Inilah Pembunuh Balita Nomor 1 di Indonesia

Setiap tahun sekitar 19 ribu balita meninggal.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 06 Nov 2015 16:43 WIB

Author

Erric Permana

Inilah Pembunuh Balita Nomor 1 di Indonesia

KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan memperkirakan ada sekitar 2 - 3 balita yang meninggal setiap jamnya akibat Pnemonia (Radang Paru). Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Sigit Priohutomo mengatakan berdasarkan catatannya ada sekitar 19 ribu balita tewas setiap tahun.

Menurut dia ini disebabkan oleh sejumlah faktor di antaranya polusi udara akibat rokok, kurang gizi dan tidak mendapat imunisasi. Menurut dia, data tersebut kemungkinan akan bertambah jika terpapar kabut asap kebakaran hutan.

"Di antaranya ini pasti termasuk akibat asap, kalau melihat angka ini (19 ribu) kan susah mengatakan ini akibat asap. Tapi ternyata tanpa asap pun angkanya segini (19 ribu)," ujar Sigit di Kementerian Kesehatan, Jakarta. (6/11).

Kementerian Kesehatan menyebut pada tahun 2015 jumlah balita yang mengidap Pneumonia (radang paru) paling banyak di wilayah yang tidak terpapar asap, yakni Provinsi Jawa Barat.

Direktur Pengendalian Penyakit Menular, Sigit Priohutomo mengatakan angka tersebut berdasarkan laporan yang diterima oleh Kementerian Kesehatan. Sementara untuk 2014, ada  sekitar 600 ribu ditemukan kasus Pneumonia  pada balita dan 32 ribu di antaranya mengidap Pneumonia berat.


Sementara itu, Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia, Nastiti Kaswandani menyebut Pnemonia merupakan pembunuh balita nomor satu dan 99 persen kematian terjadi di negara-negara berkembang. Dia mengklaim Pneumonia dapat dicegah dengan cara memberikan asi kepada anak dan imunisasi.

Dia meminta masyarakat untuk lebih dini mengenali lebih dini gelaja Pneumonia, yakni frekuensi bernapas pada anak sangat cepat (tachypnea) dan adanya tarikan dinding dada ke dalam pada anak.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Korona Mengancam Masa Depan Anak

Kabar Baru Jam 12

Bagaimana Kenormalan Baru bagi Aktivitas Perkantoran?