Musik yang Memulihkan Sisa Konflik

Senin, 12 November 2018

KBR, Ambon - Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, pepatah usang ini terasa pas untuk Molukka HipHop Community. Ruang bagi anak-anak muda penyuka hip hop ini bukan saja menghadirkan kegembiraan bermusik, yang lebih menyenangkan, juga berhasil menanggalkan rasa takut dan saling curiga sisa-sisa kerusuhan puluhan tahun silam.

Tapi sayang, jalannya komunitas sedang ngos-ngosan. Salah satu pendiri, Morika Tetelepta dan generasi penerus komunitas, Mark Ufie mengungkapkan keresahan mereka kepada Jurnalis KBR. Keduanya juga bercerita, bagaimana anak-anak muda di sana mencari akal untuk menjaga denyut komunitas.

Muasal Molukka HipHop Community


Morika Tetelepta masih SMA ketika konflik pecah di Ambon pada 1999 silam. Ia tak mengerti apa yang terjadi kala itu, tiba-tiba saja dua kawan karibnya berpamitan. Mereka akan berpisah untuk waktu yang lama, bahkan, bisa jadi tak bertemu lagi.

"Itu (konfik), sangat besar pengaruhnya bagi saya. Saya ingat itu, waktu rusuh 1999 saya punya teman baik sekali. Teman akrab, orang Islam kakak-beradik," kenang Morika.

"Jadi, itu hari terakhir kami sekolah, sebelum akhirnya kami mengungsi, kami sempat bertemu. Mereka bilang ke saya: kita sudah tidak bakal bisa bertemu lagi ini. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama," Morika melanjutkan.

Perpisahan belasan tahun lalu rupanya masih membekas, laki-laki usia kepala tiga di hadap saya ini terlihat beberapa kali berhenti dan, menarik napas panjang saat hendak meneruskan cerita tentang karibnya.

"Teman saya itu bilang: bagaimana kalau kita angkat pela saja sesama teman? Pela itu semacam, hubungan kekerabatan antar-kampung, untuk saling menjaga. Masih saya ingat sampai hari ini. Jadi supaya kami saling melindungi meski kami terpisah,"

- sambung Morika kemudian.

Pela dalam tradisi Ambon, sejak berabad-abad silam, berfungsi menjembatani perbedaan. Tradisi ini disebut mampu meredam konflik horizontal dan, menjadi sarana rekonsiliasi di kota tersebut.

Hari-hari setelah konflik pemukiman warga dipisahkan berdasarkan kelompok agama. Batu Merah misalnya, hanya dihuni warga muslim, sedangkan Mardika untuk warga Kristen. Morika bilang, setelah kerusuhan itu, setiap orang mau tak mau diliputi takut dan saling curiga ketika harus keluar dari wilayah aman mereka. Pun dengan dirinya.

Dia bahkan mengaku, pernah menguji dirinya sendiri, dengan berjalan di kawasan Muslim.

"Daerah Batu Merah untuk anak Kristen seperti saya itu kan rawan. Tapi saya pikir saya harus melawan, maka tahun lalu saya selalu pulang jalan kaki ke rumah, lewat Batu Merah. Dan sampai saat ini saya masih hidup." 

Tak bisa ditolak, perubahan setelah konflik itu membuat Morika risau. Selepas SMA, ia merantau ke Jakarta untuk kuliah teologi. Tapi setiap pulang ke Ambon--misalnya saat libur perkuliahan—kali itu juga kekusutan di kepala soal kondisi kota kelahirannya itu pun kian ugal-ugalan.

"Saat itu memang banyak yang ingin saya ungkapkan, saya kan usia 20an. Di usia segitu saya ingin banyak cerita. Lalu liburan datang ke Ambon, yang saya amati sebagai orang luar, saat itu ke pembangunan dan, ke anak mudanya. Lebih ke kritik,"

- ungkapnya.

Rasa geregetan itu ia tumpahkan lewat lagu hiphop. Sejak 2005 Morika kadung gandrung dengan genre musik ini. Menurutnya, teknik rap dalam hiphop mampu jadi kantong muntahan uneg-unegnya.

Lagu pertama Morika, mempertanyakan perubahan laku sebagian anak muda Ambon yang, doyan mabok.

"Kebanyakan karena mereka pintar maka kan dapat banyak beasiswa, tapi duitnya habis buat mabok. Aku pikir, Ambon yang dulu kok enak gitu jalan kaki, pas saya pulang lagi kok motor banyak kebut-kebutan, temenku banyak yang kecelakaan. Kebut-kebutan di jalanan, anak-anak kecelakaan, mabok-mabok," cerita Morika.

Tiga tahun berikutnya, Morika lantas menggagas sebuah komunitas: Molukka HipHop Community. Anggotanya, hanya dia dan dua kawannya. Saat itu mereka membagikan lagu cuma-cuma. Selain untuk meneruskan pesan, kata dia, agar orang di Ambon tahu bahwa anak-anak muda di sana juga jago bikin musik.

"Kalau kami mau bikin mediumnya buku, siapa yang mau baca. Yang paling gampang itu musik. Dan itu pun gratis, kami bagi ke angkot-angkot karena di angkot orang putar musik kan. Supaya siapa saja yang naik angkot, dia dengar lah.”

- cerita Morika.


Morika Tetelepta (kanan) bersama anggota lain komunitas Hiphop bertukar ide soal gagasan membuat album kompilasi, di Rumah Paparisa. (Foto: KBR)

Lahirnya Molukka HipHop Community juga didorong keinginan anak-anak muda ini yang tak rela jika Ambon melulu diingat sebagai daerah konflik.

"Agar orang jadi lebih tahu soal Maluku. Orang tahunya Maluku itu rusuh, Ambon itu rusuh. Yang mau kami bikin bukan itu. Bahwa di Maluku itu orang harus tahu ada musik, rap."

Di komunitas ini, remaja Ambon bukan saja bertemu dengan kawan yang sehobi lalu mendapat kesenangan bermusik. Molukka HipHop Community malih rupa jadi ruang jumpa anak-anak muda beragam latar, juga berbeda agama. Hal yang nyaris sulit didapat di Ambon pasca-konflik.

"Yang aku lihat, orang akhirnya berani keluar dari rasa takut mereka untuk datang ke Paparisa. Kalau ditaruh dalam peta, padahal Paparisa itu masuk perkampungan Kristen tapi banyak teman-teman Islam yang datang."

Paparisa yang disebut Morika adalah markas bagi komunitas di Ambon. Tak terkecuali Molukka HipHop Community.

"Artinya mereka berani untuk melintasi batas dan rasa takut. Itu oke lah, tidak banyak orang yang berani seperti itu hari ini ya,"

- lanjut Morika.

Dilahirkan pada 2008, tiga tahun berselang kemunculan Molukka Hip-Hop memantik gairah bermusik komunitas lain. Muncul kemudian sebut saja Hip Hop Maluku Bersatu, Alifuru Hip Hop dan Tahuri Bersaudara.

Morika mengakui, sempat ada masa naik-turun antusias anak-anak muda terhadap hiphop. Ini pula yang menjadi PR berikutnya; memastikan komunitas tetap hidup dan bergiat.

Bagaimanapun, sebagai pendiri, Morika berharap komunitasnya akan awet. Selain untuk mewujudkan mimpi Ambon sebagai kota musik, juga agar anak-anak muda di sana berkawan tanpa rasa takut akan perbedaan agama.

"Setelah dilihat-lihat itu, ooh kesamaan hobi yang menurutku, paling bisa buat orang datang dan melupakan batas-batas tadi. Sementara yang kami lakukan ini, dengan jalan kesenian. Selain rumah yang ada di sana, kesenian adalah ruang di mana orang dapat berjumpa,"

Sembilan tahun komunitas berjalan, orang silih ganti, sebagian di antaranya memilih kegiatan lain. Napas komunitas pun tersengal, kendati begitu, tetap ada penerus Morika yang masih tinggal.

-

Menjaga Napas Komunitas


Apa datang dari muka, jangan undure—apapun datang dari depan, jangan mundur. Falsafah Ambon ini hendak dilakoni Mark Ufie, maka apapun rintangan yang datang, akan dihadapi.

Lelaki usia 26 ini sedang putar otak demi membuat komunitasnya panjang umur. Perkaranya, Molukka HipHop Community yang sudah diikutinya sejak hampir sembilan tahun itu napasnya kembang-kepis.

"Yang tua-tua sudah pada vakum. Ada yang fokusnya kerja, ada yang berkeluarga. Tapi misi kami nggak berhenti. Di tengah kesibukan kami masih berpikir goal apa yang masih mau dicapai," cerita Mark.

Mark memulai itu dengan mengumpulkan para anggotanya pada pengujung 2017, di halaman Paparisa. Pertemuan besar itu jarang terjadi, gazebo dan pelataran penuh, beberapa di antara mereka terpaksa berdiri dan mendengar isi rembukan dari luar pagar Paparisa.

Paparisa sendiri dalam bahasa Ambon berarti rumah. Memang itu rumah, tepatnya, markas bagi beberapa komunitas di Ambon. Bangunan bertingkat dua itu terletak di daerah Lorong Sagu. Kamar-kamar di lantai dua digunakan untuk perpustakaan merangkap ruang lukis, juga studio musik kecil-kecilan.

Bukan saja untuk Molukka HipHop, Paparisa juga rumah bagi komunitas lain seperti anak muda yang menyenangi seni rupa, sastra, sejarah, fotografi dan lainnya.

Paparisa Ambon Bergerak, ruang buat anak muda dengan beragam latar ini baru diresmikan 2015. Sementara Molukka HipHop muncul duluan pada 2008. Mark Ufie, bergabung setahun setelahnya pada 2009.

Kini Mark menjadi pemegang tongkat estafet pendiri komunitas. Wajar, jika ia merasa bertanggung jawab atas kelanjutan Molukka Hip Hop Community.

"Talenta banyak, tapi bagaimana trigger mereka untuk berani naik ke permukaan,"

- tutur Mark Ufie.

Sebagai pekerja lepas di bidang jasa professional penyelenggara acara (Event Organizer) ditambah keahlian audio engineer, tak sulit bagi Mark menggagas proyek musik untuk komunitasnya.

Maka sore itu di halaman Paparisa, proyek album kolaborasi digagas. Nama album rencananya masih sama dengan yang sebelumnya: Toma. Hanya ditambah angka dua di belakang, sebagai penanda bukan yang pertama. Toma dalam bahasa Ambon artinya maju. Menurut Mark, Toma itu semacam, melawan terjangan angin.

"Ini bentuk pernyataan diri kami, bahwa musik ini sampai sekarangpun masih antimainstream. Meski sekarang sudah banyak hip-hop, yang kami bawa masih melawan arus lah."

Mark lalu mencatat beberapa kolega yang harus dikontak, menyusun tenggat penyelesaian album dan membagi tugas ke anggota komunitas. Beberapa kali ia tampak menanyakan detail ke masing-masing penanggung jawab.

Dia juga tak ingin Molukka HipHop Community bergerak sendirian, maka Mark pun menyisir komunitas hiphop lain yang mungkin digandeng.

"Bagaimana agar familiar di kuping masyarakat adalah bikin kompilasi. Bagi saya, serangan yang massif itu yang gede."

Di Ambon, Molukka HipHop Community terhitung sebagai pelopor. Kelahirannya di kota yang pernah porak poranda ini semacam menularkan gairah bermusik. Kelompok lain pada tahun-tahun berikutnya mulai bergeliat. Hal yang sesuai dengan tekad pendiri komunitas.

Tahun-tahun setelah kerusuhan pecah pada 1999, kegiatan anak-anak muda di sana memang kian sulit. Huru-hara membakar perpustakaan, kampus, toko buku dan bangunan penting lainnya.

Mark, memang tak sempat mengalami konflik, semasa kekacauan ia diboyong ke Bandung. Tapi tetap saja sekembalinya ke kota kelahirannya itu, ia merasakan ada yang ganjil dengan perkawanannya.

"Nggak bisa dipungkiri buah dari kerusuhan adalah segregasi. Hal yang berbeda dulu, saya nggak mengalami kerusuhan. Saat itu saya bergaul dengan anak-anak lintas agama. Yang saya perhatikan sekembalinya dari Bandung, ada rasa curiga anak-anak saat bergaul,"

- cerita Mark.

Tapi aneh, anak-anak muda itu mendadak amnesia dengan rasa takut dan curiga ketika menggarap proyek bermusik atau, kegiatan seni lain. Mark, juga baru menyadari belakangan.

"Awalnya sama sekali tak terpikir (Molukka HipHop Community) bisa jadi (medium) rekonsiliasi. Pertama kali gabung hanya sebagai musisi yang ingin produksi mandiri, dan belajar. Tapi di tengah perjalanannya, saya menemukan hal positif, antar-agama bisa berinteraksi, bahkan kolaborasi dengan teman-teman dengan latar belakang yang berbeda," ungkap Mark.

Salah satu anggota komunitas, Hisyam Ailatat punya cerita. Saat itu ia hendak mengikuti sebuah kompetisi hiphop, salah satu syarat panitia mengharuskan peserta mengirim contoh lagu. Ia kebingungan karena kala itu belom jago produksi lagu. Tapi untung ada kawan sekomunitas yang bersedia membantu. Maka syukur, ia akhirnya mengikuti kompetisi itu.

Tampak tak ada yang aneh dari tolong-menolong yang demikian. Tapi perkara jadi beda sebab Hisyam seorang muslim, sementara kawan yang membantu tadi beragama kristen.

"Saat itu saya tak punya alatnya untuk produksi lagu kan. Itu sampai malam karena harus mengerjakan miksing lagu," tutur Hisyam antusias.

"Jadi kawan yang kristen itu masuk ke kampung saya yang islam," sambungnya. 

Bergaul dengan orang beragam latar, utamanya yang berbeda agama, akhirnya jadi kemewahan bagi anak-anak muda Maluku. Sisa kerusuhan belasan tahun lalu membikin perkawanan mereka kian pelik.

Tahun-tahun setelah konflik, permukiman warga dipisahkan berdasarkan kelompok agama. Batu Merah misalnya, hanya warga muslim, sedangkan Mardika untuk warga Kristen. Maka lumrah ketika Hisyam takjub kawannya yang Kristen itu berani masuk ke wilayahnya, Leihitu Barat.

Atau sebaliknya, ia yang muslim main ke daerah Lorong Sagu—di mana Paparisa berada—yang merupakan daerah Kristen.


Anggota Molukka Hiphop Community dan komunitas lain berkegiatan di Paparisa. (Foto: KBR)

Paparisa juga Molluka HipHop Community dan komunitas lain kemudian, menjelma dunia kecil di mana harapan anak-anak muda itu kembali ditata. Di 'rumah' itu mereka sejenak lupa rasa takut dan curiga yang saban hari masih mengganduli.

Mark menganggit, kesamaan kesenangan terhadap hiphop dan dunia seni itu yang, barangkali secara alami membikin mereka lebur hingga melupakan batas.

Kalau sudah begitu, rasa-rasanya tak bisa tidak, Molukka HipHop Community selalu punya alasan untuk bertahan. Mark percaya, proyek musik kecil-kecilan setidak-tidaknya bisa menjaga nyala komunitas.

"Anak-anak muda ini sebetulnya hanya perlu diajak ngobrol, biasanya ada pertemuan. Butuh duduk bersama saja. Karena kalau untuk kemampuan memproduksi musik, mereka sudah hebat-hebat," kata Mark.

Apalagi menurut Mark, anak muda Maluku diberkati ide melimpah untuk mengulik materi lagu. Mulai dari togel sampai soal pesan perdamaian. Dan dengan teknik rap, memungkinkan pembuat karya lebih leluasa untuk cerewet bercerita.

"Apapun yang ada di tengah masyarakat dijadikan lagu. Misalnya soal jamannya boy band, lalu kritik sosial pasca-11 September 2011 bahwa sebenarnya apa lagi sih yang mau kita cari, contoh (kerusuhan) dampaknya sudah nyata kemarin."

Marka bertulis "Ambon City of Music" terpampang tak jauh dari Bandara Pattimura. Name-sign dengan huruf-huruf warna merah dan tinggi dua kali manusia itu, mana tahu akan lebih bisa dirasakan kemegahannya, ketika kota ini juga punya festival musik hip hop seperti harapan Mark Ufie. 

"Saya ingin ada festival hiphop di Ambon. Mimpi saya, Ambon menjadi epicentrum-nya HipHop untuk festival yang gede. Karena kalau mau bilang Ambon, pelaku hip hop sudah banyak, penikmat sudah banyak tinggal kita cari support dan relasi untuk mewujudkan itu,"

- ungkap Mark.