'Kebun Kita', Taman Bermain yang Manfaatkan Energi Surya

Seluruh energi di taman bermain ini menggunakan energi matahari

Pak Ogeh pemilik Kebun Kita sedang membersihkan panel surya Jumat (29/11). (Foto: Anindya Putri)

Kamis, 02 Januari 2020

Kebun Kita, bukan tempat bermain biasa. Di tempat bermain berbasis alam ini seluruh energi yang dipakai memanfaatkan panel surya. Sugeng Sedulur alias Pak Ogeh adalah orang dibalik Kebun Kita. Bagaimana ia membangun taman bermain ini? Simak kisah yang disusun Jurnalis KBR, Anindiya  

- Taman Bermain yang Manfaatkan Energi Surya
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Wonosobo- Suasana sejuk langsung terasa saat memasuki taman bermain “Kebun Kita” yang terletak di Dukuh Sruni, Dusun Jaraksari, Wonosobo, Jawa Tengah. Taman bermain yang terletak di areal perbukitan ini didirikan pada 2013 silam. Dengan luas 2.000 meter persegi, taman ini punya banyak fasilitas seperti lokasi berkebun, beternak, flying fox, jembatan tali, serta arena berkemah.

Bedanya, seluruh energi di taman bermain ini menggunakan energi matahari.

Pendiri Kebun Kita, Sugeng Sedulur yang kerap disapa Pak Ogeh bercerita, pemanfaatan energi surya melalui panel ini dipilih untuk menciptakan ruang bermain dan juga tempat tinggal yang ramah dengan lingkungan.

"Kita kekurangan ruang bermain yang ramah lingkungan. Waktu itu sekeliling masih kebun-kebun,sawah-sawah dan sungai mau mengajukan listrik ke PLN tapi memikirkan harus bayar bulanan susah, akhirnya kemudian diputuskan pakai panel surya,” kata Ogeh.

Bermodalkan 2 lempeng pembangkit listrik tenaga surya dengan daya 100 watt,  Kebun Kita dibangun. Energi yang ditampung ke panel,dikonversi dan disalurkan ke inverter yang mengubah aliran listrik. Energi dari matahari ini mampu menerangi kebun dan tempat tinggal Pak Ogeh.

"Kalau sekarang pakai 16 lampu, masing-masing rata-rata 9 watt sampai 20 watt kalau musim kemarau panasnya cukup sampai pagi bisa nyala tapi kalau pas musim penghujan itu lampau jam 11 jam 12 udah harus dikurangi," jelasnya.
 

Kita kekurangan ruang bermain yang ramah lingkungan

- Pak Ogeh - Pendiri Kebun Kita

Menuju 'Kebun Kita' hanya dibutuhkan waktu 15 menit dari pusat Kabupaten Wonosobo. Setiap pengunjung yang datang, akan dikenalkan dengan energi surya yang dipakai sebagai listrik utama di Kebun Ini.

"Saat pengunjung datang kami beri tahu kalau listrik disini pakai panel surya sehingga terbatas. Kami juga perlihatkan bentuk panelnya seperti apa, sistemnya sampai nyambungnya ke accu terus keluar jadi lampu seperti apa mereka juga tau ketika digunakan untuk alat elektronik yang lain," Kata Ogeh.

Pemanfaatan listrik yang ditampung oleh solar panel di Kebun Kita biasa digunakan untuk saat out bond, menyiram tanam, memasak dan beragam kegiatan yang membutuhkan energi listrik.

"Kita juga memanfaatkan panel untuk pompa ban untuk river tubing.  Kita juga ada pompa air kecil 12 volt juga yang kita gunakan untuk siram tanaman di saat musim kemarau kemudian ada kulkas dan sebagainya terus juga untuk mesin serut listrik yang kapasitas wattnya itu ada 480 watt,” ujarnya.

Pemanfaatan energi baru terbarukan dari sinar matahari di Kebun Kita ini, menarik perhatian banyak pengunjung tak terkecuali warga dari desa lain. Epik Cahyo yang tinggal 3 kilometer dari 'Kebun Kita' mengaku takjub dan bertanya-bertanya dari mana listrik yang menerangi Taman Bermain itu.

"Udah lama tahu disitu tidak ada listriknya, tapi sekarang ada listriknya karena dipasang panel surya. Kalau saja memungkinkan saya juga tertarik," Jelas Epik. 

Pak Ogeh punya harapan Pemerintah bisa ikut andil dalam pengadaan solar panel agar masyarakat tidak bergantung pada energi fosil yang memiliki negatif pada lingkungan.

“Kalau saja pemerintah bisa subsidi panel itu luar biasa, energi terbarukan bisa selalu ada masyarakat lebih mandiri untuk kehidupan mereka sendiri .Dari panel aja masyarakat kelas bawah bisa beli bisa masang bisa ngirit paling gak untuk lampu," kata Ogeh.

Pak Ogeh juga memiliki cita-cita memaksimalkan kekayaan alam yang ada di sekitar “Kebun Kita” seperti sungai yang berada tepat di depan rumah. Ia ingin membangun kincir air untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas daya yang lebih besar.

“Aku punya cita-cita ingin bikin kincir untuk alternatif suplai listrik  yang lain inginnya gitu cuma kebentur modal dan bukan orang teknik ngitung ini debit air sekian dan muternya kincir harus seberapa itu belum keteu formulanya," harap Ogeh.
 

Sementara itu, Kepala Bidang Ketenagalistrikan, Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Imam Nugraha mengungkapkan target bauran energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) mencapai 17 persen pada 2025.

Sesuai arahan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) pada 2025 mencapai 23 persen untuk Indonesia dan Jawa Tengah ditargetkan mampu menyumbang 17 persen.

"Nah yang sekarang lagi kita dorong kembangkan adalah energi surya karena di khatulistiwa energi surya ini sangat memadai bisa sampai 4 kwh per meter persegi perhari semua wilayah hampir bisa dijadikan energi surya berupa PLTS. Nah PLTS ini yang kita kembangkan yang di rooftop itu diatas gedung itu dengan kapasitas besar dan tidak makan tempat dibawahnya,’ jelas Imam.

Untuk mencapai target itu, Pemprov Jateng telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2018 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED).