Bahaya Gadget untuk Anak

Dewasa ini, keterbukaan arus informasi semakin canggih. Informasi itu juga berimbas kepada anak-anak yang semakin

BERITA

Kamis, 10 Jan 2013 17:28 WIB

Author

Pipit Permatasari

Bahaya Gadget untuk Anak

gadget, anak

KBR68H- Dewasa ini,  keterbukaan arus informasi semakin canggih. Informasi itu juga berimbas kepada anak-anak  yang semakin “melek” teknologi.  Bagaimana tidak,  anak-anak masa kini sudah bisa mengoprasikan smartphone  dan dibekali handphone canggih oleh orang tuanya. Hal ini mengakibatkan anak semakin cerdas dalam memanfaatkan teknologi. Namun yang perlu dikhawatirkan  para orang tua, ketika si anak  sudah mulai kecanduan akan gadget itu. Anak yang sejak kecil memiliki ketergantungan pada gadget ternyata memicu bahaya, karena cenderung memiliki relasi yang kurang baik dengan orang tuanya dan lingkungannya. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Psikolog anak  Anna Surti Ariani pada sebuah acara  program Klinik KBR68H.

Menurut Nina sapaan akrab Anna Surtiani ada beberapa hal yang berimbas negative pada anak, ketika anak itu sudah mulai mengalami kecanduan. Kata dia, anak akan kehilangan tahapan-tahapan pembelajaran yang semestinya itu dilalui olehnya sesuai dengan perkembangannya. Misalnya, melatih  kemampuan motorik untuk anak balita, kemampuan adaptasi dalam pergaulan, pembentukan emosi,  dan keterlibatan perkawanan.

 “Kan kayanya si emang betul secara sosial keren nih anak canggih. Tetapi bisa tidak dia  berbagi, bisa tidak dia  berkenalan, memulai pergaulan dengan teman-temannya, melatih emosi, mengatur emosi agar tidak meledak-ledak”.  Jelas Nina.

Nina menambahkan semua itu hanya bisa dilakukan ketika si anak bergaul dalam kehidupan nyata. Bukan kehidupan maya. Namun faktanya, pada saat ini kita hidup dalam era teknologi dan sulit untuk menjauhkan gadget dari anak-anak.

Contohnya saja,seorang ibu muda yang bernama Amelia, yang memiliki dua orang putri yang berusia masih balita. Kata dia, setiap hari kedua putrinya itu terus merengek untuk dibelikan gadget olehnya.

 “Pertama karena pengaruh kakak- kakaknya yang sudah besar. Anaknya masih TK.  Umur 5 tahun, dia mulai lihat kakaknya dan mencoba. Akhirnya meminta.  Baru kemarin lihat sepupunya punya dia  minta ipad, “keluh Amel.

Namun untuk mengatasinya, Amelia hanya bisa memberikan pengertian-pengertian terhadap anak-anaknya kalau diusia mereka belum saatnya untuk memiliki gadget. Untuk menghilangkan rasa kekecewaannya, Amelia hanya membolehkan ia meminjam gadget milik kakaknya dan  dalam penggunananya juga dibatasi.

Apa yang dilakukan oleh ibu muda Amelia ini mendapatkan sambutan positif dari psikolog anak Nina. Nina mengakui kalau pendidikan Amelia kepada anaknya sudah tepat. Kata dia, memperkenalkan anak  pada gadget itu memang diperlukan tetapi harus dibatasi.  Nina memberitahukan kapan baiknya orang tua memberikan si anak itu gadget.

“ Pada usia dua tahun lebih baik tidak, pada usia lima sampai usia sepuluh tahun paling banyak dua jam. Dan sisanya diperbolehkan tetapi harus dibatasi. Memang mengenalkan tetapi membatasi. Pembatasannya yang dilakukan mba Amel tidak memiliki sediri. Kalau tidak memiliki, mau ga mau itu minjem.  Kalau minjem pasti ngomong. Nah ngomong itu sebetulnya belajar untuk mengemukakan pendapat,  belajar bernegosiasi, dan persuasi supaya dipinjamkan”. Jelas Nina.

Selain ditengah keluarga, memang peran pergaulan sangat besar bagi perkembangan si anak. Ketika dalam keluarga anak sudah dibentengi untuk bersikap disiplin, kemudian lingkungan justru memberikan kesempatan anak untuk melakukan hal apapun yang diinginkannya.

“Ketika dia bergaul melihat temannya memainkan itu menjadi godaan yang besar”. Keluh Nina.

Nah disinilah kehangatan keluarga dibutuhkan.  Dimana pengawasannya lebih kepada bentuk perhatian kedua orang tua kepada anaknya. Dengan cara,misalnya, ketika anak sedang bermain gadget, ada baiknya  ibu atau ayahnya ikut menemaninya untuk bermain.

 “Gak ada keharusan.  Itu boleh bergantian atau bersama-sama. Karena anak membutuhkan kehadiran orang tuanya.  Kalau yang remaja itu bisa diganti dengan  telepon selular kemudian melakukan percakapan dengan orang tuanya. Tetapi kalau anak dibawah umur itu sangat membutuhkan orang tuanya. “ terang Nina.
 
Lanjut Nina, memang ketika kita dihadapkan oleh anak yang sudah kecanduan akan gadget perlu penanganan yang khusus.  Orang  tua harus bisa menempatkan posisi mereka sebagai teman bagi si anak. Dengan begitu, ketika dalam melakukan komunikasi dengan si anak, ada pesan-pesan atau nasehat yang ingin sampaikannya lebih mudah diterima oleh si anak.

“ Secara kognitif,  secara anak pasti sudah mengerti. Tetapi emosional penyerapannya berbeda. Untuk itu diberikan berpuluh-puluh konsiten dengan suasana menyenangkan agar si remaja itu betul menyadari dari hatinya.  Apa yang dilakukan ini baik atau tidak baik.  Jadi terpikir untuk memberhentikannya. “ jelas Nina. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru jam 10