Soal Utang RI, Luhut Bantah Prabowo

"Utang pemerintah digunakan untuk membiayai pembangunan dan sektor-sektor produktif lainnya"

BERITA , NASIONAL

Senin, 03 Des 2018 15:56 WIB

Author

Astri Yuanasari

Soal Utang RI, Luhut Bantah Prabowo

Menko Maritim, Luhut Binsar Panjaitan. (Foto: Setkab.go.id)

KBR, Jakarta - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menegaskan, Indonesia tidak hidup dari utang.

Penegasan itu menanggapi berbagai pernyataan mengenai ketergantungan Indonesia pada utang. Salah satunya adalah calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang beberapa kali menyebut Indonesia hidup dari utang asing.

Menteri Luhut Pandjaitan mengatakan, utang pemerintah digunakan untuk membiayai pembangunan dan sektor-sektor produktif lainnya.

Saat ini, kata Luhut, rasio utang Indonesia masih rendah, karena hanya sekitar 29 persen dari Gross Domestic Product (GDP) nasional.

"Kita punya utang yang sebenarnya 29 koma sekian persen dari GDP kita. Sebenarnya jauh dari angka yang ditentukan yaitu 60 persen. Jadi kita termasuk ke negara yang paling rendah untuk utang. Jadi kalau banyak yang bicara kita hidup dari utang itu tidak benar," kata Luhut di Hotel Bidakara Jakarta, Senin (3/12/2018).

Baca juga:

Luhut mengatakan, utang pemerintah saat ini dikelola dengan baik, sehingga tidak membebani keuangan negara.

Ia melanjutkan, Indonesia masih mampu menekan inflasi di bawah 4 hingga 3,5 persen, dan ini merupakan pencapaian yang bagus.

"Jadi kalau sekarang kita punya inflasi di bawah 4 persen, 3,5 persen itu adalah satu achievement yang bagus karena selama 12 tahun terakhir ini kita tidak bisa pada posisi seperti itu," imbuhnya.

Luhut menjelaskan, kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty, juga berdampak pada meningkatnya rasio penerimaan pajak nasional.

Rasio pajak Indonesia tahun ini, pertama kalinya mencapai angka 12,1 persen. Luhut berharap, 2 atau 3 tahun ke depan, rasio pajak Indonesia bisa mencapai 15 persen.

"Artinya kalau 15 persen dari Rp16.000 triliun GDP kita itu, kira-kira kita bisa menerima mungkin lah Rp2.400 triliun," pungkasnya.

Editor: Kurniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17