Bagikan:

Terhindar dari Hubungan Manipulatif

Terbelenggu gaslighting dan bagaimana menghindarinya dibahas dalam podcast Diskusi Psikologi (Disko)

NASIONAL

Rabu, 18 Jan 2023 14:30 WIB

Author

Tim Disko

Diskusi Psikologi (Disko)

Diskusi Psikologi (Disko)

KBR, Jakarta- Pernahkah kalian mempertanyakan atau meragukan pikiran sendiri? Atau pernahkah kamu merasa bersalah atas tiap persoalan yang terjadi dalam hubunganmu? Padahal kalau dipikir-pikir persoalan tersebut bukanlah kesalahanmu dan malah kamu yang jadi korbannya? Hati-hati, itu bisa jadi gaslighting.

Dalam dunia psikologi, sikap yang termasuk dalam kekerasan emosional ini dikenal dengan istilah gaslighting. Melansir Hello Sehat dari Kementerian Kesehatan, gaslighting adalah tindakan manipulatif untuk membuat orang lain meragukan atau mempertanyakan pikiran mereka. Tujuan sikap ini yaitu membuat korban merasa bersalah.

Berikut contoh perilaku gaslighting:

  • Countering: menyangkal peristiwa tertentu dengan mempertanyakan ingatan korban.
  • Withholding: menolak untuk mendengarkan korban atau berpura-pura tidak memahami perkataannya.
  • Forgetting: berpura-pura lupa akan peristiwa tertentu agar korban meragukan ingatannya atau menghindari tanggung jawab.
  • Trivializing: menyebut korban bereaksi terlalu berlebihan terhadap situasi tertentu agar ia merasa emosi yang dirasakannya tidak valid dan menyalahkan diri sendiri.
  • Diverting: dengan sengaja mengubah fokus atau topik pembicaraan sehingga korban merasa argumen yang disampaikan tidak kredibel.

Kenapa kita harus menghindari gaslighting?

Psikolog Klinis dan Dosen Prodi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya Jane L. Pietra, S.Psi., M.Psi., Psikolog menyebut gaslighting sebagai bentuk kekerasan secara emosional. Sebab pelaku mempermainkan atau memanipulasi korban secara emosional. Jane menekankan terjerat dalam hubungan manipulatif bisa sangat berbahaya.

"Salah satu bentuk lain dari manipulasi dan kontrol atas kondisi psikologis si korbannya. Diberikan informasi-informasi yang palsu begitu ya. Sehingga bikin korbannya itu mempertanyakan, apa yang mereka ketahui? Dan sebenarnya yang benar, mana yang nggak bener nih. Terus sampai pada akhirnya sebetulnya, dia ketika mempertanyakan itu gitu ya. Dia akhirnya ragu sama ingatannya dia sendiri. Udah ragu sama ingatannya, persepsi mereka juga jadi kabut gitu. Dan bahkan pada beberapa kasus yang lebih ekstrem ya, atau lebih parah gitu ya. Mereka bisa sampai mempertanyakan kewarasan mereka," ujar Jane.

Ketika anda melihat, mendengar atau mengalami tindak kekerasan atau Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) laporkan ke SAPA 129. Layanan SAPA 129 dapat diakses melalui hotline 021-129 atau whatsapp 08111-129-129.

Baca juga:

Seluk Beluk Restorative Justice Kasus KDRT

Marak Penculikan Anak, Gimana Cegah dan Tangani Kasusnya?

Cek Fakta: Beredar Video dengan Narasi Jokowi Perintahkan Serangan ke Australia, benarkah?

Nah, Psikolog Klinis dan Dosen Prodi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya Jane L. Pietra, S.Psi., M.Psi., Psikolog, kemudian memberikan ciri-ciri dari pelaku gaslighting. Diantaranya:

1. Tidak terasa di awal hubungan

Jane mengatakan pelaku gaslighting, tidak akan terlihat di awal-awal hubungan. Malah, pelaku akan terlihat sangat menawan.

2. Mereka tampil menawan dan memulai dengan kebohongan kecil

Seperti di nomor satu, pelaku akan terlihat sangat menawan. Namun perilaku manipulatifnya muncul, diawali dengan kebohongan-kebohongan kecil atau white lie. Seperti sudah makan, tapi bilangnya belum.

3. Makin lama perilakunya makin ekstrem

Berawal dari kebohongan-kebohongan kecil, perilaku pelaku gaslighting makin parah. Lama-kelamaan, pelaku juga mendiskreditkan atau berusaha menjelekkan atau memperlemah korban.

4. Mendistraksi korban

Usai perilaku pelaku makin ekstrem, pelaku juga berusaha untuk mendistraksi korban. Di tahap ini, kamu mungkin tidak akan asing dengan perkataan "ah itu hanya pikiranmu saja", "kamu kali, kamu yang cemburuan", "salah kali, coba pikir-pikir lagi", atau "engga kok, aku gak begitu."

Hal ini, kemungkinan akan terus terjadi. Ada kemungkinan pelaku terus menyangkal suatu kesalahan atau hal yang terjadi padanya. Namun dia terus berusaha mengacaukan kewarasan korban. Hingga korban mempertanyakan pikirannya sendiri.

Mau tau tip menghindari hubungan yang manipulatif. Yuk dengarkan podcast Diskusi Psikologi di link berikut ini:

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Episode 3: Mengapa Bisa Terjadi Kekerasan Seksual di Pesantren?

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending