Novel Baswedan: Kasus Saya Sengaja Tidak Diproses

"Jika tidak mengungkap masalah saya, nggak masalah. Ungkap masalah pegawai KPK lainnya. Pertanyaan saya, apakah Presiden takut mengungkap masalah saya? Kalau takut, saya kecewa," ungkap Novel.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 01 Nov 2018 17:18 WIB

Author

Ryan Suhendra

Novel Baswedan: Kasus Saya Sengaja Tidak Diproses

Novel Baswedan mengenakan topi dalam diskusi bertema Kami Dibiarkan Buta, Presiden Kemana, yang digelar di Gedung KPK Jakarta, Kamis (01/11). (Foto: Ryan Suhendra/KBR)

KBR, Jakarta- "Berjuang itu suatu hal yang baik, berjuang itu mendoakan, berjuang itu tidak ada ruginya," ucap Novel Baswedan di acara diskusi memperingati 500 hari penyerangan terhadap Novel Baswedan bertajuk #500HariDibiarkanButa: Urgensi Perlindungan Penggiat Keadilan.

Diselenggarakan di lantai 3 Gedung Penunjang, Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (1/11/2018).

Sekitar 500 hari--atau tepatnya 569 hari--kasus penyiraman air keras oleh orang tak dikenal terhadap Novel Baswedan tak kunjung mengalami perkembangan. Tapi, penyidik KPK itu dengan tegas menyatakan, tetap konsisten berjuang meski yakin bila masalah yang menimpanya itu memang sengaja untuk tidak diproses hukum lebih lanjut.

"Penyerangan terhadap saya adalah penyerangan yang sengaja tidak diungkap. Saya katakan tidak diungkap itu sebagaimana 15 bulan lalu saya sampaikan hal yang sama di media televisi. Jadi, kalau seumpama dianggap ada proses yang berlangsung, saya katakan proses itu formalitas," ujar Novel.

Novel menduga kuat, kalau pimpinan kepolisian yang menangani perkaranya menyimpan ketakutan untuk mengungkap kasus karena ada tekanan, misalnya kepentingan politik.

Selain itu, Novel juga menceritakan ketika pada sebulan pertama setelah peristiwa penyiraman air keras menimpa dirinya, Mabes Polri menyatakan ada baiknya untuk dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

"Sampai sekarang pimpinan KPK belum pernah memperjuangkan hal ini. Saya ucapkan terima kasih," kata Novel bersatir.

Ia pun tidak sependapat dengan pimpinan KPK yang menyatakan, kalau lembaga antirasuah tersebut bersabar untuk menunggu adanya perkembangan kasus dari kepolisian.

"Saya pikir proses masalah penyerangan ini, kuncinya ada di tiga bulan pertama, proses. Setelah tiga bulan itu akan sulit untuk diungkap. Makanya saya katakan saya yakin masalah saya sengaja tidak diproses," ungkap Novel.

Baca juga:

Untuk itu, ia pun lantas "menantang" Presiden Joko Widodo agar berani mengambil alih penanganan kasus yang menimpa dirinya juga pegawai KPK yang lain. Karena menurutnya, Presiden merupakan harapan terakhir untuk tegaknya keadilan suatu bangsa.

"Jika tidak mengungkap masalah saya, enggak masalah. Ungkap masalah-masalah pegawai KPK lainnya. Pertanyaan saya, apakah Presiden takut mengungkap masalah saya? Kalau takut, saya kecewa. Karena Presiden pemimpin bangsa ini. Kalau bukan kepada dia, kepada siapa lagi kita berharap keadilan ditegakkan?" tanya Novel.

"Saya tidak dendam, saya maafkan pelaku," lanjutnya lagi.

Terkait masalah yang menimpa pegawai KPK yang lain, Novel mengaku, baru mengetahui hal tersebut beberapa hari belakangan. Kriminalisasi terhadap pegawai KPK, jelas Novel, antara lain seperti penyerbuan dan teror terhadap fasilitas KPK, ancaman bom ke rumah penyidik KPK, penyiraman air keras ke rumah dan kendaraan milik penyidik KPK.

Ada lagi, ungkap Novel, bentuknya berupa ancaman pembunuhan terhadap pejabat dan pegawai KPK, perampasan perlengkapan penyidik KPK, penangkapan dan penculikan terhadap pegawai KPK yang sedang bertugas, dan percobaan pembunuhan terhadap penyidik KPK.

Setiap teror, menurut Novel, sebaiknya dibuka secara transparan agar dua hal yang dianggapnya penting dapat dicapai, yakni pelaku akan takut mengulangi perbuatannya lagi, dan akan ada perlindungan psikis bagi para pegawai KPK.

Sementara Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata mengklaim lembaganya terus mendorong penyelesaian kasus yang menimpa penyidiknya itu. Ia melanjutkan, KPK terus berjuang demi tegaknya keadilan untuk Novel Baswedan.

"Nah, kami berharap pelaku penyiraman itu segera terungkap agar proses keadilan bisa ditegakkan. Apa motifnya, apa tujuannya, dan pelaku juga bisa dihukum setimpal. Rasa-rasanya itu seluruh harapan pimpinan dan insan KPK. Sampai kapan pun tidak berhenti pada hari ke-500, 1000 hari pun akan kita tunggu agar kasus ini terang," pungkas Alex.

Baca juga:

Editor: Fadli Gaper 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18