Teror pada Pemimpin KPK, Ini Perintah Jokowi untuk Kapolri Tito Karnavian

"Menindak dan menyelesaikan dengan tuntas, karena menyangkut intimidasi kepada aparat hukum kita. Saya rasa tidak ada toleransi untuk itu."

, BERITA , NASIONAL

Kamis, 10 Jan 2019 12:50 WIB

Author

Dian, Heru, Astrid, Ryan

Teror pada Pemimpin KPK, Ini Perintah Jokowi untuk Kapolri Tito Karnavian

Dinding pembatas rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif yang menghitam pasca serangan bom molotov, Rabu (09/01/19). (Foto: KBR/Heru H.)

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo memerintahkan  Kapolri Tito Karnavian mengusut dan menangkap pelaku teror di kediaman dua pemimppin KPK. Jokowi memastikan,  negara tak akan menoleransi tindakan  teror pada penegak hukum, termasuk pimpinan KPK.


"Kemarin siang sudah saya perintahkan langsung ke Kapolri untuk menindak dan menyelesaikan dengan tuntas, karena menyangkut intimidasi kepada aparat hukum kita. Saya rasa tidak ada toleransi untuk itu. Kejar dan cari pelakunya," kata Jokowi di gudang Bulog, Kamis (10/01/2019).

Jokowi meyakini, upaya pemberantasan korupsi di Indonesia tidak akan kendor karena teror. 

Presiden mengatakan, negara telah meningkatkan penjagaan untuk penyidik dan pemimpin KPK. Sehingga saat pimpinan KPK masih mengalami teror, kata Jokowi, polisi harus segera mengungkap kejahatan tersebut.

Kesaksian warga di Jalan Kalibata Selatan, pada lepas tengah malam  mendengar suara seperti kaca yang pecah. Tak berapa lama terdengar suara motor tancap gas berlari kencang.

Pada dini hari itu rumah wakil ketua KPK Laode M Syarif menjadi target serangan teror bom molotov. Pagi harinya baru diketahui di pojok dinding pembatas dengan rumah tetangga masih tampak terlihat jelas temboknya menghitam karena jelaga bekas terbakar.   

Menurut Ketua RT setempat  Jatmiko,  di wilayahnya sudah ada penjagaan dengan pos keamanan. Jalan di depn pos ini merupakan satu satunya akses di bagian rumah Laode yang menjadi lokasi penyerangan. Sayang pintu masuk ini belum berportal.

"Saya belum ketemu penjaga saya, belum ada laporan orang yg mencurigakan. Dari RT dari RW belum ada minta informasi ke saya," tutupnya.

Teror juga singgah ke rumah Ketua KPK Agus Rahardja. Benda mencurigakan diletakkan di halaman rumahnya di Bekasi.

Tim penyidik Polda Metro Jaya telah memeriksa enam orang saksi terkait kasus dugaan teror bom molotov di rumah pimpinan KPK Laode Muhammad Syarif. Juru bicara Kepolisian Jakarta Argo Yuwono mengatakan, enam orang saksi yang diperiksa termasuk Laode M Syarif.

"Pokoknya semua yg mengetahui kami periksa. Ada yg dicurigai? Kita tunggu saja,  kita masih  bekerja," imbuhnya.

Argo menambahkan, kepolisian sudah mengambil rekaman kamera pemantau yang ada di lokasi.

Pascateror terhadap kedua pemimpinnya, lembaga antirasuah  menurunkan tim guna berkoordinasi dengan kepolisian. Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan sedang menunggu hasil dari proses penegakkan hukum yang sedang ditangani kepolisian.

"Yang agak berbeda hari ini tentu ada koordinasi yang kami lakukan dengan pihak Polri terkait dengan peristiwa tadi pagi. Pimpinan dan tim yang ditugaskan juga sudah ke lokasi untuk melakukan koordinasi tersebut," ujar Febri di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Rabu (9/1/2019).

Febri menuturkan, lembaganya belum mengetahui apakah teror yang dilakukan beririsan dengan penanganan perkara yang sedang ditangani atau tidak.  

Pendapat berbeda disampaikan Wadah Pegawai KPK. Ketua Wadah Yudi Purnomo Harahap mengatakan serangan teror  untuk melemahkan dan menghalangi upaya pemberantasan korupsi.   

"Ini merupakan upaya untuk melemahkan pemberantasan korupsi, dan sekali lagi KPK kembali diteror oleh para pelaku yang menurut kami merupakan para pengecut. Ini kami anggap merupakan upaya koruptor yang melakukan serangan balik kepada KPK dari para koruptor itu yang pertama. Kemudian yang kedua, ini merupakan kami lihat kelanjutan daripada teror pak novel yang belum terungkap. Dan kini ada lagi pelaku-pelaku yang meneror terhadap pimpinan KPK, dan ini merupakan upaya untuk membuat pegawai KPK gentar untuk memberantas korupsi," kata Yudi saat dihubungi KBR, Rabu (9/1/2019).
 

Yudi berharap kasus ini cepat terungkap dan pihak kepolisian meringkus pelaku teror serta menelusuri motif dibalik serangan teror itu.

Desakan juga datang dari lembaga antikorupsi ICW.  Aktivis ICW, Donal Fariz mengatakan teror akan kembali terjadi apabila penegak hukum tak segera menemukan pelaku, seperti kasus penyiraman air keras kepada  penyidik KPK, Novel Baswedan.

"Untuk menghindari banyaknya spekulasi dan giringan ke arah politik. Butuh kerja cepat penegak hukum unruk membongkar kasus ini khususnya oleh kepolisian. Sehingga menghindari spekulasi politik, keamanan dalam negeri, sampai penegakan hukum dalam kasus ini,"  kata Donal di Kantor ICW (9/1/19).

Kerja cepat, itu kuncinya. Apalagi sudah hampir 2 tahun, kasus penyerangan penyidik senior KPK Novel Baswedan hingga nyaris buta, gagal diungkap kepolisian. 

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.