Bagikan:

Mega Proyek Giant Sea Wall Belum Bisa Menahan Air dari Bogor ke Jakarta

KBR68H, Jakarta - Jakarta mempunyai berbagai macam cara untuk mengatasi banjir yang selalu datang tiap tahun. Mulai dari pembuatan sudetan atau jalur penghubung antar sungai, sehingga air bisa mendapatkan banyak tampungan.

BERITA

Kamis, 23 Jan 2014 17:26 WIB

Author

Doddy Rosadi

Mega Proyek Giant Sea Wall Belum Bisa Menahan Air dari Bogor ke Jakarta

giant sea wall, banjir, bogor, jakarta

KBR68H, Jakarta - Jakarta mempunyai berbagai macam cara untuk mengatasi banjir yang selalu datang tiap tahun. Mulai dari pembuatan sudetan atau jalur penghubung antar sungai, sehingga air bisa mendapatkan banyak tampungan. Lalu pengerukan waduk pluit dan beberapa waduk di Jakarta, Giant Sea Wall di utara Jakarta hingga Sudetan Ciliwung - Banjir Kanal Timur.

Sebenarnya, cara mana yang paling efektif untuk menyelsaikan masalah banjir di Jakarta? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Rumondang Nainggolan dengan Pakar Perubahan Iklim dan Geologi ITB, Armi susandi dalam program Sarapan Pagi.

Banyak sekali rencana dari Pemprov DKI Jakarta ada pengerukan sungai, membuat sumur resapan, pembuatan Ruang Terbuka Hujan, Terowongan Multiguna. Semuanya butuh waktu seperti pembebasan lahan dan sebagainya ini mana yang paling efektif?

Pada dasarnya infrastruktur yang dikembangkan sebagai upaya pengendalian banjir Jakarta adalah upaya yang paling memungkinkan untuk mengatasi banjir jangka panjang. Jadi menurut saya apapun rencananya itu baik daripada hanya sekadar sumur resapan, saya tidak terlalu yakin sumur resapan itu upaya yang paling vital. Tapi upaya yang langsung pada daerah sungai yang katakanlah meninggikan sungai itu sendiri, pinggir-pinggir terutama dan juga memperdalam itu jauh lebih efektif.

Tapi mau dialirkan kemana?

Jadi memang ada beberapa cara yang dikembangkan oleh negara-negara seperti halnya di Asia ataupun di Eropa. Saya melihat secara langsung mereka mencoba mengkondisikan aliran itu tetap mengalir dengan baik walaupun lebih tinggi dibandingkan dengan daratan dan sekitarnya. Tetapi kemudian kombinasi dengan teknologi seperti di Korea mereka menggunakan pompa-pompa besar untuk mempercepat mengeluarkan air yang di daratan ke laut. Ini yang barangkali kombinasi ini belum coba kita lakukan walaupun ada saat ini tetapi kapasitas teknologinya masih kurang. Kalau soal terowongan, terowongan sendiri menurut saya itu bagus tetapi persoalannya dimana kita pasang terowongan itu. Terowongan itu harus dipasang di semua wilayah Jakarta, kenapa demikian karena distribusi sudah hampir semua. Ini ibaratnya kalau ada 13 anak sungai yang masuk ke Jakarta tentunya 13 terowongan, sehingga biayanya akan sangat fantastis. Itu jauh lebih besar dibanding mengembangkan upaya-upaya struktural yang lain yang lebih murah. Jadi yang perlu dipahami adalah pertama kita mesti melihat kira-kira apa prediksi ke depan dimana hujan akan turun. Kalau dulu kita lihat daerah Barat jarang sekali terkena limpahan air, tetapi Jakarta Barat sekarang daerah banjir juga. Saya lihat ada perubahan curah hujan yang terjadi di Jakarta, kalau lihat dua minggu terakhir ini rupanya hampir semua wilayah Jakarta terkena banjir. Kalau kita lihat distribusi hujan dan pertemuan awannya itu semua Jakarta tertutup dengan awan, artinya semua daerah hujan. Terowongan dimana, saya melihat di negara lain katakanlah Malaysia saja ada terowongan itu tetapi saluran-salurannya besar sekali truk saja bisa masuk. Tetapi kalau kita coba terapkan terowongan seperti yang ada di Malaysia saya kira itu kondisinya beda, karena Malaysia daratan lebih tinggi dari lautan kita kebalikannya, apakah ini efektif jangan-jangan semua sedikit hujan sudah terendam.

Mengenai sumur resapan, dulu pernah ada kegiatan kampanye upaya pembuatan biopori di sekitar rumah. Apakah itu tidak efektif juga?

Kalau biopori saya bilang tidak efektif, terlalu kecil. Kalau sumur resapan itu masih mungkin.

Tapi kalau jumlahnya banyak misalnya 1 juta begitu?
 
Masih belum cukup, kombinasi harus dilakukan. Katakanlah sumur resapan setiap rumah ada satu atau dua, berarti kita butuh bukan 1 juta tapi kita butuh 19 juta. Karena tidak hanya di rumah tapi juga ada di fasilitas umum atau jalan dan sekitar bantaran sungai. Saya kira upaya ini harus masif tidak hanya dilakukan Pemprov DKI Jakarta tapi juga oleh masyarakat Jakarta. Ini menurut saya dilakukan sebaiknya dalam rentang waktu yang sangat singkat, karena biasanya setelah hujan kita lupa.

Beraksi lagi tahun depan?

Betul. Saya kira semua sangat hafal, kita lupa lagi tapi traumanya kita tidak pernah lupa. Tapi lupanya untuk hal ini bukan hanya kita masyarakat tapi juga pelaku kepentingan.

Mengenai megaproyek Giant Sea Wall menurut Anda bagaimana?

Saya sudah melihat simulasi Giant Sea Wall itu sangat luar biasa sekali bagusnya. Pertama adalah kalau kita lihat dari Giant Sea Wall itu dia dipastikan akan mampu mengatasi hanya limpahan air laut. Karena saya belum melihat bagaimana sistem masuknya air dari Bogor masuk ke Jakarta, itu belum saya lihat. Dia ada saluran tetapi tidak melihat bagaimana dia mengatasi banjir yang ada di Jakarta, dia hanya di utara saja. Itu sangat bagus sekali dan saya lihat belum ada di negara manapun kecuali Korea sebagian kecil, Korea dia mampu memendam, mengembangkan pelabuhan, menambah daratan. Apakah Jakarta mampu dengan Rp 72 triliun APBD-nya saya kira perlu melibatkan swasta. Saya melihatnya itu mungkin tetapi kita lihat lagi perlu ada kombinasi yang lebih baik dengan mengatasi banjir yang ada di Jakarta. Karena kita lihat pola airnya dulu, kita tidak merancang pembangunan supaya air atau alam menyesuaikan diri dengan kita tapi saya cenderung melihatnya pola air yang kita lihat ke depan itu yang kita sesuaikan dengan pola pembangunan yang akan kita rancang.

Kita menyesuaikan air ya?

Betul termasuk air laut. Jadi polanya ada tiga banjir yang di Jakarta pertama kiriman dari Bogor, kedua adalah hujan yang jatuh di Jakarta. Berarti kita dua PR, pertama bagaimana membendung air atau mengalihkan air dari Bogor, kedua adalah bagaimana kita meresapkan air atau kita mengalihkan air secara cepat menuju ke laut. Kemudian pada saat yang sama kita harus membuat tanggul-tanggul atau saluran sungai yang tinggi, seperti Banjir Kanal Timur menurut saya kurang tinggi itu kalau kita bandingkan dengan Belanda lebih tinggi 2-3 meter dari daratan sekitarnya. Ketiga adalah bagaimana mengalirkan sungai hilirnya ke laut, keempat adalah bagaimana menahan air dari laut yang masuk ke daratan. Jadi kombinasi ini tetap menjadi PR kita baru kita mengatakan Jakarta sangat berkurang banjirnya, kalau Giant Sea Wall saja bagus di utara tetapi kita lihat Jakarta terendam.

Bagaimana caranya supaya aliran air yang menuju ke Jakarta dengan sodetan dan bendungan?

Saya setuju sodetan ataupun bendungan itu bagus sekali. Kalau kita lihat dari debit yang mengalir dari Bogor ke Jakarta itu besar sekali dan kalau kita bendung itu airnya tidak akan pernah turun. Karena memang karakter curah hujan yang ada di Bogor itu sampai kita bilang Kota Hujan memang dia tidak akan berkurang hujannya. Jadi kalau kita bikin bendungan pasti bendungannya selalu penuh, kedua air ini bisa digunakan untuk keperluan masyarakat, kalau katanya selama ini PDAM belum mencapai lebih dari 50 persen dari Jakarta airnya merupakan sumber daya utama untuk bisa jadi air PDAM. Jadi upaya melarang masyarakat atau lainnya menggunakan air tanah sehingga menyebabkan tanah turun itu bisa kita gugat pada saat kita mempunyai air dari waduk-waduk itu.

Tentang sodetan ini kita nanti membuat saluran dari sungai Ciliwung supaya nanti sebagian air mengalir ke sungai Cisadane. Tapi infrastruktur di lingkungan Cisadane itu juga mampu?

Itu PR baru. Makanya kemarin saya lihat Bupati Tangerang tidak mau menerima ide itu dan mereka juga mengatakan selama ini saluran-saluran yang ada sejak zaman Belanda tidak ada hal yang relatif baru dan tidak ada perawatannya. Sehingga mereka khawatir memindahkan sebagian banjir dari saluran itu ke daerah Tangerang. Menurut saya sodetan itu berpotensi memindahkan banjir tetapi jelas kalau itu dilakukan, kemudian PU dan seagainya merancang lebih baik kita bisa simulasikan tapi jelas itu akan berpengaruh pada pengurangan air yang akan masuk ke Jakarta.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

IPK Anjlok, Indonesia Makin Korup?

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending