Bagikan:

TNI akan Tindak Anggotanya yang Terima Gratifikasi Tambang di Pasirian, Lumajang

TNI mendalami terlebih dahulu informasi adanya anggota TNI yang menerima uang gratifikasi terkait kegiatan tambang ilegal.

BERITA | NASIONAL

Senin, 12 Okt 2015 19:38 WIB

Author

Yudi Rachman

TNI akan Tindak Anggotanya yang Terima Gratifikasi Tambang di  Pasirian, Lumajang

Ilustrasi: Rumah Salim Kancil korban tewas konflik tambang di Lumajang, Jatim (foto: KBR/ Eko W.)

KBR, Jakarta - Anggota TNI yang terbukti menerima uang aliran dari tambang illegal di Lumajang bisa terkena sanksi etika dan disiplin bahkan pidana. Menurut Juru bicara TNI Tatang Sulaiman, pihaknya akan mendalami terlebih dahulu informasi adanya anggota TNI yang menerima uang gratifikasi terkait kegiatan tambang ilegal. Menurut dia, proses hukum akan dimulai dengan berkoordinasi dengan polisi dan POM TNI di tingkat wilayah tersebut.

"Saya belum dapat laporan biasanya kalau memang ada itukan di daerah hukum sana. Akan koordinasi kalau ada anggota TNI dengan Polisi Militer di wilayah. Di Korem, berarti ada Denpom, Denpom akan menyidik," jelas Juru bicara TNI Tatang Sulaiman kepada KBR, Senin (12/10/2015).

Sebelumnya, Kepala Desa Selok Awar-awar Hariyono mengakui memberikan upeti kepada pemerintah daerah, TNI, Polri, Wartawan dan LSM. Hal ini diakui dalam sidang disiplin anggota kepolisian Polsek Pasirian.

Pada Sabtu 26 September 2015, Salim kancil dan Tosan dua warga Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang  menjadi korban penculikan dan penganiayaan preman.  Salim Kancil tewas mengenaskan dan sedangkan Tosan luka parah hingga kritis. Dua warga itu   getol menolak kegiatan penambangan pasir di desanya. Diduga penganiayaan itu terkait dengan kegiatan penambangan pasir di daerah itu.  Kepolisian telah menetapkan puluhan orang sebagai tersangka. 


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Mendorong Vaksinasi Booster untuk Antisipasi Kenaikan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun

Most Popular / Trending