Menteri Susi Tolak Investasi Asing Masuk Sektor Perikanan Tangkap

Keberadaan kapal asing berarti membuka kembali peluang adanya ilegal fisihing.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 19 Nov 2015 20:55 WIB

Author

Ninik Yuniati

Menteri Susi Tolak Investasi Asing Masuk   Sektor Perikanan Tangkap

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti (Foto: KBR/Aisyah K.)

KBR, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menolak usulan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk membuka investasi asing di sektor perikanan tangkap. Ini untuk menanggapi pernyataan Wakil Ketua Kadin bidangĀ  Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto untuk membuka kesempatan perusahaan asing menangkap ikan di perairan Indoneia.

Susi beralasan, nelayan dan pengusaha lokal diyakini mampu memasok kebutuhan ikan dalam negeri maupun industri pengolahan. Selain itu, keberadaan kapal asing berarti membuka kembali peluang adanya ilegal fisihing.

"Ini saya tidak setuju. Untuk perikanan tangkap sekarang orang Indonesia sudah luar biasa hasilnya dan kita mau revitalisasi penangkapannya. Kita tidak perlu lagi kapal-kapal asing untuk tangkap di Indonesia apalagi nelayan asing. Jadi saya meminta kepada Kadin untuk bekerja, mengapresiasi nelayan ini dengan membeli hasilnya kepada nelayan," kata Susi di Widya Chandra, Kamis(19/11).

Susi Pudjiastuti menambahkan, Kadin seharusnya mendukung pengusaha lokal untuk berinvestasi. Kata dia, investasi di sektor pengolahan masih terjangkau, nilai paling mahal mencapai sekitar 300 miliar rupiah.

Membuka akses kepada asing, kata dia, justru bakal kembali menekan kesejahteraan nelayan yang saat ini tengah meningkat. Menurutnya, KKP bakal mendukung perikanan tangkap dengan menggelontorkan anggaran 4 triliun rupiah.

"Kita tidak mungkin ngambil kesejahteraan yang dirasakan nelayan. Mereka sangat diuntungkan, pertumbuhan perikanan 8,4 persen," lanjutnya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Persiapan Pemerintah Jawa Barat Hadapi New Normal