Melalui Teater, PRT Anak Ungkap Kegelisahan Mereka

Para Pekerja Rumah Tangga (PRT) anak ini sedang bermain peran dalam lakon hidup mereka. Jika pagi, mereka harus mencuci, memasak dan menyiapkan semua kebutuhan untuk majikan ketika anak-anak lain sedang bersekolah.

BERITA

Jumat, 28 Feb 2014 20:39 WIB

Author

Luviana

Melalui Teater, PRT Anak Ungkap Kegelisahan Mereka

Teater, PRT Anak

KBR68H, Jakarta - Para Pekerja Rumah Tangga (PRT) anak ini sedang bermain peran dalam lakon hidup mereka. Jika pagi, mereka harus mencuci, memasak dan menyiapkan semua kebutuhan untuk majikan ketika anak-anak lain sedang bersekolah.

Waktu telah larut dan mereka tak juga berhenti bekerja ketika anak lain sedang belajar dan menyiapkan sekolah untuk keesokan harinya.

Salah satu PRT anak, Titin menyatakan, keinginan untuk bermain dan sekolah lagi adalah cita-cita hampir semua PRT anak di Indonesia. Namun apa daya, mereka harus bekerja untuk hidupnya dan juga keluarganya.

Potret khas problem PRT Anak di Indonesia inilah yang kemudian dipentaskan anak-anak yang bekerja sebagai PRT di Jabodetabek.

Mengambil judul pementasan “Mutiara Retak di Balik Kain Pel" karya sutradara Herlina, para PRT anak ini mementaskan teaternya di Sanggar Teater Populer, Jakarta, Jumat sore (28/2).  

Koordinator LSM Mitra Imadei yang mendampingi PRT Anak,  Maria Yohanista menyatakan, tak hanya tak bisa bermain dan bersekolah, banyak PRT anak kemudian mengalami kekerasan dari majikannya, "PRT anak yang bisa pentas di teater ini adalah PRT yang diizinkan majikannya ikut latihan, ikut belajar membaca dan belajar bahasa inggris".

Dari sinilah maka kelompok PRT anak ini kemudian terbentuk. Mereka berlatih jika diizinkan untuk keluar rumah. Pementasan ini adalah pementasan teater mereka yang kedua. Anak-anak ini tampak lepas dalam bermain, dan senang memainkan peran mereka ke dalam sebuah panggung. Latihannya pun sudah berkali-kali. Mereka juga berlatih sendiri sambil mengerjakan pekerjaan rumah, ketika mengepel atau mencuci.  

"Kalo majikan gak izinin, kami gak pentas seperti ini," teriak salah satu PRT Anak dalam panggung pentas.

Maria menambahkan, saat ini mereka sedang berjuang untuk menghasilkan Undang-Undang PRT, karena jika tak dimasukkan sistem, maka hanya jeritan yg datang tiap hari, namun tetap tak ada perubahan.

Selain menjadi PRT, anak-anak lain juga bekerja di tempat berbahaya, seperti menjadi anak-anak jermal dan anak-anak yang menjadi kuli di pelabuhan atau pun pasar.

Lita Anggraeni dari Jala PRT yang mengadvokasi RUU PRT menambahkan, saat ini ada 3 juta anak Indonesia yang menjadi PRT anak, umur mereka di bawah 18 tahun. Advokasi bentuk lain yang mereka lakukan adalah: menghapuskan pekerja Anak dan mengajak mereka kembali ke sekolah.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Pandemi dan Dampak Pada Kesehatan Mental Siswa

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menanti Perhatian pada Kesehatan Mental Pelajar

Kabar Baru Jam 10