sekolah itu seharusnya menjadi pengawas bagi kepala-kepala sekolah yang tidak benar dan lain lain. Yang terjadi adalah pengawas sekolah biasanya datang ke sekolah cuma untuk menjemput “amplop”. Pengawas ini sebenarnya mempunyai kewajiban juga untuk membimbing 50 guru tapi hal itu tidak bisa juga dilakukan. 


Kalau dikaitkan dengan bagaimana visi pemerintah dalam hal pendidikan, apakah maju atau tidak? Bagi saya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memilih menteri malah betul-betul jabatan politis. Seluruh presiden kita yang setelah Soeharto seperti itu. Soeharto lebih memilih menteri pendidikan dari orang pendidikan. Tapi sekarang tidak lagi. Menteri M. Nuh berlatar belakang teknologi dan dia sebetulnya tidak paham mengenai pendidikan. Sebelumnya  Soedibyo merupakan orang ekonomi. Makanya tidak heran diciptakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Jadi pijakan berpikirnya adalah bagaimana mengelola pendidikan dari sisi keuntungan, tidak lagi pada sisi hak asasi. Padahal pendidikan ini adalah hak asasi. Berkaitan dengan ini, bagi saya kita harus memilih pemimpin negeri ini yang punya visi ke depan atas pendidikan. Bagi dia pendidikan adalah suatu yang utama.


Federasi Serikat Guru Indonesia tidak tertantang untuk melakukan uji kompetensi calon-calon presiden kita? 


Ya, kami memang merencanakannya ketika pertemuan nasional pada November lalu. Kami memang merencanakan melakukan suatu riset calon presiden peduli pendidikan. Kami juga akan melakukan suatu kontrak politik bahwa organisasi dan guru-guru kami akan memilih calon jika memang yang bersangkutan puya visi dan blue print pendidikan yang jelas yaitu mau dibawa kemana pendidikan kita.


Banyak cerita soal kelakuan dari oknum-oknum yang sangat memprihatinkan. Bukankah pendidikan itu tujuannya bukan hanya menghasilkan orang yang cerdas dan pintar, tapi juga yang memiliki etika dalam bersikap?

 

Ya, itulah kecelakaannya pendidikan kita. Banyak orang tua murid juga keliru. Jadi ketika sekolah mengatakan akan ada pendalaman materi menggunakan bimbingan belajar terkenal agar murid-murid lulus, mereka berorientasinya pada kelulusan hasil tidak pada sebuah proses. Kemudian yang kedua adalah mengapa anak-anak kita ini dididik seperti bimbingan belajar yaitu hanya menjawab soal ujian. Kalau begitu, sekolah diganti saja dengan bimbingan belajar kalau memang hanya untuk menjawab soal dan hanya untuk lulus ujian nasional. Pendidikan, kalau kita menggunakan buku Tan Malaka pada 1921, ia membuat sekolah untuk melawan Belanda di Semarang pada saat itu. Sangat luar biasa ketika Tan Malaka dalam bukunya menuliskan bahwa pendidikan sejatinya adalah untuk mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan. Ketika orang terdidik, maka dia akan tajam dalam berpikir, kritis, kemudian halus perasaannya. Yang dimaksud Tan Malaka adalah dia peduli pada orang yang diperlakukan tidak adil, tertindas, dan peduli pada bangsa ini. Artinya, belajar di sekolah itu tidak sekadar hanya berpikir mikro, tapi harus makro, bahwa anak anak didik ini harus diajak ikut resah atas bangsa ini. Jadi dia harus diajak untuk berpikir bahwa masa depannya ditentukan sekali oleh pemimpin yang ada dan bagaimana masa depannya sangat ditentukan oleh kondisi yang sekarang dibangun oleh pengelola negara dan pendidikan.


Perspektif Baru disiarkan jaringan radio KBR68H setiap Minggu pukul 8.30-9.00 WIB. 


Baca bagian sebelumnya: Perspektif Baru: Memperbaiki Pendidikan Seperti Membangun Tim Sepak Bola (1)


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Menunggu Sanksi Aparatur Tak Netral di Pilkada