KBR, Jakarta – Mata adalah jendela bagi tubuh. Sebagai jendela, kondisinya harus tetap bersih dan sehat agar bisa melihat secara jelas. Namun, banyak masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di pelosok-pelosok daerah yang mengalami gangguan kesehatan mata.
Gerakan Sejuta Kacamata Untuk Indonesia, hadir untuk untuk membantu warga yang membutuhkan kacamata. Ini adalah gerakan yang berusaha menjangkau masyarakat yang kurang beruntung dalam mengatasi persoalan tersebut. Menurut Koordinator Gerakan Sejuta Kacamata untuk Indonesia, Heribertus Denny, gerakan ini berangkat dari kelompok Perkumpulan Doa ini sejak tiga tahun lalu.
“Jadi kami jemput bola
kepada masyarakat pra sejahtera. Bukan hanya memberikan pengobatan mata, tapi
kami juga memberikan kacamata gratis,” ujar Heribertus Denny.
Pria yang akrab disapa Denny ini menambahkan, gerakan ini terbuka, lintas negara, dan agama. Ia tidak mau membeda-bedakan masyarakat yang dibantu, apa pun latar belakang sosialnya.
Awalnya, gerakan ini hanya menyasar pada masyarakat pinggiran Jabodetabek. Namun, kini sudah mampu menjangkau masyarakat di Flores, Maluku, Mentawai, Suku Dayak, dan terbuka kemungkinan ke banyak daerah lainnya.
“Di tiap daerah itu kami
memang punya relawan lokal yang kami namakan Duta Melihat Terang. Biasanya
ketika kami memutuskan pergi ke sebuah daerah, kami bentuk relawan tersebut.
Jadi mereka bisa melakukan kegiatan tanpa harus selalu ada kami di sana,” kata Denny.
Lalu kacamata seperti
apa yang masuk kriteria pada gerakan ini?
Denny menjelaskan,
kacamata atau frame kacamata harus layak pakai. Dalam gerakan ini, ada tim
sortir yang akan memilah mana kacamata yang layak pakai dan disumbangkan kepada
yang membutuhkan.
Sampai saat ini, gerakan ini sudah mengumpulkan kurang lebih 100 frame kacamata, dan diperkirakan akan terus bertambah. Setelah gerakan ini menjadi viral di dunia maya, Denny mengaku, banyak orang yang menghubunginya untuk bisa terlibat dan membantu.
Meski dukungan gerakan
ini semakin gencar, pihak Gerakan Sejuta Kacamata untuk Indonesia, masih berfokus menyalurkan bantuan mereka ke anak-anak dengan rentang usia 7-15 tahun untuk rabun jauh. Dan para kelompok lansia dengan usia 45 tahun ke atas, untuk kacamata baca.
“Sejauh ini fokus kami memang di dua kelompok umur tersebut, anak-anak dan para lansia. Kami menilai mereka (anak-anak) adalah orang-orang yang akan menjadi masa depan bangsa Indonesia. Kami mau berkontribusi dalam mengurangi kebutaan dini (lansia). Sehingga kesehatan matanya harus diperhatikan,” harap Denny.
Denny sangat senang atas dukungan masif yang diberikan masyarakat sejauh ini. Menurutnya, gerakan ini akan terus berjuang menjangkau lebih banyak orang lagi di daerah-daerah pelosok Indonesia.
“Bahkan kami punya mimpi untuk bisa mendirikan klinik mata di daerah-daerah. Kami sadar akses masyarakat di daerah terhadap kesehatan mata ini masih sangat minim. Jadi kami berharap suatu saat nanti kami bisa mewujudkan impian itu,” ucap Denny.
Pengumpulan
kacamata masih terus dilakukan. Bagi Anda yang tergerak menyumbangkan
frame kacamata, bisa mengunjungi laman resmi Gerakan Kacamata untuk Indonesia
di tautan ini.