Defisit Neraca Perdagangan Terbesar Sepanjang Sejarah, Ini Kata JK

BERITA , NASIONAL

Kamis, 17 Jan 2019 21:35 WIB

Author

Dian Kurniati

Defisit Neraca Perdagangan Terbesar Sepanjang Sejarah, Ini Kata JK

Ilustrasi neraca perdagangan Indonesia. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui besarnya defisit neraca perdagangan sepanjang 2018 disebabkan pertumbuhan ekspor yang jauh di bawah impor, terutama komoditas minyak dan gas (migas).

Bahkan, defisit neraca perdagangan sepanjang 2018 USD8,57 miliar menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, atau sejak dimulainya pencatatan neraca perdagangan pada 1975.

Menurut Jusuf Kalla, pemerintah memiliki pekerjaan besar untuk mendorong produksi migas, sekaligus mengurangi ketergantungan impor komoditas tersebut.

"Kita defisit cukup besar, maka karena itulah tidak ada cara lain. Ada dua hal yg menyebabkan ekonomi defisit, impor migas yang terlalu besar, kemudian juga ekspor kita naik juga, tapi tidak sebesar impor kita. Artinya adalah kita harus lebih meningkatkan kapasitas kita dalam bidang energi, dan mengurangi kapasitas kita untuk mengimpor hal-hal tersebut," kata JK di Hotel Mandarin Oriental, Kamis (17/01/2019).

JK mengakui, pemerintah sulit menekan impor karena menyangkut kebutuhan masyarakat. Namun, ia mengklaim pemerintah terus berusaha meningkatkan produksi migas, atau mencampurnya dengan minyak nabati menjadi biodiesel.
Strategi tersebut, lanjutnya, mampu mengurangi defisit perdagangan migas secara perlahan.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2018 mengalami defisit sebesar USD8,57 miliar.

Defisit migas senilai USD12,4 miliar dan surplus nonmigas USD4,8 miliar. Selain itu, nilai defisit yang besar juga pernah terjadi di 2013 senilai USD4,08 miliar dan di 2014 senilai USD2,2 miliar.

Baca juga:

 


Editor: Kurniati 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pansel Capim KPK Diminta Tak Loloskan Kandidat Bermasalah