Istana: Jangan Sebut Penyerangan Novel sebagai Pelanggaran HAM Berat

Moeldoko mengakui, negara belum menyelesaikan kewajibannya mengusut pelaku penyerangan pada Novel. Namun, Moeldoko mengklaim polisi masih bekerja untuk menemukan pelaku kejahatan tersebut.

BERITA , NASIONAL

Jumat, 11 Jan 2019 14:19 WIB

Author

Dian Kurniati

Istana: Jangan Sebut Penyerangan Novel sebagai Pelanggaran HAM Berat

Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo menyambut Novel Baswedan yang akan mulai kembali bekerja setelah jalani perawatan kesehatan, Jumat (27/07/2018). Foto: Antara

KBR, Jakarta- Istana Kepresidenan menolak penyebutan kasus penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan sebagai kasus pelanggaran HAM berat. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko beralasan, sebutan pelanggaran HAM berat hanya untuk kasus kejahatan penyalahgunaan wewenang kepala negara yang melanggar HAM warga negaranya atau abuse of power. Sementara pada kasus penyerangan Novel, menurut Moeldoko, sama sekali tak melibatkan negara.

"Pelanggaran HAM berat itu terjadi apabila ada abuse of power, terus ada genocide tersistem. Enggak ada itu terjadi. Soal pelanggaran HAM pada Novel, tidak ada kaitannya dengan kebijakan negara. Abuse of power ada kebijakan negara di situ, melekat. Dalam konteks ini, konteks kriminal murni. Hanya, persoalannya siapa pelakunya, itu yang jadi persoalan, yang belum ditemukan," kata Moeldoko di kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (11/01/2019).

Baca juga: Bukan Teror Pertama yang Menyasar KPK

Moeldoko mengakui, negara belum menyelesaikan kewajibannya mengusut pelaku penyerangan pada Novel. Namun, Moeldoko mengklaim polisi masih bekerja untuk menemukan pelaku kejahatan tersebut. 

Moeldoko mengatakan, Jokowi tak khawatir jika isu Novel digunakan lawan politik untuk menyerangnya tentang isu HAM dan pemberantasan korupsi. Semisal saat  debat perdana pilpres 17 Januari nanti. 

Menurut Moeldoko, Jokowi telah menyiapkan daftar kebijakan tentang HAM maupun korupsi yang dibuat sepanjang empat tahun pemerintahannya. Semua itu akan disampaikan pada publik saat debat Pilpres 2019.

Kasus penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan terjadi pada April 2017 lalu. Novel yang kala itu pulang dari masjid di dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, disiram air keras oleh dua orang tak dikenal. 

Namun, hampir dua tahun kasus tersebut terjadi, polisi belum juga menemukan pelaku. Desakan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) hingga kini juga belum dilakukan. 

Editor: Sindu Dharmawan

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Kontras Surabaya Desak Polisi Tangkap Pelaku Rasisme di Asrama Mahasiswa Papua