Banjir Awal 2020, Arsitek Ingatkan Jakarta Minim Daerah Resapan Air

"(Ruang Terbuka Hijau) Jakarta hanya 9,8 persen, padahal idealnya 30 persen," kata Nirwono Joga.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 02 Jan 2020 10:50 WIB

Author

Lea Citra, Adi Ahdiat

Banjir Awal 2020, Arsitek Ingatkan Jakarta Minim Daerah Resapan Air

Banjir di kawasan Jl. S. Parman, Jakarta Barat, Rabu (1/1/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Nirwono Joga, arsitek lansekap dari Universitas Trisakti, menegaskan bencana banjir yang terjadi tiap tahun di Jakarta dan sekitarnya terkait dengan masalah tata kota.

Masalah ini kembali diangkat setelah Jakarta dan sejumlah kota di sekitarnya dilanda banjir pada malam tahun baru, Rabu (1/1/2020).

Menurut Nirwono, pembangunan di kawasan Jakarta, Banten, Tangerang, dan Bekasi banyak menyalahi prinsip tata ruang dan mengabaikan pentingnya daerah resapan air.

"Bekasi umpamanya, Taman Galaksi dan sebagainya, pemukiman di Bekasi itu dulu bekas rawa-rawa. Sehingga tidak heran kalau airnya kembali lagi menggenangi kawasan, karena memang merupakan daerah resapan air, diperburuk dengan saluran drainase yang tidak optimal," kata Nirwono kepada KBR, Rabu (1/1/2020).

Untuk mencegah banjir, Nirwono menegaskan pemerintah pusat dan daerah harus melakukan sejumlah langkah perbaikan saluran air, sekaligus penambahan Ruang Terbuka Hijau.

"Satu, normalkan bantaran kali, itu kan untuk meningkatkan kapasitas sungai. Kedua, melakukan revitalisasi situ, danau. Yang ketiga, saluran drainase, kalau Jakarta itu hanya 33 persen (drainase) yang berfungsi optimal," kata Nirwono.

"Yang keempat yaitu daerah resapan air, Ruang Terbuka Hijau. Ada taman, hutan kota, jalur hijau, itu tuh bagian dari Ruang Terbuka Hijau. Secara keseluruhan ini yang menyusut. (Ruang Terbuka Hijau) Jakarta hanya 9,8 persen, padahal idealnya 30 persen," tukasnya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Menunggu Sanksi Aparatur Tak Netral di Pilkada