Share This

Afghanistan Luncurkan Stasiun Televisi Khusus Perempuan

Perempuan kerap diabaikan media Afghanistan karena itu sekelompok perempuan berkomitmen mengisi celah itu.

ASIACALLING , INDONESIA

Senin, 12 Jun 2017 09:05 WIB

Saat pengambilan gambar salah satu program di Zan TV. (Foto: Shadi Khan Saif)

Saat pengambilan gambar salah satu program di Zan TV. (Foto: Shadi Khan Saif)

Sejak kekuasaan Taliban berakhir pada 2001, industri penyiaran berkembang pesat di Afghanistan. Dari hanya satu stasiun televisi milik negara hingga kini ada 76 stasiun telivisi.

Meski begitu, perempuan kerap diabaikan media Afghanistan. Karena itu sekelompok perempuan berkomitmen mengisi celah itu.

Pekan lalu stasiun televisi pertama di Afghanistan oleh dan untuk perempuan secara resmi mengudara.

Koresponden Asia Calling KBR, Shadi Khan Saif, menyusun laporannya dari kantor pusat mereka di Kabul.

Pekan lalu ibu kota Afghanistan Kabul diguncang serangkaian serangan terroris. Termasuk bom truk paling mematikan yang pernah dilihat kota itu dan merenggut 150 jiwa.

Kurang dari satu kilometer dari tempat kejadian, sekelompok perempuan sedang sibuk mempersiapkan program pagi di stasiun televisi oleh dan untuk perempuan.

Zan TV atau TV Perempuan adalah saluran televisi yang didedikasikan untuk menyuarakan suara dan isu perempuan. 

Basira Joya adalah pembawa acara di Zan TV. Baginya ini bukan sekedar pekerjaan.

“Kita membuat slogan kalau perempuan dan laki-laki punya hak yang sama. Tapi kenyataannya berbeda. Kami ingin memperkuat suara perempuan dan anak perempuan sehingga slogan itu bisa menjadi kenyataan,” tutur Joya.

Zan TV ingin semua pegawainya perempuan tapi bukan hal mudah untuk mewujudkannya.


Di bawah pemerintahan Taliban, perempuan dilarang bekerja. Tapi kini perempuan bisa kembali bekerja. Tapi kata Joya mereka masih membangun keterampilan dan pengalaman.

“Saya tidak punya pengalaman kerja. Tapi saat saya tahu Zan TV buka, saya merasa terdorong untuk melamar. Ayah dan ibu saya juga mendukung. Saya ingin jadi presenter yang baik dan melayani bangsa dengan cara ini,” kata Joya. 

Diskriminasi dan pelecehan gender di tempat kerja merupakan hambatan utama bagi perempuan bekerja.

Tapi Joya optimistik kalau Zan TV akan membuka ruang bagi perempuan untuk berkembang.

“Setiap tahun ribuan perempuan lulus dari fakultas jurnalistik. Sangat bagus bila mereka bisa mendapatkan pengalaman dan berlatih di sini.”

Saat ini, 54 dari 70 karyawan Zan TV adalah perempuan. Enam belas karyawan laki-laki itu hanya melakukan pekerjaan teknis.

Stasiun televisi ini akan menyediakan pelatihan teknis dan editorial sehingga perempuan bisa menjalankan semua aspek pemrograman.

Editor Senior, Hosnia Mohaqiq, mengaku kewalahan dengan tingginya minat perempuan.

“Perempuan dan remaja perempuan makin tertarik bekerja di Zan TV. Kami memberi mereka harapan dan dorongan. Orang-orang dengan motivasi kerja seperti itu biasanya akan bekerja dengan sangat baik,”kata Husnia.

Setelah tiga bulan uji coba transmisi off-air, Zan TV secara resmi mulai siaran di udara Sabtu 3 Juni lalu. Sementara pengikut mereka di media sosial mencapai 80 ribu orang.

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.