PT KAI Sediakan Kios dan Dibeli oleh Pedagang di Stasiun Pondok Cina

KBR68H, Jakarta - Kemarin, pedagang di sekitar Stasiun Pondok Cina menolak penggusuran dan bahkan terlibat bentrok dengan preman.

BERITA

Senin, 21 Jan 2013 09:55 WIB

Author

Doddy Rosadi

PT KAI Sediakan Kios dan Dibeli oleh Pedagang di Stasiun Pondok Cina

kios, KAI, stasiun pondok cina

KBR68H, Jakarta - Kemarin, pedagang di sekitar Stasiun Pondok Cina menolak penggusuran dan bahkan terlibat bentrok dengan preman. Bentrokan pecah ketika mahasiswa Universitas Indonesia yang mendengar adanya pembongkaran, mencoba memediasi untuk menunda pembongkaran petugas. Namun, aksi dorong dan saling pukul tidak bisa dihindari, karena pembongkaran dilakukan dengan melibatkan orang-orang bayaran. Beberapa mahasiswa sempat terkena pukulan dan tendangan. Sejumlah pedagang korban penggusuran melakukan aksi blokir jalan kereta, hingga menyebabkan penumpukan di beberapa stasiun. Kenapa bisa sampai terjadi bentrok? Simak perbincangan KBR68H dengan kuasa hukum pedagang yang juga pengacara publik LBH Jakarta Arif Maulana dalam program Sarapan Pagi.

Kenapa bisa terjadi bentrok kemarin?

Perlu digarisbawahi bahwa kemarin tidak terjadi bentrok seperti yang di berita, bahwa penumpang kemudian mengusir pedagang. Cuma memang yang terjadi, sempat ada pembicaraan yang terjadi di antara pedagang yang mencoba melakukan pemblokiran. Ini sebenarnya ada pesan yang mau disampaikan oleh pedagang, sampai hari ini pedagang yang sudah bermitra dengan PT. KAI yang mereka sebenarnya membeli kios.

Membeli kios atau menyewa?

Membeli kios. Jadi sekitar tahun 2000 PT. KAI melalui kepala stasiun-stasiun maupun pegawai stasiun, itu membuatkan kios-kios di berbagai stasiun, kemudian meminta para pedagang untuk membeli dan itu memang belum disampaikan oleh PT. KAI. Jadi banyak di antara pedagang yang kiosnya membeli dengan harga tidak murah, puluhan juta rupiah mereka beli dan beragam harganya, setiap bulan mereka diminta untuk membayar uang sewa. Kemudian PT. KAI mau melepas, seolah-olah menganggap mereka bukan mitra yang selama ini diminta membeli kios. Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2011 tidak pernah mengatakan bahwa PT. KAI harus melakukan penggusuran paksa kepada pedagang-pedagang peron atau kios di stasiun, yang ada adalah menata. Jadi melakukan penataan prasarana dan sarana untuk menghubungkan jalur darat kereta ini dengan jalur udara di Bandara Soekarno-Hatta, tidak ada kata-kata menggusur tapi menata. Yang jadi masalah sebenarnya adalah pemerintah tidak menyediakan anggaran APBN maupun APBD untuk PT. KAI. Mereka justru memberi peluang kepada PT. KAI untuk bekerjasama dengan badan usaha dengan prinsip-prinsip bisnis. Ini perlu digali mengapa PT. KAI hendak menggusur paksa semua pedagang-pedagang di stasiun yang dulu sebenarnya mereka berdayakan.
 
Langkah selanjutnya apakah akan menempuh langkah hukum atau seperti apa?

Kita masih berharap PT. KAI mau berkomunikasi dengan para pedagang. Selama ini para pedagang sudah mencoba mengirimkan surat, kemudian mendatangi Daops I Jakarta, ke PT. KAI Bandung, bahkan ke Kementerian BUMN untuk audiensi, dan ke Komnas HAM. Meminta untuk dimediasikan kepada PT. KAI, tapi PT. KAI seolah-olah menutup mata tidak perlu mediasi, ini hanya persoalan kontrak biasa selesai, padahal ini adalah persoalan serius. PT. KAI selama ini istilahnya kios di berbagai stasiun yang sudah digusur hampir seribu kios, kalau kita bicara jumlah itu ribuan keluarga menggantungkan nasibnya di stasiun.

Anda jelaskan ada pihak yang sudah tidak dianggap lagi sebagai mitra, apakah PT. KAI mendapatkan mitra yang lebih strategis lagi sehingga para pedagang dicampakkan?

Kalau kami menduga karena ketiadaan biaya dari APBN atau APBD untuk penyediaan sarana prasarana sebagaimana dimandatkan Perpres No. 83 ini yang jadi persoalan. Tapi ini masih sebatas dugaan kami, memang seolah-olah PT. KAI mau mencuci tangan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa PT. KAI dulunya ini menyediakan kios itu tidak lepas dari perannya kepala-kepala stasiun, pegawai PT. KAI yang mencoba mencari untung juga di wilayah stasiun. Seperti yang di Depok Baru ada yang namanya Bapak Nimin membangun kios, itu dulu orang PT. KAI juga tapi selama beberapa tahun uang sewa tidak masuk ke PT. KAI. Perlu disampaikan kepada masyarakat luas, hak mereka untuk bekerja dan sejahtera daripada pedagang ini terancam, bahkan sudah terlanggar oleh penggusuran-penggusuran paksa.

Kemarin melibatkan preman juga ya?

Iya. Setelah TNI dan Polri dilibatkan, meskipun sekarang sudah mulai sedikit berkurang karena kita sudah melakukan beberapa kali protes, beberapa lembaga juga protes, sekarang menggunakan preman. Ini cara-cara yang digunakan PT. KAI seperti yang terjadi di Depok Baru, malam tadi kami mencoba melakukan pelaporan di Polres Depok, melaporkan kasus penganiayaan dan pengrusakan kios-kios pedagang.      

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17