Bagikan:

Cicak VS Buaya, Badrodin: Penahanan Novel Ada Miskomunikasi dengan Kejati Bengkulu

"Saya bilang ini kan ada miss komunikasi, karena itu penyidik tidak mau ambil resiko"

BERITA | NASIONAL

Jumat, 04 Des 2015 16:03 WIB

Author

Erric Permana

Cicak VS Buaya, Badrodin: Penahanan Novel Ada Miskomunikasi dengan Kejati Bengkulu

Kapolri Badrodin Haiti (foto: KBR)

KBR, Jakarta - Kepala Kepolisian Indonesia  Badrodin Haiti menyatakan penahanan penyidik KPK, Novel Baswedan ditangguhkan. Dia mengakui ada kesalahan koordinasi antara kepolisian dan Kejaksaan Tinggi Bengkulu.

Menurut dia, Kejaksaan Tinggi Bengkulu meminta penyerahan berkas dilakukan pada hari Senin. Itu sebab, penyidik kepolisian berencana menahan penyidik KPK.

"Diserahkan ke Kejagung, tapi Kejagung minta diserahkan ke Bengkulu. Tapi dari Kajati Bengkulu minta diserahkan hari Senin. Saya bilang ini kan ada miskomunikasi, karena itu penyidik tidak mau ambil resiko. Karena kalau diambil Senin belum tentu dihadapkan lagi," ujar Badrodin di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (04/12).

Kapolri Badrodin Haiti menambahkan kepolisian juga mendapatkan jaminan dari Pimpinan KPK yang bakal menyerahkan Novel pada Senin nanti. Itu merupakan salah satu alasan kepolisian untuk menangguhkan penahanan Novel Baswedan. Sebelumnya, Novel Baswedan sempat akan ditahan oleh kepolisian di Bengkulu. Namun, penahanan tersebut batal dilakukan setelah Novel beserta kuasa hukumnya berdebat dengan penyidik di kepolisian.


Kasus Novel muncul setelah terjadi perseteruan antara KPK dan Mabes Polri yang dikenal dengan istilah Cicak Buaya jilid 2. KPK pada 2012 tengah menyidik dugaan korupsi simulator Surat Izin Mengemudi dengan tersangka jenderal bintang dua  Dirlantas Mabes polri Djoko Susilo. Tiba-tiba kepolisian menjadikan Novel Baswedan koordinator Tim KPK dalam kasus simulator sebagai tersangka penganiayaan sewaktu masih bertugas di kepolisian Bengkulu pada 2004.

Pada Jumat malam 5 Oktober 2012, puluhan anggota Brigade Mobil mengepung gedung KPK, berusaha menangkap Novel. Ratusan relawan antikorupsi lantas menyerbu KPK, membentengi lembaga antirasuah itu dari serbuan polisi.  Perseteruan Cicak Buaya yang semakin memanas itu lantas membuat  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian memerintahkan kepolisian untuk mengesampingkan perkara. Belakangan dalam kasus korupsi simulator SIM itu, Djoko Susilo dihukum 18 tahun penjara.


Editor: Rony Sitanggang     

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 7

Antisipasi Bencana Alam di Akhir Tahun

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending