Bagikan:

KADIN: 2022 Momentum Kebangkitan Industri Besi dan Baja

"di Desember 2021 bisa mencapai US$20 miliar hanya dari ekspor stainless steel dan kombinasinya. Jadi terjadi peningkatan yang sangat tajam dibandingkan 2019 sebelum masa pandemi"

NASIONAL | KABAR BISNIS

Kamis, 03 Feb 2022 15:40 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Pertamina Mandalika International Street Circuit, Desa Kuta, Pujut, Praya, Lombok Tengah,

Ilustrasi: Pertamina Mandalika International Street Circuit, Desa Kuta, Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Jumat. (28/1/22). (Foto:ANTARA/Ahmad Subaidi)

KBR, Jakarta— Kebijakan pemerintah yang menyetop ekspor bahan mentah nikel memberikan stimulus positif terhadap pertumbuhan industri besi dan baja. 

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meramalkan konsumsi baja pada 2022 akan naik menjadi 16,3 juta ton.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Bobby Gafur Umar mengatakan, kebijakan yang diterbitkan pemerintah itu menyumbang torehan ekspor industri besi dan baja hingga US$20 miliar per Desember 2021.

"Dengan satu policy yang kita bilang out of the box untuk melarang ekspor nikel mulai Januari 2021, kita bisa mendapatkan nilai tambah yang mengakibatkan angka kita di Desember 2021 bisa mencapai US$20 miliar hanya dari ekspor stainless steel dan kombinasinya. Jadi terjadi peningkatan yang sangat tajam dibandingkan 2019 sebelum masa pandemi," kata Bobby Gafur dalam acara Forum Dialog HIPMI Bertema Nasib Investasi Baja, Kamis (3/2/2022).

Baca Juga:

Bobby meyakini, pada tahun ini industri baja nasional dapat mencapai target konsumsi 16,3 juta ton. Hal ini 'serempak seirama dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditaksir 5,9 persen oleh International Monetary Fund (IMF). 

Tidak hanya itu, realisasi rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan, menurut Bobby, akan mendorong permintaan besi dan baja dari sektor konstruksi dan manufaktur sebagai pangsa pasar besi dan baja nasional.

Selain ditopang oleh faktor tersebut, momentum kebangkitan industri besi dan baja juga dipengaruhi dengan adanya pembatasan produksi baja yang dilakukan Tiongkok pada tahun ini. 

Kondisi ini, kata dia, menjadi kesempatan untuk mengambil pangsa pasar impor yang selama ini didominasi oleh Tiongkok.

Di sisi lain, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok ikut memberikan sentimen positif terhadap peluang ekspor baja. Menurut Bobby, Indonesia berpeluang merebut pasar baja Amerika Serikat yang selama ini sulit untuk ditembus. Apalagi, pada 2021 Indonesia sudah berhasil melakukan ekspor perdana baja ke Kanada dengan nilai US$4,7 juta.

"Dengan adanya perang dagang Amerika dan Cina, kita selama ini tidak mudah masuk pasar di Amerika. Pasarnya sangat besar. Tentu Kanada bagian dari Amerika Utara. Kita sudah mulai awal tahun ini angka yang baik walau pun belum besar, yaitu US$4,7 juta," sambungnya

Baca Juga:

Utilisasi & Bahan Baku

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Bobby Gafur Umar menyayangkan, utilisasi kapasitas produksi baja nasional baru mencapai 40 persen pada Semester I/2021. Padahal target utilisasi baja idealnya sebesar 80 persen.

Angka ini menurut dia tidak terlalu baik dibandingkan beberapa industri lain seperti keramik. Industri keramik, katanya, bisa bangkit lebih cepat dengan utilisasi hingga 75 persen dari kapasitas. 

Pada tahun ini saja, industri keramik menargetkan bisa mencapai 80–85 persen dari kapasitas. Capaian yang dicatatkan industri keramik itu menunjukkan adanya investasi baru sebesar 38 juta metrik ton.

Selain utilisasi, Bobby mengungkapkan bahan baku scrap baja di Indonesia masih terbatas. Di dalam negeri, scrap baja hanya mencakup 20—30 persen dari kebutuhan industri. 

Sementara sebanyak 60 perusahaan baja 70 hingga 90 persen masih mengimpor bahan baku scrap atau daur ulang. Hal ini, membuat pelaku usaha baja seperti 'tukang jahit' disebabkan bahan bakunya yang masih mengandalkan impor.

Bobby mengatakan sebelum pandemi konsumsi baja nasional bertumbuh secara bertahap dari 12,7 juta ton pada 2016 hingga mencapai 15 juta ton pada 2020.

Pergerakan impor juga tampak melesat kencang sepanjang 2020, yakni sebesar 5,6 juta ton dengan nilai ekspor 3,6 juta ton. Pada semester I/2021, produksi baja sebesar 6,7 juta ton atau naik sebesar 36 persen dibandingkan semester yang sama pada 2020 sebesar 4,9 juta ton.

"Sektor konstruksi mengalami pertumbuhan sangat baik yakni mencapai 3,8 persen pada kuartal III/2021. Sektor ini menjadi salah satu kontributor terbesar dalam pertumbuhan industri di Indonesia," kata Bobby.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Edu Talk IV YPA-MDR: Go Digital Melalui Media Ajar Interaktif