Pergumulan Iman Tokoh Kemerdekaan Amir Sjarifuddin

Ketika pemilukada Jakarta beberapa waktu yang lalu, kepemimpinan non-muslim menjadi polemik dan digunakan untuk menyerang cagub beragama Kristen, keturunan Thiong Hoa, Basuki Tjahja Purnama.

BERITA

Kamis, 24 Jan 2013 16:33 WIB

Author

Ade Irmansyah

Amir Sjarifuddin, komunis

KBR68H- Ketika pemilukada Jakarta beberapa waktu yang lalu, kepemimpinan non-muslim menjadi polemik dan digunakan untuk menyerang cagub beragama Kristen, keturunan Thiong Hoa, Basuki Tjahja Purnama. Namun,  sejarah membuktikan bahwa Indonesia pernah dipimpin seorang Perdana Menteri yang beragama Kristen.  Dia adalah seorang kelahiran Medan bernama Amir Sjarifuddin Harahap.

“Amir SJarifuddin itu unik. Kematian yang dramatis pada 19 Desember 48 menggambarkan sosok Amir Syarifudin. Dia memegang Alkitab dan menyanyikan lagu Internationale serta Indonesia Raya sebelum dieksekusi. Hal ini membuktikan bahwa dia adalah seorang Kristen yang nasionalis namun juga sosialis” kata Wilson, Aktivis Perkumpulan Praxis.

Jan Aritonang, Pakar Sejarah Gereja dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta mengatakan pada awal abad ke 20 ada stigma di Republik ini bahwa Agama Kristen itu akrab dengan penjajah Belanda sehingga tidak mungkin mereka ikut berperan aktif memperjuangkan kemerdekaan. Namun seiring berjalannya waktu hingga dasawarsa kedua abad ke 20 peran orang  Kristen   semakin nampak kep ermukaan dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik ini.


Hal ini terlihat salah satunya didalam peristiwa Sumpah Pemuda, peran pemuda Kristen cukup terlihat disini. Kondisi ini terus berkembang hingga umat Kristen banyak yang berkecimpung pada dunia politik, baik itu partai yang berlandaskan nasionalis maupun agama Kristen itu sendiri. Termasuk Amir syarifudin, “Amir tidak melalui jalur partai Kristen, dia menggunakan Gerindo, Gerakan Indonesia yang notabenenya adalah kumpulan dari orang-orang muda yang mengagumi Soekarno” kata Jan Aritonang. 


Ideologi Nasionalis yang Unik


“Saya ini orang Kristen, tetapi perjuangan saya tidak dimotivasi oleh Kekristenan saya melainkan oleh nasionalisme saya, oleh karenanya saya ingin mengajak pemuda Kristen yang lain untuk bergabung dengan saya dalam gerakan kebangsaan menuju Indonesia merdeka” kata Jan Aritonang ketika menggambarkan tentang idiologi seorang Amir Syarifudin.

Pernyataan-pernyataan inilah yang membuat citra atau image tentang orang Kristen pada masa itu berubah, bahwa orang Kristen itu bukan sekutu penjajah. Memasuki dasawarsa 30-an abad 20, banyak bermunculan partai politik dan gerakan organisasi kemasyarakatan yang berlandaskan agama sebagai pondasinya, begitu juga dengan Kristen. Wilson juga menambahkan penilaiannya terkait ideologi Amir Syarifudin.

 “Amir tidak mengkontradiksikan Kekristenannya, nasionalis dan juga sebagai seorang sosialis, itu yang membuat idiologis seorang amir menjadi unik”, katanya. Hal itu berbeda sekali dengan kondisi saat ini. Orde baru begitu berhasil mengkotak-kotakkan ideologis seseorang hingga saat ini, kata Wilson. “Ideologis Amir justru yang menghancurkan pengkotakan idiologis bapak bangsa”, tegasnya.


Dia Bukan Komunis    


“Dia kecewa atas hasil perjanjian Renville, yang membuat dia harus meletakkan jabatannya. Hal itulah yang membuat dia seakan-akan dekat dekat komunis” kata Jan Aritonang. Lebel komunis sengaja disematkan oleh Orde baru kepadanya, “Ini merupakan kecelakaan sejarah” tegasnya, meskipun ia mengakui bahwa Amir sempat bergabung PKI. Wilson bahkan menyebutkan peran Amir dalam memperjuangkan kemerdekaan bisa disamakan dengan pendiri bangsa yang lainnya seperti Soekarno dan lain-lain. 


“Amir hanya kambing hitam dari peristiwa tahun 48”, kata Wilson. Amir Sjarifuddinb ahkan tidak sepakat konsep nasionalisme yang ditawarkan oleh Bung Tomo yang justru menurutnya hanya bersifat kedaerahan dan tidak menyeluruh. Hal lain yang membuktikan bahwa Amir bukan seorang Komunis. Namun perlawanannya kepada faham Fasis yang mulai marak di Indonesia pada saat itu. “Dia konsisten menentang fasis. Menurutnya fasis itu lebih kejam dari pada penjajah Belanda itu sendiri” kata Jan Aritonang.
Dia Kristen yang Sangat Nasionalis

Kenasionalisan Amir Sjahrifuddin semakin diperkuat oleh salah satu kutipan tulisannya yaitu “dalam tujuan politiknya, orang-orang Kristen harus berdiri disamping orang-orang Islam dan orang-orang nasionalis lainnya, mereka harus hidup di atas ideologisnya sendiri. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh berdiam diri, kita harus menuntut tempat kita sendiri, kita harus menuntut tempat kita yang sah. Bagaimana ideologi kita ini dirumuskan? bagaimana tempat kita itu ditentukan? dimana letak kekhasan visi Kristen? apakah saya sebagai Kristen harus membentuk partai sendiri? ataukah kewajiban saya untuk membawa dasar-dasar agama saya kepada partai yang ada, sehingga partai ini dapat dipengaruhi oleh tujuan agama saya itu, tetapi kalau golongan saya membuat partai atau golongan sendiri, saya tidak keberatan asal mereka tidak menghilangkan atau kehilangan semangat nasionalismenya sendiri”.

Dia Tidak Memerlukan Gelar Pahlawan Nasional


Ideologi kebangsaan atau nasionalisme seorang Amir Sjarifuddin sudah tidak dapat diragukan lagi, namun hingga kini namanya begitu asing, terutama untuk generasi sekarang. Bangsa ini sekarang seakan menghapus jasa-jasa dia yang begitu berperan bagi negeri ini hingga akhirnya bisa memerdekakan diri dari tangan penjajah. Sejarah negeri ini masih mengecapnya sebagai penghianat. Oleh karenanya hingga kini gelar pahlawan nasional masih belum didapatkannya. Peran dia sebagai seorang perdana menteri setelah Sutan Sjahrir seakan menghilang. Meskipun demikian,  Amir Syarifuddin merupakan seorang nasionalis sejati, “kiri dia sebetulnya adalah kiri yang tidak dogmatis, kirinya dia bisa diterima oleh kelompok dan golongan lain” kata Wilson yang mempertegas meskipun Amir adalah orang kiri, namun dia bukan komunis.

“Saya sendiri sebenarnya agak risau dengan soal-soal menetukan siapa yang mau menjadi pahlawan” kata Jan Aritonang. Menurut dia, pahlawan itu bukan gelar yang diberikan oleh seseorang atau lembaga, melainkan atas kinerja seorang tokoh terhadap kemaslahatan orang banyak. Dan seorang Amir Sjarifuddin sudah melakukan itu. Jadi menurutnya, Amir Sjarifuddin merupakan seorang pahlawan, setidaknya bagi dirinya dan umat Kristen pada umumnya. Dia juga berharap semoga bangsa ini tidak melupakan jasa para pahlawannya, baik itu yang sudah diberi gelar maupun yang belum, bahkan tidak pernah mungkin.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi