RAGAM

Mengenal SRILI, Komunitas Perempuan Lintas Iman di Yogyakarta

"Peran perempuan dalam gerakan sosial dan perubahan makin tak terbantahkan"

Mengenal SRILI, Komunitas Perempuan Lintas Iman di Yogyakarta
Salah satu acara yang digelar Srikandi Lintas Iman (SRILI) pada November 2023. (Foto: dok SRILI)

KBR, Jakarta - Toleransi beragama sangat penting diajarkan ke anak sejak dini. Karenanya penting pula untuk membekali guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan pemahaman tentang keberagaman. Hal ini yang diupayakan Srikandi Lintas Iman (SRILI) Yogyakarta.

Istiatun dari Divisi Pemberdayaan SRILI menyebut, lembaganya memiliki program Peningkatan Kapasitas Guru PAUD Lintas Iman. Program ini digelar sejak November 2020 hingga Maret 2021 yang melibatkan guru-guru PAUD dari berbagai sekolah di Yogyakarta, Solo, Klaten, dan Magelang.

“Kita tahu bahwa perbedaan itu akan semakin tajam kalau dibiarkan. Kita tahu di beberapa pendidikan agama tertentu, itu kadang sudah mengajarkan perbedaan. Oleh sebab itu, SRILI mengumpulkan guru-guru PAUD untuk bagaimana mendidik keberagaman ini sejak dini,” ujar Isti.

SRILI merupakan komunitas perempuan lintas iman pertama di Yogyakarta, yang dibentuk pada 2015. 

Sekretaris SRILI, Misni Parjiati menjelaskan gerakan ini diawali pertemuan perempuan-perempuan yang tergabung dalam organisasi keagamaan di sebuah workshop. Saat itu isu intoleransi sedang marak. Tokoh agama dan perdamaian didominasi laki-laki.

“Dari hasil workshop, para peserta ingin membuat sebuah komunitas perempuan lintas iman”, ujar Misni dalam siaran Ruang Publik KBR, Kamis, (21/03/24).

Selama 9 tahun terakhir, SRILI banyak menggelar kegiatan lintas iman baik secara daring maupun luring. Di antaranya, kegiatan diskusi dan kunjungan ke tempat- tempat ibadah. Kolaborasi dengan lembaga masyarakat sipil juga dijalin. 

“SRILI semakin dikenal karena kami banyak melakukan kegiatan secara online dan kemudian juga banyak berkolaborasi dengan banyak komunitas dan organisasi masyarakat sipil,” jelas Misni.

red

SRILI punya fokus ke isu perempuan dan anak. Menurutnya, perempuan punya kapasitas dan pengetahuan yang tak kalah dengan laki-laki, sehingga perannya juga sentral dalam membangun perdamaian. 

"Perempuan lintas iman punya cita-cita melakukan dialog agar kekenyalan dalam perbedaan itu tidak semakin keras tetapi semakin kenyal dan kemudian kita biasa dengan perbedaan. Karena bagaimanapun kita makhluk yang berbeda, tapi tidak untuk dibeda-bedakan,” kata Isti.

Baca juga:

Bagaimana kiprah SRILI dalam mewujudkan gerakan perempuan lintas iman? Tantangan dan kendala apa saja yang dihadapi? Simak selengkapnya dalam siaran Ruang Publik KBR episode Apa Kabar Gerakan Perempuan Lintas Iman Zaman Now? hanya di kbrprime.id.

  • komunitas lintas iman
  • keberagaman
  • Yogyakarta
  • perempuan

Komentar (0)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!