GeNose, Upaya Murah Menyisir Virus Korona

"Kita akan dorong semua public area juga pakai ini. Karena ini sudah dirilis oleh Genose, oleh Kementerian Kesehatan. "

BERITA | NASIONAL | RAGAM

Senin, 25 Jan 2021 14:38 WIB

Author

Astri Septiani

GeNose, Upaya Murah Menyisir Virus Korona

Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menhub Budi Karya Sumadi usai mencoba GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (23/1). (Antara/Risyal)

KBR, Jakarta-   Pemerintah berencana mulai menggunakan alat deteksi penularan COVID-19 GeNose buatan UGM di tempat publik. Alat ini diharapkan bisa meningkatkan upaya skrining deteksi virus korona di masyarakat. 

Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 Nasional yang juga Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Panjaitan pada Sabtu (23/01) mendatangi Stasiun Pasar Senen Jakarta. Ia datang bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk mencoba GeNose, alat deteksi virus korona buatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Luhut mendorong penggunaan alat ini diperluas di area publik. Sebab Genose dinyatakan unggul dibanding tes cepat lain, karena akurasinya tinggi dan harganya pun relatif murah.

"Kita akan dorong semua public area juga pakai ini. Karena ini sudah dirilis oleh Genose, oleh Kementerian Kesehatan. Dan ini yang pertama di dunia, juga yang sudah mendapat Emergency Use Authorization (EUA). Jadi saya pikir kita harus bangga buatan Indonesia. Sekali lagi, akurasinya ini di atas 90 persen dan akan makin akurat sejumlah banyak yang dites karena mesinnya akan makin pintar. Dan yang lebih penting lagi, ini bukan hanya untuk Covid saja. Nanti akan bisa dikembangkan untuk TBC, untuk Kanker Paru, dan sebagainya," ujar Luhut.

Luhut mengatakan rencananya alat deteksi COVID-19 GeNose buatan UGM itu akan digunakan di stasiun-stasiun kereta api mulai awal Februari mendatang. Setelah itu, GeNose juga dipertimbangkan untuk digunakan di bandar udara.

GeNose merupakan alat deteksi virus yang menggunakan sampel embusan napas. Napas seseorang disimpan di kantung udara, yang dihubungkan dengan alat GeNose. Genose mendeteksi virus lewat orofaring atau tenggorakan melalui hasil metabolisme VOC (volatile organic compound) melalui nafas. Alat ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.

Tim GeNose dari UGM Dian K. Nurputra menjelaskan pada penggunaannya, hasilnya akan akurat selama penggunaan alat deteksi tersebut dilakukan dengan benar.

"Dari hasilnya alhamdulillah kita bisa mendapatkan sensiitivitas antara 89 sampai 92persen. Kemudian spesifitasnya 95-96persen. Apabila orang melakukan pemeriksaan covid19 tanpa genose, positivity ratenya 24 persen apabila pake genose bisa terdeteksi lebih tinggi lagi sampai 87 persen," kata Dian saat presentasi di depan Menristek, Wamenkes, Kepala BNPB dan Kepala KSP pada acara Konferens Pers Genose, Senin (28/12/20).

UGM menargetkan bisa memproduksi 10 ribu unit alat deteksi GeNose itu setiap bulannya. Tim GeNose juga akan memberikan pelatihan penggunaan alat itu.

"Penggunaan genose apakah ada pelatihan khusus? Ya betul. Memang untuk pemakaiannya akan ada. Harga 62 juta itu termasuk dalam tutorial atau pelatihan khusus. Siapapun yang memakai bisa asal dilatih khusus. Untuk diagnosis tidak perlu khawatir nanti akan dilakukan oleh mesin itu sendiri. Jadi yang terpenting pelatihan untuk mengoperasikan mesin dengan baik sehingga bisa keluar diagnosis atau interpretasi sinyal yang baik," tambah Dian.

Alat deteksi virus COVID-19, GeNose buatan UGM ini sudah mendapat izin edar alat kesehatan dari Kementerian Kesehatan. Meski begitu, Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengingatkan, hasil dari Genose tersebut hanyalah sebagai pendeteksi awal virus. Maka untuk pembuktiannya apakah seseorang terkena Covid-19 tetap harus dilakukan melalui PCR test.

“Walaupun surat izin edarnya sudah kami keluarkan terhadap GeNose, tetapi standing position yang harus ditempatkan secara legal aspek dan legal medical adalah sebagai screening. Sehingga itu diperlukan Komplementari jadi apapun hasilnya maka harus ada  complimentary test, yang menjawab hasil-hasil yang mungkin ada. Semakin banyak Complementary tes dan semakin banyak data yang akan dihasilkan maka tentu artifisial intelijen datanya semakin baik.” Ujar Dante, acara Konferens Pers Genose, Senin (28/12/20).


Editor: Rony Sitanggang


(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan  3M, yakni;  Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia

Pahlawan Gambut

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10