Bagikan:

Sri Mulyani Optimistis, Defisit APBN Tahun Ini Lebih Rendah Dibanding 2021

"Jadi kita berharap realisasi defisit 2022 akan jauh lebih rendah dari yang ada di dalam Undang-undang. Konsekwensinya sangat penting sekali pada saat kita menghadapi dinamika global"

NASIONAL | KABAR BISNIS

Kamis, 27 Jan 2022 16:17 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara APBN KITA edisi Oktober. (17/10/18). (Foto: Anta

Ilustrasi: Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara APBN KITA edisi Oktober. (17/10/18). (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

KBR, Jakarta— Menteri Keuangan Sri Mulyani meyakini defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2022 akan jauh lebih rendah dibandingkan defisit di masa pandemi 2021.

"Jadi kita berharap realisasi defisit 2022 akan jauh lebih rendah dari yang ada di dalam Undang-undang. Konsekwensinya sangat penting sekali pada saat kita menghadapi dinamika global yang spillover effect-nya itu akan dominated di sektor keuangan. Dari sisi capital flow, kenaikan suku bunga, nilai tukar dan dari sisi volatilitas di sektor keuangan," ujarnya dalam Rapat Kerja DPR Komisi XI dengan Kemenkeu, Kamis (27/1/2022).

Dalam UU No. 2 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Untuk Penanganan Covid-19, dijelaskan bahwa target untuk menekan defisit APBN pada 2023 akan mencapai di bawah 3 persen. Dia menyampaikan bahwa defisit APBN pada tahun ini ditaksir sebesar 4,85 persen dari Gross Domestic Product (GDP).

"Tapi yang paling penting bahwa defisit kita di 4,85 persen dari GDP. Ini lebih tinggi dari realisasi defisit 2021 yang sangat baik. Turun drop di 4,7 persen," katanya.

Baca Juga:

Sri Mulyani mengatakan jika Indonesia mampu menurunkan defisit secara signifikan, maka kebutuhan pembiayaan pada tahun ini akan jauh lebih menurun. Sri mengapresiasi kerja sama yang telah dilakukan Kementerian Keuangan dengan Bank Indonesia (BI).

Surat Keputusan Bersama (SKB) I, II, dan III terkait pembiayaan surat berharga negara (SBN) untuk memperkuat kerja sama dalam pembiayaan sektor kesehatan dan kemanusiaan sebagai dampak pandemi Covid-19. Kerja sama ini memberikan stabilitas terhadap pasar SBN dalam negeri.

"Kami dengan Pak Gubernur [Bank Indonesia], terutama dalam SKB I,II,III itu terus menerus untuk membantu menjaga strategi fiskal kita tetap terjaga stabil dan kredibel. Namun, terhadap semua, terutama stakeholders kita menyampaikan bahwa Bank Indonesia sebagai institusi otoritas moneter tetap terjaga dan dijaga independensinya," sambungnya.

Dia menambahkan, tahun ini merupakan tahun terakhir pemerintah berupaya mendorong perekonomian nasional dengan mengedepankan konsolidasi fiskal yang cepat dan stabil di tengah kemelut pandemi.

"Ini sangat bagus untuk memulihkan kembali apa yang disebut fondasi kebijakan fiskal untuk bisa menjaga perekonomian kita ke depan," katanya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Edu Talk IV YPA-MDR: Go Digital Melalui Media Ajar Interaktif