Dilarang Polisi, DKJ Tetap Gelar Pembacaan Album Keluarga 50 Tahun 1965

"DKJ tidak bersedia tunduk terhadap bentuk represi negara. Jika tunduk pada kesewenang-wenangan, DKJ akan dikutuk sejarah dan masa depan"

BERITA | NASIONAL

Selasa, 08 Des 2015 19:22 WIB

Author

Rio Tuasikal

Dilarang Polisi, DKJ Tetap Gelar Pembacaan Album Keluarga 50 Tahun 1965

KBR, Jakarta - Dewan Kesenian Jakarta memutuskan tetap menggelar pembacaan naskah dan diskusi bertajuk "Album Keluarga 50 Tahun 1965" sore ini,  meski kegiatan itu dilarang Kepolisian. Pembacaan naskah ini bagian dari Festival Teater Jakarta yang digelar sejak 30 November hingga 10 Desember.

Ketua DKJ Irawan Karseno menyatakan, polisi tidak bisa melarang kegiatan seni. Kata dia, pelarangan itu adalah bentuk represi negara dan telah melanggar kebebasan berekspresi yang dijamin undang-undang serta Deklarasi Universal HAM.  

"Kami memutuskan untuk mengganti diskusi hari ini menjadi konferensi pers, dan tetap melanjutkan kegiatan Album Keluarga 1965 sesuai rencana program Komite Teater DKJ," ujarnya dalam konferensi pers di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (8/12/2015) sore.

"DKJ tidak bersedia tunduk terhadap bentuk represi negara. Jika tunduk pada kesewenang-wenangan, DKJ akan dikutuk sejarah dan masa depan," tegasnya.

Ketua DKJ Irawan Karseno, menambahkan polisi harus menjamin keamanan acara, dan jangan mau didikte oleh kelompok yang mengancam.

Pembacaan naskah "Api Seluloid" dan diskusi pun berlangsung tertib dengan pengawalan ketat kepolisian.

Polda Metro Jaya kemarin melarang pembacaan naskah dan diskusi "Album Keluarga 50 Tahun 1965". Polisi ditekan kelompok yang menamakan dirinya Forum Seniman Peduli Festival Teater Jakarta yang berdalih acara bertema 1965  menimbulkan keresahan.

 "Album Keluarga 50 Tahun 1965" menampilkan karya 13 seniman peserta pelatihan DKJ. Mereka membuat naskah yang diinspirasi dari album keluarga para korban 1965.

Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Utang Negara Kian Meningkat

Kabar Baru Jam 7

Peran UMKM Pangan dalam Pemberdayaan Ekonomi Gambut

Kabar Baru Jam 8

Desakan Memberantas Intoleransi di Sekolah