Sasar Usia Muda, Pemerintah Diminta Larang Rokok Elektronik

"ASEAN Singapura dan Thailand itu sudah melarang e-cigarette, jadi kita harapkan Pak Jokowi dengan fokus kepada pembangunan SDM juga berani melarang e-cigarette."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 16 Jan 2020 08:21 WIB

Author

Resky Novianto

Sasar Usia Muda, Pemerintah Diminta Larang Rokok Elektronik

Ilustrasi: Berbagai jenis rokok elektronik. (Foto: Wikimedia Commons)

KBR, Jakarta-   Pemerintah diminta melarang peredaran rokok elektrik di Indonesia, pascapelarangan di Singapura dan Thailand. Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia (UI), Abdillah Ahsan mengatakan, rokok elektrik tidak menguntungkan,  lantaran dinilai berbahaya bagi kesehatan manusia dan tidak terlalu berdampak bagi ekonomi tanah air.

Kata dia, Presiden Joko Widodo mesti mempertimbangkan larangan rokok elektrik agar tidak memengaruhi keberlanjutan sumber daya manusia (SDM) dalam negeri sehingga tetap unggul.

"Growth paling tinggi ya di Asia, di Indonesia ini. Jadi daripada melegalkan dan mengawasi susah, dan banyak negara yang sudah melarangnya 40 negara melarangnya. di ASEAN Singapura dan Thailand itu sudah melarang e-cigarette, jadi kita harapkan Pak Jokowi dengan fokus kepada pembangunan SDM juga berani melarang e-cigarette. Kita tidak usah bicara dampak ekonominya, tidak banyak yang terlibat di dalamnya," ucap Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia (UI), Abdillah Ahsan saat Media Briefing di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2020).

Abdillah Ahsan mengatakan perlindungan pemerintah terhadap anak-anak dari paparan penyebaran rokok elektrik harus menjadi fokus utama. Selain itu, kata Abdillah, tren penggunaan rokok elektrik juga diperparah dengan peredaran yang bebas di masyarakat.

Baca Juga: Waspada Narkoba, BNN Tolak Peredaran Rokok Elektrik 

Ia berharap, pemerintah  bisa segera bertindak menyelesaikan permasalahan rokok elektrik yang kadung beredar di tanah air.

"Rokok elektrik menarget Asia, karena 60 persen perokok konvensional itu ada di Asia. Indonesia 65 persen laki-laki merokok, sehingga mereka sudah biasa dengan budaya merokok. Mereka lebih bisa menerima  produk rokok elektrik. Jadi kami meminta agar pemerintah tidak hanya Kementerian Kesehatan, itu lebih tegas  dalam melindungi masyarakat Indonesia. Kami minta kepada Presiden, untuk melindungi masyarakat Indonesia terutama anak-anak, karena terus terang ini memang sedang tren," ujar Abdillah.


Sebelumnya sejumlah negara ASEAN melarang peredaran rokok elektronik di antaranya Thailand dan Singapura. Larangan diberlakukan karena rokok elektronik menyasar pengguna usia muda. Di Singapura misalnya, warga berusia di bawah 21 tahun dilarang merokok atau membeli rokok. 

Penyakit Degeneratif

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menyatakan riset menunjukkan rokok elektrik mengancam kesehatan degeneratif anak. Ketua PAPDI, Sally Aman Nasution mengatakan, Penyakit degeneratif adalah kondisi kesehatan yang membuat organ atau jaringan   menurun.

Ia menyebut, dampak rokok elektrik membuat  perubahan pada sel-sel tubuh yang akhirnya memengaruhi fungsi organ secara menyeluruh. 

"Rokok (elektrik) ini pengaruhnya terhadap sistem imun seseorang dan ini akan mengakibatkan kerusakan salah satunya dinding pembuluh darah yang mengakibatkan penyakit-penyakit degeneratif, yang harusnya muncul di  usia 50-60. Tapi, karena paparan tersebut sudah mulai dari usia yang sangat muda, karena kita tahu rokok elektrik itu menjadi seperti tren di kalangan anak muda, ini sebenarnya pesannya," ucap Sally Aman di Acara Media Briefing Soal Rokok Elektrik di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2020).

Sally Aman Nasution mengungkapkan bahwa selain penyakit degeneratif, rokok elektrik juga merupakan salah satu penyebab utama munculnya penyakit kanker. Rokok elektrik, kata Sally, menyerang sistem imun tubuh manusia, terutama pada anak-anak yang paling rentan terpapar.

Kata dia, rokok elektrik perlu diwaspadai dan dijauhkan dari anak-anak, agar efek buruknya tidak mengancam kesehatan sejak dini.

"Dampak jangka pendek dan panjang yang perlu kita ingatkan pada generasi muda kita semua. selain kanker paru, kanker darah, dan beberapa kanker lain ternyata dikatakan berkontribusi juga peran dari rokok elektrik. Ini yang mungkin beberapa waktu belakangan cukup bombastis, jadi penyakit-penyakit yang mengenai sistemik jadi organ-organ yang banyak terlibat di tubuh manusia," ujar Sally.


Editor: Rony Sitanggang


 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Upaya Tangkal Resesi ditengah Perlambatan Ekonomi

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12