Peningkatan Mobilitas, IAKMI: Tahun Ini Lebih Mengkhawatirkan

"Kkarena trennya sekarang ini bukannya pengetatan tapi cenderung pelonggaran."

BERITA | NASIONAL

Jumat, 19 Nov 2021 11:35 WIB

Peningkatan Mobilitas, IAKMI: Tahun Ini Lebih Mengkhawatirkan

KBR, Jakarta-   Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menilai, peningkatan mobilitas jelang libur akhir tahun adalah kejadian yang berulang seperti tahun lalu. Dewan pakar IAKMI Hermawan Saputra mengatakan, pemerintah harus bisa belajar dari pengalaman, bahwa peningkatan mobilitas pasti akan memicu peningkatan kasus Covid-19. 

Apalagi, menurutnya tidak seperti tahun lalu dengan pengetatan, saat ini peningkatan mobilitas justru dibarengi dengan berbagai pelonggaran yang bisa berdampak pada kenaikan kasus.

"Di tahun ini sebenarnya lebih mengkhawatirkan, karena trennya sekarang ini bukannya pengetatan tapi cenderung pelonggaran. Aktivitas publik semuanya sudah terbuka konser diizinkan beberapa daerah pariwisata tetap dibuka, bahkan transportasi full capacity. Nah itu semua menyebabkan permisivisme terhadap protokol kesehatan itu terjadi karena ada pelonggaran dari segi kebijakan," kata Hermawan kepada KBR, Kamis (18/11/2021).

Baca juga:

- Laura Navika Yamani: Durasi Karantina Harus Lebih dari Lima Hari

- Presiden Minta Ada Mitigasi Gelombang Ketiga Covid-19


Hermawan mengatakan, faktor euforia karena sudah divaksin juga menjadi catatan untuk akhir tahun ini. Kata dia, pada libur Nataru tahun lalu, masyarakat cenderung lebih waspada karena memang program vaksinasi belum dimulai. Ia mengingatkan agar pemerintah benar-benar menerapkan kebijakan PPKM level 3 dan meminta masyarakat terus melakukan skrining kesehatan dan waspada terhadap protokol kesehatan 3M.

"Adanya euforia terkait dengan vaksinasi, orang yang sudah divaksin itu seolah-olah merdeka dan melihat tren yang menurun kasus di kebanyakan daerah, walaupun beberapa daerah juga naik kasusnya," imbuhnya.

Genjot Vaksinasi

Ahli Epidemiologi Universitas Airlangga, Surabaya, Windhu Purnomo memprediksi, penambahan kasus positif COVID-19 pada gelombang ketiga tidak lebih besar dari gelombang pertama dan kedua.

Namun demikian, Windhu mengingatkan antisipasi dan kewaspadaan harus tetap ditingkatkan. Salah satunya dengan mendorong percepatan vaksinasi COVID-19.

Windhu mengatakan, percepatan vaksinasi untuk mencegah melonjaknya angka kematian saat terjadi ledakan kasus positif. Apalagi kata dia, Indonesia sempat menjadi negara dengan kasus kematian tertinggi melebihi rata-rata dunia.

"Sekecil apapun penularan itu, kalau belum banyak orang yang divaksinasi secara lengkap itu bisa menimbulkan kematian. Yang kita takutkan (lonjakan) kematian. Jadi kematian di Indonesia ini angkanya lebih besar dari angka dunia. case fatallity rate Indonesia itu lebih tinggi dari angka dunia. angka dunia yang cuma 2,1 persen, kita 3,3 sampai 3,4 persen," kata Windhu dalam Program Ruang Publik KBR, Kamis (18/11/2021).

  

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7