Anda Masuk Angin? Perhatikan Hal Ini

Anda pernah masuk angin? Masuk angin istilah populer di Indonesia. Apakah ada angin yang masuk ke dalam tubuh, sehingga kita jadi masuk angin?

BERITA

Selasa, 27 Jan 2015 06:14 WIB

Author

Eka Fikriyah

Anda Masuk Angin? Perhatikan Hal Ini

Masuk Angin

KBR, Jakarta - Anda pernah masuk angin? Masuk angin istilah populer di Indonesia. Apakah ada angin yang masuk ke dalam tubuh,  sehingga kita jadi masuk angin?

Menurut  dr. Ika Fitriana, SpPD dari Perhimpunan Tenaga Profesi Kesehatan Muslim Indonesia (PROKAMI), masuk ingin itu hanya sekedar istilah. Kalau dicari padanan katanya di Kamus Besar Bahasa Indonesia, tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan definisi dari masuk angin.

"Masuk angin  adalah alarm atau kode dari tubuh saat hendak terkena penyakit, bisa berat bisa ringan. Semisal, jika kita mau flu atau terinfeksi virus, maka tubuh akan memberitahukan melalui rasa meriang, pegal-pegal, tidak enak badan dan lain-lain. Gejalanya cukup luas dan tidak spesifik. Biasanya itu terjadi karena tubuh kita terlambat makan atau  terkena air hujan atau kedinginan," jelas Dokter Ika saat berbincang dalam Program Klinik KBR, Selasa (27/1).

Ketika tanda-tanda itu datang, kata dia, artinya daya tahan tubuh melemah, jadi membutuhkan usaha  untuk melawan serangan dari luar. Namun, gejala-gejala tadi adalah proses alami atau normal  yang terjadi dalam tubuh kita karena  poduksi laktat, yaitu  metabolisme sisa dari otot yang berkontraksi.

Nah, kondisi lingkungan, terutama  musim pancaroba, menjadi salah satu faktor yang memudahkan  virus mudah menyebar dan menyerang daya tahan tubuh

Soal Kerokan


Untuk menghilangkan masuk angin, biasanya banyak orang yang melakukan kerokan. Menurut dokter Ika, kerokan boleh-boleh  saja dilakukan, asal yang melakukan kerokan adalah keluarga dekat agar bisa memberikan rasa nyaman.

"Yang ingin dicapai dari kerokan adalah relaksasi dari otot. Menurut penelitian, kerokan memang bisa mengurangi pegal karena tindakan ini  melancarkan peredaran darah di daerah otot. Jika kulit menjadi berwarna  merah, itu adalah tanda pelebaran pembuluh darah kapiler/tepi yang  menunjukan aliran darahnya semakin baik atau cukup," jelas Dokter Ika.

Ia menjelaskan, kerokan juga bisa meningkatkan endorfin, yaitu zat yang menimbulkan rasa nyaman dan nikmat, hingga tubuh menjadi rileks. Karena rasa  rileks itu, membuat kita jadi ingin beristirahat dan  tidur nyaman. Hal ini, secara tidak langsung  akan meningkatkan daya tahan tubuh .

Sementara, dari sisi kesehatan, menerapkan gaya hidup sehat dengan istirahat, tidur yang cukup, menjaga pola makan yang baik dan hindari stres, adalah upaya untuk memperbaki daya tahan tubuh .

Jika hal itu kita lakukan, menurut Dokter Ika, kita bisa sembuh sehat tanpa harus minum antibiotik. Apalagi, untuk Anda yang tingkat pekerjaannya berat, wajib menjaga daya tahan tubuh dengan melakukan hal tersebut.

Bagi yang ingin memberikan  pertolongan pertama pada orang yang masuk angin adalah  memberi makanan atau minuman yang hangat karena sesuai dengan suhu tubuh. Bisa pula  memberi obat anti nyeri seperti analgesic dan parasetamol, serta  mengkonsumsi vitamin dan istirahat yang cukup.

Namun, kalau gejala-gejala masuk angin tidak sembuh bahkan parah, seperti demam berat, dan muntah-muntah yang  hebat, maka harus segera dibawa ke dokter.

Masuk Angin dan Angin Duduk


Berbicara soal istilah "masuk angin", banyak masyarakat awam  yang mengganggap hal ini sama dengan istilah "angin duduk", yang biasanya menyebabkan kematian. Padahal, menurut dr. Ika, dua hal ini, jelas berbeda.  Jika gejala masuk angin sangat luas dan tidak spesifik, maka gejala angin duduk justru sangat spesifik.

"Jika terkena angin duduk, maka kita akan merasakan nyeri di belakang tulang dada yang rasanya seperti  ditimpa benda berat sampai tidak bisa bernafas. Dan rasa sakit itu menjalar ke lengan kiri dan ke dagu hingga menembus punggung. Jika sakit yang dirasakan sangat berat, itulah yang  menyebabkan kematian,” ujarnya.

Bagi anda  yang sudah berusia  di atas 50 tahun, sudah menopause, penderita hipertensi dan  penyakit gula, beresiko tinggi terkena penyakit ini.

Ia menambahkan, nyeri dada, bisa pertanda juga sebagai gejala jantung Koroner. Namun, untuk memastikannya, maka harus segera diperiksa ke dokter, agar tidak salah kaprah dan tidak telat.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Utang Negara Kian Meningkat

Kabar Baru Jam 7

Peran UMKM Pangan dalam Pemberdayaan Ekonomi Gambut

Kabar Baru Jam 8

Desakan Memberantas Intoleransi di Sekolah