Pak SBY, Jangan Jadikan Sarwo Edhie sebagai Pahlawan Nasional

KBR68H, Jakarta

NASIONAL

Kamis, 14 Nov 2013 08:19 WIB

Author

Doddy Rosadi

Pak SBY, Jangan Jadikan Sarwo Edhie sebagai Pahlawan Nasional

sby, sarwo edhie, pahlawan nasional

KBR68H, Jakarta – Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadikan Sarwo Edhie sebagai pahlawan nasional menimbulkan kontroversi. Sarwo Edhie dianggap bertanggung jawab terhadap peristiwa pembunuhan massal orang-orang komunis pada 1965-1967. Protes ini kemudian berlanjut melalui sebuah petisi online di change.org yang digagas oleh Soe Tjen Marching.

Kemarin, Soe Tjen resmi menggagas petisi online tersebut di laman www.change.org.  Dia mendesak Presiden SBY untuk tidak menjadikan Sarwo Edhie sebagai Pahlawan Nasional. Hinga hari ini, sudah 2.860 orang yang menandatangani petisi penolakan Sarwo Edhie menjadi pahlawan nasional.

“Tahun’65, papa saya dituduh komunis, dipenjara dan disiksa. Mama kehilangan pekerjaan sebagai guru, hidup keluarga terlunta-lunta bertahun-tahun,” tulis Soe Tjen Marching di petisi online Change.org.

Di era 1965 saat terjadi pemberontakan oleh PKI, Sarwo Edhie adalah Panglima Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat  RPKAD.  Sarwo Edhie dituding sebagai dalang pembunuhan ratusan ribu pendukung Sukarno, yang dianggap sebagai simpatisan komunis.

Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo adalah ayahanda dari Ani Yudhoyono, istri Presiden SBY. Sarwo Edhie dikenal sebagai Panglima Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), cikal bakal Kopassus TNI AD.

Pemerintah telah menyetujui usulan agar Letnan Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo menjadi pahlawan nasional, dan akan ditetapkan pada 2014. Setelah disetujui oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan pada tahun ini, pemberian gelar pahlawan nasional akan ditetapkan pada tahun berikutnya yakni 2014.

Sarwo Edhie merupakan tokoh militer yang memimpin penumpasan pemberontak komunis G30S/PKI. Partai Komunis Indonesia hingga kini dinyatakan sebagai pihak paling bertanggung jawab atas pembunuhan enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD.

Setelah itu, Sarwo Edhie juga pernah menjadi Kepala BP-7 Pusat, Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, serta menjadi gubernur AKABRI. Sarwo Edhie wafat pada 9 November 1989 dalam usia 64 tahun.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Sejumlah Kendala Vaksinasi Lansia

Kabar Baru Jam 8

Perkara Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika

Kabar Baru Jam 10