Kisah Perdamaian dalam Buku "Carita Orang Basudara"

KBR68H, Jakarta - Kerusuhan antar umat Islam dan Kristen Ambon meletus sudah 15 tahun lalu.

BERITA

Kamis, 27 Feb 2014 14:16 WIB

Author

Gun Gun Gunawan

Kisah Perdamaian dalam Buku

kisah perajut damai, konflik ambon, carita orang basudara

KBR68H, Jakarta - Kerusuhan antar umat Islam dan Kristen Ambon meletus sudah 15 tahun lalu. Kerusuhan itu menjalar hingga ke luar daerah dan mengakibatkan jumlah korban yang banyak. Lembaga Swadaya Masyarakat Kontras mencatat sedikitnya 1.300 korban tewas dan 270-an luka parah. Sentimen agama ketika itu menguat dan mengakibatkan fanatisme identitas keagamaan. Setelah 15 tahun, bagaimana proses kerusuhan dan rekonsiliasi sudah terjadi?

Baru baru ini, Pusat Studi Agama dan Demokrasi bersama Lembaga Antar Iman Maluku menerbitkan buku Carita Orang Basudara. Buku ini berisi 26 tulisan dari 26 penulis asal Maluku dengan berbagai latar belakang profesi mengisahkan konflik dan rekonsiliasi Ambon. Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Ihsan Ali Fauzi mengatakan, buku itu tak bermaksud membuka luka lama.

Ihsan mengklaim banyak kisah inspiratif dalam buku tersebut. “Salah satunya adalah ustadz yang berani mengambil resiko kehilangan nyawa saat konflik,” ujarnya. Ustadz tersebut ternyata tidak hanya mendapat ancaman dari kelompok yang berseberangan, namun juga dari kalangan sesama muslim, khususnya yang fanatik. “Jadi ustadz itu berani mengambil alih mimbar khotbah di Mesjid Raya Al-Fattah Ambon untuk menyampaikan khotbah damai. Bukan ajakan kekerasan,” ujar Ihsan. Menurut Ihsan, khotbah itu membuat kalangan islam fanatik geram.

Kisah selanjutnya muncul dari mulut Irfan Ramli alias Ibeng, salah seorang tokoh pemuda Maluku. Menurutnya, saat konflik pertama kali pecah 15 tahun silam, usianya baru 10 tahun. “Meski demikian saya sudah tidak lagi merasa sebagai anak kecil. Konflik memaksa saya harus bersikap layaknya orang dewasa,” ujarnya.

Menurut Ibeng, provokator dalam konflik Ambon awalnya menggunakan isu ras untuk memancing pecahnya konflik. “Tapi itu tidak mempan karena warga Ambon sudah merasa bersaudara dengan pendatang. Sudah banyak yang kawin silang sehingga masyarakat tidak terlalu terkotakkan dengan isu ras atau suku,” kata dia. Akhirnya isu agama manjur untuk menyulut api peperangan di tanah Manise itu. “Itu karena dasarnya warga Ambon itu agamis. Hari Jumat jalan-jalan sepi karena umat muslim ke mesjid, sedangkan hari minggu juga demikian karena warga kristen pergi ke gereja,” ungkap Ibeng.

Ibeng menambahkan, luput dari pemberitaan media massa arus utama, sebenarnya banyak kalangan di Ambon saat masa konflik yang ingin berdamai. “Ada ratusan LSM yang mencoba menyatukan kedua belah pihak, mesi caranya tidak langsung,” ujar Ibeng. Salah satu caranya adalah dengan menyasar anak kecil di sekolahan. “Mereka kerap membuat perlombaan yang melibatkan kedua belah pihak. Intinya supaya mereka saling bertemu dan mengenal lebih jauh satu-sama lain,” ujarnya.

Sejak lama masyarakat Maluku terkenal dengan slogan Pela Gandong. Pela Gandong merupakan suatu sistem hubungan sosial berupa suatu perjanjian baik antara penduduk pribumi dan pendatang, maupun penduduk yang berbeda keyakinan. Sistem sosial tersebut membuat Maluku menjadi daerah yang tenteram. Namun Pendeta Albertus Patty menilai konsep Pela Gandong belum teruji betul. “Benih-benih kebencian justru tersamarkan atas nama perjanjian Pela Gandong,” ujarnya.

Meski sempat gagal, menurut Albertus Patty masyarakat tidak usah menampik sejarah. “Biarlah sejarah menjadi pelajaran buat kita,” ujarnya. Pada akhirnya masyarakat sendiri yang akan menyembuhkan luka dan trauma akibat konflik. Meski demikian, dia tetap menghimbau pemerintah tidak lengah. “Benih-benih konflik masih mungkin ada, meski saat ini kecil,” tegasnya.

Konflik Ambon memang sempat akan kembali mencuat pada 2011. Hal tersebut menurut Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Ihsan Ali Fauzi, sangat mungkin terjadi karena masyarakat masih dibesarkan dalam cerita parsial soal kebencian. “Dulu memang banyak media massa tidak menampilkan berita yang utuh. Bahkan memihak salah satu kubu,” kata Ihsan.

Saat konflik berlangsung, sejumlah pihak sadar dengan independensi media di Ambon yang sudah tidak bisa dipercaya. “Oleh karena ini kami membentuk gerakan Kopi Badati. Kami menyebutnya provokator perdamaian,” tegasnya. Hal itu sangat penting untuk melawan provokasi dari pihak yang tidak menginginkan kedamaian hinggap di bumi Maluku.

Editor: Fuad Bakhtiar


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

RS di Jalur Gaza Kewalahan Tampung Pasien Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Kisah Pendamping Program Keluarga Harapan Edukasi Warga Cegah Stunting

Siapkah Sekolah Kembali Tatap Muka?

Eps8. Food Waste