Setnov Mundur, Pengamat: Proses Hukum Harus Tetap Lanjut

Publik saat ini perlu mendorong Kepolisian dan Kejaksaan mengambil langkah hukum.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 16 Des 2015 21:35 WIB

Author

Wydia Angga

Setnov Mundur, Pengamat: Proses Hukum Harus Tetap Lanjut

KBR, Jakarta - Masyarakat diminta terus mengawal kasus "Papa Minta Saham" setelah Setya Novanto mundur dari jabatan Ketua DPR. Kata Peneliti Senior pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI, Syamsuddin Haris,  meski lolos dari sanksi etik,   proses hukum masih dapat dilanjutkan.

Alasannya, pencatutan nama Presiden dan wakilnya bukanlah sekadar pelanggaran etik.

"Ia mengakui pelanggaran etik itu, itu poinnya. (Artinya dia mengakui dengan pengunduran diri?) Iya dong, sebuah pengakuan bahwa dia melakukan pelanggaran etik. Sudah selesai dari segi etik," kata Syamsuddin kepada KBR, Rabu (16/12/2015)  

Syamsuddin melanjutkan, "dari segi hukum sekarang tergantung kepolisian dan kejaksaan. Yang mana sebetulnya unsur pidana ada di dalam pelanggaran yang dilakukan Setya Novanto."

Syamsuddin menambahkan, publik saat ini perlu mendorong Kepolisian dan Kejaksaan mengambil langkah hukum.

Sebelumnya Setya Novanto  menyatakan mengundurkan diri sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Pernyataan pengunduran diri itu dikirimkan kepada Majelis Kehormatan Dewan. Surat diteken Setya di atas materai.

"Untuk menjaga harkat dan martabat serta kehormatan DPR serta demi menciptakan ketenangan masyarakat," ujar Setya dalam suratnya bertanggal 16 Desember.

Dalam suratnya Setya menyatakan surat pernyataan itu dibuat dengan tulus. Dia berharap pernyataannya itu bermanfaat bagi kepentingan bangsa dan negara.

Usai membacakan surat pernyataan tersebut, MKD langsung membacakan keputusan. Sidang etik  MKD dinyatakan ditutup dengan menerima surat pengunduran diri tersebut. Terhitung mulai Rabu ini, MKD menyatakan Setya Novanto dinyatakan berhenti sebagai Ketua DPR.


Editor: Rony Sitanggang


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18