Bagikan:

Mertua Jadi Pahlawan, Luka Lama Terbuka Kembali, Jendral!

Kabar itu datang bagai petir di siang bolong, awal pekan ini. Pemerintah telah sepakat untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada Sarwo Edhie Wibowo.

EDITORIAL

Jumat, 15 Nov 2013 07:27 WIB

Author

KBR68H

Mertua Jadi Pahlawan, Luka Lama Terbuka Kembali, Jendral!

sby, sarwo edhie, pahlawan nasional

Kabar itu datang bagai petir di siang bolong, awal pekan ini. Pemerintah telah sepakat untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada Sarwo Edhie Wibowo. Sarwo Edhie adalah Panglima Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada 1965-67. RPKAD ini merupakan cikal bakal Korps Pasukan Khusus alias Kopassus.

Rencananya, gelar pahlawan nasional untuk mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu akan diberikan tahun depan. Apa alasan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Sarwo Edhie? Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan menilai Sarwo Edhie berjasa dalam menumpas komunis pada 1965-67.

Keputusan itu langsung menimbulkan kontroversi. Korban dan juga keluarga korban 1965 tentu tidak akan lupa sosok Sarwo Edhie di periode pembasmian anggota komunis di negeri ini. Dengan pangkat kolonel, Sarwo Edhie memimpin operasi pemberantasan komunis di seluruh daerah.

Pemberantasan di sini bisa diartikan dengan membunuh, bukan menangkap atau mengusir ke luar negeri. Sejarah mencatat, pada 1965-66 telah terjadi pembantaian di sejumlah daerah khususnya mereka yang menjadi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) atau dekat dengan aliran komunis.

Tidak ada angka pasti berapa jumlah korban tewas dibunuh pada masa itu. Perkiraan menyebut angka setengah hingga dua juta jiwa dibantai dan satu juta orang dipenjara. Pembersihan ini merupakan peristiwa penting dalam masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. PKI dihancurkan, Presiden Soekarno jatuh, dan kekuasaan selanjutnya berada di tangan Soeharto.

Soe Tjen Marching adalah salah satu keluarga korban 1965. Pada tahun itu, ayahnya disiksa dan dipenjara karena dituduh komunis. Ibunya kehilangan pekerjaan sebagai guru. Keluarga Soe Tjen sempat terlunta-lunta selama beberapa tahun. Ketika mendengar Sarwo Edhie, orang yang memimpin gerakan pembasmian komunis dijadikan Pahlawan Nasional, dia tidak terima. Soe Tjen kemudian membuat petisi online di change.org dan meminta Presiden SBY membatalkan rencananya. Petisi itu sudah ditandatangani hampir 3.000 orang.

Soe Tjen tentu buka satu-satunya keluarga korban 1965 yang masih belum lupa dengan tindakan yang dilakukan Sarwo Edhie. Masih banyak keluarga korban 1965 lain yang kehilangan orang dekatnya hanya karena dituduh komunis, tanpa melalui proses pengadilan. Hingga ajal menjemput, tidak pernah ada kata maaf dari mulut Sarwo Edhie kepada keluarga korban. Dia hanya sempat menyesali tindakannya itu ketika berbicara dengan salah satu anak DN Aidit, pentolan PKI. Ketika itu, Sarwo merasa tindakannya itu adalah hal yang benar dan demi kepentingan negara.

Pembantaian massal di era 1965-66 adalah catatan kelam dalam perjalanan negeri ini. Hingga kini masih simpang siur, apakah benar PKI ada di balik kudeta berdarah pada 30 September atau ada pihak lain yang bermain. Apakah benar Soekarno adalah komunis dan Soeharto adalah orang yang menyelamatkan negeri ini dari bahaya laten komunis? Luka keluarga korban 1965 mungkin sudah mulai hilang sedikit demi sedikit. Tetapi, nyawa yang hilang akibat kekejian yang dilakukan RPKAD tentu tidak bisa dengan mudah dilupakan.

Keputusan SBY memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sarwo Edhie seakan membuka lagi luka lama keluarga korban 1965. Yang menjadi pertanyaan, kenapa seorang pembunuh ratusan ribu orang justru dijadikan Pahlawan Nasional?

Baca: Pak SBY, Jangan Jadikan Sarwo Edhie sebagai Pahlawan Nasional

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Edu Talk IV YPA-MDR: Go Digital Melalui Media Ajar Interaktif