Kasus COVID-19 Turun? Kemenkes: Banyak Daerah Tidak Update Data Kasus Selama 3 Minggu

Kasus COVID-19 turun, Kemenkes menyebut banyak daerah tidak memperbarui data kasus selama 3 minggu terakhir.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 09 Sep 2021 03:30 WIB

Kasus COVID-19 Turun? Kemenkes: Banyak Daerah Tidak Update Data Kasus Selama 3 Minggu

Peserta tes seleksi CPNS menjalani tes usap antigen di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (3/9/2021). (Foto: ANTARA/Nova Wahyudi)

KBR, Jakarta - Pemerintah mengingatkan meski kasus Covid-19 menurun, namun masih banyak provinsi yang belum memperbarui status kasusnya.

Juru bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyebut 25,9 persen dari total kasus aktif COVID-19 yang tercatat saat ini adalah kasus yang belum diperbarui statusnya selama lebih dari 21 hari.

"Hal ini terjadi karena adanya keterlambatan dalam input data kematian ke dalam sistem. Keterlambatan ini terjadi karena adanya prosedur administrasi berjenjang. Mulai dari level RT, RW, kelurahan, kecamatan, hingga Disdukcapil untuk menyatakan kondisi seseorang yang telah meninggal," kata Nadia dalam konferensi pers daring, Rabu (8/9/2021).

Baca juga:

Siti Nadia Tarmizi menambahkan, banyak juga data kasus tidak diperbarui karena keterbatasan tenaga kesehatan di daerah yang sedang menangani COVID-19.

Tenaga kesehatan, kata Nadia, tidak bisa langsung menginput laporan data kematian karena tingginya beban kerja dalam menangani tingginya kasus aktif pada saat itu.

Nadia mengatakan saat ini Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai evaluasi. Ke depannya, rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan dapat langsung melaporkan data kematian ke Kemenkes sehingga keterlambatan pelaporan data kematian ini dapat diminimalkan.

Minim 3T

Sementara itu, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai turunnya data kasus positif COVID-19 di Indonesia terjadi karena minimnya upaya test, tracing, treatment (tes, telusur dan tangani/3T) di Indonesia.

"Ini logika programnya belum berjalan. Kalau saya, ini antara senang dan khawatir. Ini seperti saat ujian sekolah, nilai ujian tiba-tiba bagus, tapi tidak rajin belajar. Kita tidak bisa dalam pengendalian pandemi terus mengandalkan keberuntungan," kata Dicky Budiman kepada KBR melalui telepon, Rabu (8/9/2021).

Dicky mengatakan masa krisis pandemi COVID-19 varian Delta diperkirakan masih akan berlangsung sampai akhir September, karena rata-rata masa krisis varian delta selama 12 minggu.

"Dalam konteks Indonesia, nggak bisa data penurunan saat ini mewakili semua wilayah Indonesia. Nggak bisa. Itu hanya mewakili Jawa, Bali, Madura. Beda lagi dengan yang di luar Jawa. Karena selama ini yang mendominasi 3T itu Jabodetabek. Ketika Jabodetabek membaik, maka membaik Indonesianya. Sedangkan daerah lain nggak kuat 3T," kata Dicky.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona