Bisakah Pesantren Dongkrak Ekonomi Syariah

KBR, Surabaya - Gubernur Bank Indonesia Agus D W Martowardojo meyakini pondok pesantren di Jawa Timur mampu mendongkrak perkembangan ekonomi syaria. Sebab jumlah pondok pesantren yang terus bertambah.

NUSANTARA

Selasa, 04 Nov 2014 17:18 WIB

Author

Eko Widianto

Bisakah Pesantren Dongkrak Ekonomi Syariah

pesantren, ekonomi, syariah

KBR, Surabaya - Gubernur Bank Indonesia Agus D W Martowardojo meyakini pondok pesantren di Jawa Timur mampu mendongkrak perkembangan ekonomi syaria. Sebab jumlah pondok pesantren yang terus bertambah.

Agus menjelaskan lembaga pesantren yang dikenal sebagai salah satu alat syiar islam dapat dioptimalkan menjadi motor edukasi keuangan syariah di Indonesia. Oleh sebab itu, pihaknya akan membahas perkembangannya hal ini melalui perhelatan Indonesia Shari'a Economic Festival (ISEF) di Surabaya.

BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif bahwa provinsi Jawa Timur mampu melaksanakan program percepatan pembangunan ekonomi syariah. Hal itu sesuai dengan akselerasi yang dilakukan oleh gubernur Jatim Soekarwo.

Ke depan akan dilakukan penandatanganan kerja sama tentang deklarasi surabaya yakni terciptanya perkembangan ekonomi syariah di Jatim.

“BI melakukan tandatangan MoU dengan pesantren untuk membangun dan untuk menyetujui satu koorp prinsipel terkait dengan sistem zakat, hal ini untuk menyakinkan Baznas yangs udah hadir dan berkembang lebih baik lagi,” jelasnya.

Sementara itu gubernur Jatim Soekarwo, menyatakan, potensi perkembangan ekonomi syariah di Jatim didukung oleh 6.000 pondok pesantren. Bahkan, para pemilik pondok pesantren itu juga meminta pemerintah memaksimalkan program syariah.

Dengan pemberlakuan skema pembiayaan ekonomi syariah ini diharapkan/para pengusaha skala kecil bisa dibantu oleh ekonomi syariah.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kisah Perempuan Listrik asal Semarang yang Mendunia

Kabar Baru Jam 8

Menilik Gerakan Digital Warganet Sepanjang 2020

Kabar Baru Jam 10