10 Persen Orangutan yang Dilepasliarkan di Kalimantan Timur Mati

Penyebab kematiannya karena sakit dan diburu

BERITA | NUSANTARA

Senin, 07 Des 2015 14:13 WIB

Author

Teddy Rumengan

10 Persen Orangutan yang Dilepasliarkan di Kalimantan Timur Mati

Ilustrasi (sumber: Setkab)

KBR, Balikpapan – Sekira 10 persen orangutan yang dilepasliarkan  mati. Manager Program Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Samboja Kutai Kertanegara Kalimantan Timur Agus Irwanto  mengatakan mereka  mati karena sakit  ataupun mati karena diburu. Sejak 2012 orangutan yang dilepasliarkan di hutan Kalimantan seluruhnya sebanyak 200 individu orangutan.

Kata dia, orangutan yang dilepasliarkan tidak begitu saja dibiarkan, tetap masih dipantau selama tiga tahun. Di tubuh satwa langka itu dipasang chip sehingga diketahui aktifitasnya setiap hari. Jika dianggap tidak bisa hidup mandiri, maka orangutan itu akan kembali direhabilitasi.  

“Kami kalau dari penelitian sejarah kami, melepasliuarkan orangutan, sebanyak 10 persen yang gagal bisa mati kena penyakit atau dibunuh orang. Kami punya protokol tiga tahun pertama harus diawasi,"  kata Agus Irwanto, Senin (7/12). 

Manager Program Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Samboja Kutai Kertanegara Kalimantan Timur Agus Irwanto melanjutkan, "jadi diambil datanya. Mulai dia makan, mulai dia tidur, mulai dia tidur lagi, bangun tidur. Kami pasang chip diikuti kemanapun, jadi dipantau."

Sebelumnya awal Desember 2015, empat individu orangutan dilepasliarkan di Hutan Muara Wahau Kutai Timur Kalimantan Timur. Kempat orangutan itu, dua betina, dua laki-laki yakni Bunga, Theresia, Jhony dan Hanum. Setiap tahun Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation menargetkan  setidaknya empat  individu orangutan dilepasliarkan. Rerata setelah 10 tahun direhabilitasi.


Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Presiden Menghidupkan Jabatan Wakil Panglima TNI