Zero Dark Thirty: Susahnya Menangkap Osama bin Laden

Siapa tak kenal pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden, gembong teroris yang menjadi buruan dunia, bahkan membuat Amerika Serikat terobsesi untuk menangkapnya.

BERITA

Senin, 18 Feb 2013 16:30 WIB

Author

Suryawijayanti

Zero Dark Thirty: Susahnya Menangkap Osama bin Laden

Zero Dark Thirty, film, Osama bin Laden

KBR68H- Siapa tak kenal pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden, gembong teroris yang menjadi buruan dunia, bahkan membuat Amerika Serikat terobsesi untuk menangkapnya. Ketika banyak orang menyangsikan keberadaan Osama, tiba-tiba Osama dikabarkan  tewas di persembunyian. Presiden Amerika Serikat, Barack Obama mengumumkan langsung kabar tersebut.

Rasa penasaran orang atas tertangkapnya Osama menjadi hal yang ditangkap oleh sutradara Kathryn Bigelow untuk menyajikannya lewat sebuah film yang diberi judul Zero Dark Thirty. Bigelow kembali menggandeng penulis skenario, Mark Boal untuk menggarap film ini. 

Duo yang sudah terbukti bersinar saat berhasil membawa pulang Oscar untuk film bom Irak berjudul “The Hurt Locker". Sebagai bekas wartawan Boal menggunakan keahliannya untuk menggali setiap informasi dan fakta yang ingin ditampilkan di film. Wawancara dilakukan dengan petugas CIA, perwira militer, dan pejabat Gedung Putih. 

Zero Dark Thirty merujuk pada operasi 30 menit lewat tengah malam oleh tim 6 tentara Angkatan Laut AS yang berhasil membunuh Osama di tempat persembunyiannya di Abottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011 lalu.  

Film ini berusaha meyakinkan penontonnya bahwa ini "didasarkan pada kejadian nyata."  Maka film ini diawali peristiwa 11 September 2001 yang menjadi alasan utama kenapa Osama harus ditemukan. Tanpa gambar, hanya layar hitam, kita disodori rekaman-rekaman dari para korban serangan  al-Qaeda pada World Trade Center. Seorang penelepon menggambarkan api menyebar di sekelilingnya dan  memohon diselamatkan. Cukup untuk membawa kita ke peristiwa serangan teror yang mengerikan itu.

Film ini fokus pada sosok Maya, agen muda CIA yang memimpi perburuan Osama dan diperankan oleh Jessica Chastain. Bermain dengan apik, Chastain berhasil memerankan Maya yang menjadi pusat dari film ini.

Walaupun nyawa hampir melayang, akibat pengeboman di Hotel JW Marriot Islamabad pada 2008 dan berondongan peluru kepada dirinya, Maya tetap tak mundur.  Apalagi ketika teman dekatnya turut tewas di Markas Chapman akibat bom bunuh diri, justru membuat Maya semakin terobsesi untuk membongkar keberadaaan Osama. Abu Ahmed yang diduga menjadi kurir Osama bin Laden adalah kunci yang harus dipecahkan oleh Maya.

Memburu informasi, Maya melintasi perbatasan internasional menggunakan interogasi, penyiksaan dan bahkan suap Lamborghini. Meskipun akhirnya keberadaan Ahmed terlacak, namun Maya harus berjuang untuk meyakinkan para petinggi dan Gedung Putih yang meragukan analisanya. Hingga pada akhirnya,  pada 2 Mei 2011, tiga puluh menit lewat tengah malam, operasi penyergapan Osama bin Laden diterjunkan.

Sejak rilis pada bulan Desember dan ditayangkan pada 11 Januari, film ini telah memancing reaksi pro dan kontra.  Film ini sudah diganjar berbagai penghargaan, termasuk Golden Globe Awards dan dinominasikan dalam lima kategori Piala Oscar 2013 yang akan diumumkan 24 Februari mendatang.

Namun, pada saat yang sama, para kritikus termasuk tiga senator Amerika Serikat mengecam film ini. Mereka menilai film sangat berlebihan dalam menyajikan adegan penyiksaan dalam teknik interogasi CIA.Para senator  mengatakan film ini berpotensi membentuk opini publik Amerika dengan cara yang mengganggu dan menyesatkan.

"Film ini menciptakan kesan yang kuat bahwa penyiksaan adalah kunci untuk menemukan Bin Laden," tulis Michael Morell,  Direktur CIA.

Penyiksaan yang akan membuat penonton menahan nafas, bahkan ketika masih memasuki babak awal film. Seorang tahanan bernama Ammar yang babak belur ketika diinterogasi. Ammar adalah tahanan Al-Qaeda yang dikaitkan dengan OsamaDengan wajah bengkak, Ammar disiksa dengan digantung di tali, musik keras yang memekakkan telinga hingga ditelanjangi. Tak ketinggalan teknik interogasi Water Boarding, dimana tawanan diikat kaki dan tangannya sehingga tidak dapat bergerak sama sekali. Dia kemudian dibaringkan dan matanya  ditutup dengan kain gelap. Selanjutnya air dituangkan ke wajah tahanan tersebut. 

Bagi Anda yang suka dengan film berbau investigasi, tidak akan mempersoalkan durasi yang cukup panjang untuk film ini. Meskipun bukan film dokumentasi, namun sedikit banyak kita mendapat gambaran begitu rumit dan licinnya penangkapan Osama bin Laden. Selama dua setengah jam, Kathryn Bigelow berhasil memaparkan dunia intilijen yang penuh intrik. Dan setiap informasi begitu berharga untuk mengurai jaringan terorisme. 

Di tengah kontroversi yang mengiringinya, kita menunggu apakah  film besutan Kathryn Bigelow ini akan merajai piala Oscar ataukah pulang dengan tangan hampa. Namun, lima nominasi Oscar cukup untuk menjadikan film ini layak untuk ditonton.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Travel Advisory Amerika Jadi Refleksi?

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11