Kapal Zahro Terbakar, KNKT: Palu Pemecah Kaca Tak Tersedia

"Ini hanya kapal satu-satunya yang seperti itu di Muara Angke, selebihnya kapal hanya dengan bahan kayu saja. Mereka tidak menggunakan AC. "

BERITA | NASIONAL

Senin, 02 Jan 2017 22:22 WIB

Author

Rio Tuasikal

Kapal Zahro Terbakar, KNKT: Palu Pemecah Kaca Tak Tersedia

Ilustrasi: Kapal Zahro Express sebelum terbakar. (Sumber: Redy Tour)


KBR, Jakarta- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan pendingin ruangan (AC) di kapal Zahro Expres menyebabkan jendela kapal ditutup sehingga tidak bisa jadi pintu keluar darurat. Ketua tim investigasi KNKT Aldrin Dalimunte menyatakan akhirnya para penumpang hanya bisa keluar dari 2 pintu di depan dan belakang.

Selain itu, dia juga tidak menemukan palu kecil untuk memecahkan kaca dalam keadaan darurat. Kata dia, Zahro merupakan satu-satunya kapal yang berpendingin udara.

"Ini hanya kapal satu-satunya yang seperti itu di Muara Angke, selebihnya kapal hanya dengan bahan kayu saja. Mereka tidak menggunakan AC. Otomatis untuk angin, mereka membuka jendela berukuran besar," ungkapnya kepada KBR, Senin (2/1/2016) malam.

"(Jendela ini) Yang masih memungkinkan untuk keluar masuk manusia. Sehingga kalau terjadi situasi darurat bukan saja dari pintu tapi dari jendela kanan kiri pun bisa keluar.  Sehingga dimungkinkan untuk lebih cepat menyelamatkan diri," tambahnya.

Aldrin menambahkan, desain kapal sebaiknya memiliki pintu keluar darurat.  Selain itu, kapal juga seharusnya menyampaikan prosedur keselamatan di awal keberangkatan, baik itu oleh awak kapal, maupun lewat video dan pamflet.

"Nggak jauh berbeda aturan dasarnya dengan penerbangan," kata dia lagi.

Kapal Sekolah
Dishub DKI Jakarta berencana menggunakan kapal sekolah di Kepulauan Seribu untuk angkutan wisatawan dari Muara Angke, Jakarta. Wakil Kepala Dishub Sigit Wijayanto mengatakan kapal ini bisa mengurangi beban angkutan yang selama ini menggunakan kapal tradisional. Dishub memiliki 3 unit kapal berkapasitas masing-masing 50 kursi.

"Kapal sekolah kapasitas 50 seat. Memang tadinya kita fokuskan untuk melayani warga Kepulauan yang anak-anaknya sekolah antar pulau," terangnya kepada KBR, Senin (2/1/2017).

"Nah apakah kapal ini kita lagi coba hitung supaya untuk Sabtu-Minggu mereka bisa digunakan sebagai angkutan tambahan," kata dia.

Namun kata Sigit, tidak berarti kapal tradisional tidak aman. Sebab kapal-kapal tradisional ini juga sudah dicek dan dilengkapi dengan sertifikat keamanan pelayaran. Saat ini sudah ada 44 kapal dengan standar demikian.

Dishub juga mendorong rekomendasi Rencana Induk Pelayaran dan Pelabuhan di Kepulauan Seribu bisa segera dilakukan. Dalam rencana itu, diatur bagaimana pembenahan fasilitas pelayaran di kepulauan itu.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12