Dr Lie Dharmawan: Mengarung Samudera Menolong Orang Sakit

Gagasannya sudah dilirik Kementerian Kesehatan.

BERITA

Senin, 03 Feb 2014 12:01 WIB

Author

Arin Swandari

Dr Lie Dharmawan: Mengarung Samudera Menolong Orang Sakit

Rumah sakit, layanan kesehatan, inspiratif

KBR68H - Tahun 2013 adalah periode penting bagi seorang dr Lie Dharmawan. Saat itulah ia berhasil mewujudkan keinginannya membuat rumah sakit apung milik swasta pertama di Indonesia. Dr Lie ingin memiliki rumah sakit yang bisa mengarungi samudera dan menyambangi masyarakat di daerah pelosok. Lewat Yayasan Dokter PEduli atau doctorSHARE, dr Lie menggelar pengobatan gratis di sejumlah lokasi dengan rumah sakit apung yang berfasilitas seperti layaknya rumah sakit di darat, yaitu kamar bedah, kamar EKG, USG dan rontgen, laboratorium, ruang rawat pasien, kamar dokter dan sebagainya. 


Dr Lie berbincang lebih jauh soal rumah sakit apung dan rencana-rencana berikutnya kepada Arin Swandari dalam program perbincangan Sarapan Bersama, yang disiarkan KBR68H, TV Tempo dan PortalKBR.



Mau siap-siap ke Sinabung?


"Iya kami lagi mempersiapkan diri untuk ke Sinabung. Sekali menggelegar sekian bulan berlangsung, puluhan ribu pengungsi. Kami belum lama ini ke Filipina setelah Topan Haiyan, lalu sesudah itu kami ke Kalimantan Barat, Kabupaten Landak tepatnya di sana mereka juga menderita bencana alam yang besdar, banjir terbesar dalam tempo sepuluh tahun terakhir. Ketinggian air mencapai 3 meter konon kabarnya, saya sendiri tidak bisa mengukurnya karena saya sendiri tidak bisa mengukurnya karena saya belum 3 meter dan mudah-mudahan tidak akan menjadi 3 meter tinggi saya. Sekarang Sinabung sudah enam bulan dan terus aktif, sangat rajin sekarang, dan itu menyengsarakan rakyat sekitarnya. Ini tentu membutuhkan dana yang besar, kami sedang mempersiapkan itu dan kami juga keliling Manado."

 

Anda sudah berlayar sampai jauh, apa tidak takut gelombang tinggi datang?


"Betul. Tapi kami memprediksinya, kita ada BMKG bisa memprediksi kapan lalu berdasarkan pengalaman orang-orang laut itu sudah tahu kapan kira-kira kita bisa berlayar. Kami sudah punya planning untuk bulan Maret akhir, sekarang ketika laut galak seperti sekarang kapal ditambah di Muara Angke sekaligus kami ada perbaikan-perbaikan, penambahan, dan sebagainya."


Kapal yang Anda bangun sendiri?


"Tidak, saya ahli bedah, tidak bisa bikin kapal. Iya kapal itu ini jujur loh ya, saya tidak nyontek inginnya nyontek tapi belum pernah ada orang membikin kapal ini menjadi rumah sakit."


Untuk melahirkannya itu tampaknya harus ada komunikasi dengan Tuhan, saat itu Anda disebut dokter gila karena pakai uang sendiri. Jual apa untuk itu?


"Saya melego satu rumah saya, itupun kurang. Jadi banyaklah teman-teman membantu dan setiap bulan juga saya sisihkan. Ketika kita punya sebuah cita-cita, tujuan itu harus berlandaskan sesuatu yang benar-benar kokoh sebagai landasan."

 

Anda waktu itu sempat ragu-ragu apakah benar langkah ini, apa yang membuat dokter mantap?


"Saya mendapatkan ide ini ketika kami melakukan bakti sosial pelayanan medis di Pulau Kei, Maluku Tenggara. Pada akhir operasi saya datang seorang ibu dengan anak umur 9 tahun yang ususnya terjepit, mereka datang dari Saumlaki. Pastur mengatakan kepada saya, Dokter Lie ini ibu datang dengan perahu tradisional dari Saumlaki ke Pulau Kei itu memakan tiga hari dua malam. Secara teoritis medis anak ini sudah harus dioperasi dalam tempo 6-8 jam sejak usus itu terjepit, tapi di kapal saja sudah tiga hari dua malam, belum lagi masa awalnya. Saya tetap lakukan dan anak ini survive, kehebatan Tuhan yang melindungi anak ini. Sejak itu dalam doa malam saya ketika akan tidur anak ini selalu terbayang dan pertanyaannya apakah kau mau menolong orang-orang seperti ini. Itu membutuhkan pergumulan hampir setahun sebelum ketika akhirnya saya katakan iya saya mau melakukan ini."


Anda mengeluhkan capek? 


"Betul saya mengatakan kepada Tuhan saya dalam dialog, saya tidak mengatakan dalam doa saya. Saya berdialog dengan Tuhan saya, saya sudah capek sekali banyak melakukan ini itu. Congkak singkatnya, tapi ya suara itu yang dengan lembut bertanya kepada saya apakah kamu mau melayani orang-orang begini. Akhirnya terus terang dengan bercucuran air mata saya katakan “iya Tuhan saya mau”."    


Ketika Rumah Sakit Apung ini berlabuh bagaimana reaksi dari warga di sana?


"Mereka menyambut ini dengan antusias. Bayangkan orang yang mengharapkan sesuatu dan tak pernah muncul, ketika sesuatu itu datang dan jadi kenyataan di depan mata mereka dimana impian menjadi sesuatu yang riil di hadapan mereka, luar biasa antusiasnya mereka dengan datang berbondong-bondong. Saya ketika di Pulau Kei penduduk itu menyediakan tempat bagi kami, sayangnya saya cuma bisa menginap beberapa jam di rumah penduduk itu selebihnya saya tidak pernah turun-turun dari kapal, selama seminggu di sana operasi di atas kapal. Makanya yang pertama kali dikunjungi adalah Pulau Panggang, itu kondisinya jauh lebih baik daripada merapat ke pulau-pulau kecil itu. Ini di Pulau Panggang kapal bisa diikat dan itu operasi di atas kapal pertama kali yang saya lakukan dan operasi yang enteng-enteng." 


Misalnya operasi agak berat terus ada gelombang bagaimana? 


"Itu makin lama makin banyak pengalaman makin pede, intuisinya jalan."

 

Semua ini biayanya tidak kecil, Anda sudah menjual rumah. Bagaimana? 


"Jual rumah bukan penyelesaian persoalan. Jual rumah lalu memulai langkah pertama, itu adalah cara untuk menumbuhkan keseriusan saya. Saya tidak tahu saya bukan orang ekonomi tapi kalau menurut pendapat saya ini adalah cara marketing kami, cara kami mengubah pandangan orang."

 

Untuk sekali operasional butuh berapa banyak?


"Tentu tergantung jaraknya. Sebagai gambaran untuk 1 mil perjalanan kami, kami membutuhkan 3-4 liter solar dan kami beli solar harus harga pasaran bukan subsidi. Kami tidak mendapatkan keistimewaan untuk membeli solar dengan harga subsidi, makin jauh kami berlayar makin susah mendapatkan solar makin mahal solarnya. Kami membutuhkan berton-ton, sekali keluar kami beli 1.000 liter, kalau 1 liter Rp 13.500 sampai Rp 15.000 itu sudah berapa puluh juta."

 

Itu bisa digunakan untuk membeli obat ya? 


"Betul. Malah komponen untuk membeli obat dibandingkan dengan ongkos yang dikeluarkan untuk bahan bakar minyak saja itu nilainya bisa diabaikan nilai pembelian obat itu. Saya berharap agar pada kami bisa diberikan pertama keistimewaan untuk mendapatkan bahan bakar minyak dengan harga subsidi, kedua terus terang kami mengharapkan uluran tangan dari banyak donatur. Karena banyak orang ingin membantu saudara-saudara kita terutama di daerah-daerah terpencil itu tapi tidak bisa ke sana."

 

Apakah konsep Rumah Sakit Apung ini bisa dibuat lebih masif kalau melihat Indonesia yang punya ribuan pulau? 


"Saya memberi contoh, India sedang menggalakkan pembangunan jalan tol. Setiap hari mereka targetkan 20 kilometer jalan tol, jadi dalam setahun mereka mempunyai target membangun 7.200 kilometer jalan tol. Mereka  membangun untuk menghubungkan satu daerah ke daerah yang lain, kita sudah punya jalan tol kok antara satu pulau dengan pulau yang lainnya, jalan tol kita besar-besar. Yang mesti kita lakukan sekarang adalah mencari kendaraannya, lalu membuat apa yang kita inginkan di atasnya. Ini yang dinamakan mobile hospital, mobile hospital itu di Amerika Serikat pun ada dan ketika perang dunia kedua mereka membikin itu. Jadi ini adalalah rumah sakit bergerak dan kalau kami membuat sebuah mobile hospital dalam bentuk Rumah Sakit Apung ini idenya ditiru dari rumah sakit apung yang dipunya angkatan bersenjata negara-negara yang punya Angkatan Laut."

 

Jadi daripada susah infrastrukturnya daerah jadi membuat ini? 


"Kita jangan mengharapkan yang terlalu dari pemerintah. Tidak mungkin pemerintah membikin di setiap tempat sebuah rumah sakit, pertama. Kedua dari mana orang-orangnya yang akan berada di situ dan ketiga karena daerah-daerah itu orangnya tidak sepadat seperti di Pulau Jawa mereka juga tidak membutuhkan rumah sakit itu setiap hari. Jadi kalau kita bisa membuat satu planning berapa lama sekali kita singgahi pulau yang mana itu setidaknya merupakan salah satu solusi yang tepat untuk saat ini. Ini adalah rangsangan ini loh contohnya, virus kegilaan ini harus ditularkan."

 

Barangkali Kementerian Kesehatan bisa melirik kesitu ya?


"Kami sudah dilirik Kementerian Kesehatan."

 

Hasilnya?


"Kami sudah kemana-mana. Kami sudah ke Komisi IX, Kementerian Kesehatan, ketemu dengan Menkokesra, Pak Dahlan Iskan semuanya menyambut baik ide ini."

 

Tapi belum terwujud karena apa? 


"Belum mewujudkan dalam bentuk membuat rumah sakit apung lainnya. Saya sangat menunggu bahwa kalau ini dianggap baik marilah bukan hanya dari pemerintah tapi juga dari pihak swasta, ayolah buat karena ini mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi rakyat kita yang masih kekurangan." 


Anda menghabiskan waktu begitu banyak untuk hal-hal seperti ini, sebenarnya waktu di Jerman banyak tawaran ya?


"Kalau di Jerman saya mulai dari nol, dari hari pertama kuliah di sana. Kalau di Jerman memang saya ditahan oleh guru saya untuk tidak pulang tapi ya aku cinta Indonesia, aku bangga jadi Indonesia."

 

Apa yang ingin Anda capai selanjutnya atau sudah beradai di puncak saat ini?


"Kalau Anda mengatakan di usia sekian saya tidak pernah merasa tua kok. Ada satu kisah legenda Tiongkok, ada seorang petani yang tinggal di belakang sebuah bukit, untuk mencapai tempat kerjanya dia harus selalu mendaki bukit itu. Ini menyusahkan dia mulai memindahkan bukit itu, lalu orang-orang menertawakan dia dan dicap gila pula. Dia menjawab kalau saya tekun melakukannya, kalau saya belum berhasil generasi berikutnya suatu saat akan berhasil memindahkan bukit ini. Itulah yang harus kita lakukan."


Kalau tadi Anda sempat bilang ke saya mulai bekerja jam 9 pagi sampai selesai jam 12 malam. Untuk bisa memiliki energi sepanjang itu makan apa? 


"Saya sudah 26 tahun sakit diabetes. Tapi saya punya obat satu Jamu Jarak (Jaga Mulut Jangan Rakus), gula saya terkontrol dalam batas-batas toleransi sebagai seorang pasien penyakit gula. Orang selalu mengatakan kalau berpenyakit gula darah tinggi akan lemas, tidak kuat, begini begitu ini tidak. Sebetulnya sudah keluar dari awal cerita bincang-bincang kita tadi, kecintaan akan pekerjaan yang dimotivasi oleh kasih kepada sesama manusia dan harapan riil kehidupan mendatang saya yakin saya hidup di sini sementara untuk dapat hidup yang jauh lebih baik dan kekal di kemudian hari."    

 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik