Tersiksa Kabut Asap, Warga Pekanbaru Terpaksa Beli Tabung Oksigen

Ia harus merogoh kocek Rp850 ribu untuk membeli satu tabung oksigen ukuran kecil. Harganya komplit dengan selang dan peralatannya. Ia membelinya dari sebuah apotek besar di Pekanbaru Riau.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 06 Okt 2015 12:41 WIB

Author

Agus Lukman

Tersiksa Kabut Asap, Warga Pekanbaru Terpaksa Beli Tabung Oksigen

Hendri, warga Pekanbaru terpaksa membeli tabung oksigen untuk anaknya yang terus terpapar kabut asap. (Foto: Akun Facebook Hendri)

KBR, Jakarta - Tak tega melihat anaknya menderita karena kabut asap, Hendri, seorang warga Pekanbaru Riau terpaksa membeli tabung oksigen.

Kabut asap yang tebal membuat anak pertama Hendri sampai bengek, ketika bernafas berbunyi 'ngik-ngik'.

Beberapa hari lalu bahkan seorang anaknya sampai keringat dingin dan muntah-muntah. Menurut Hendri, itu karena si anak kekurangan pasokan oksigen ke paru-paru dan otak. Dari situ Hendri memutuskan membeli tabung oksigen.

Ia harus merogoh kocek Rp850 ribu untuk membeli satu tabung oksigen ukuran kecil. Harganya komplit dengan selang dan peralatannya. Ia membelinya dari sebuah apotek besar di Pekanbaru Riau.

Di akun Facebook, Hendri mengirim foto anak keduanya tengah mengenakan masker oksigen.

"Anak saya yang pertama itu sampai bengek, kalau tidur itu sampai bersuara ngik-ngik kalau bernafas. Saya bawa berobat ke rumah sakit beberapa kali, ya dikasih oksigen saja," kata Hendri kepada KBR melalui sambungan telepon, Selasa (6/10).

Saat diwawancara, Hendri meminta maaf karena terus terbatuk-batuk akibat asap. Selama sebulan ini Hendri terus mengonsumsi obat untuk mengatasi gangguan ISPA.

Selain itu, anaknya juga terkena ISPA. Hendri harus membawa anaknya ke rumah sakit setiap dua hari sekali. Karena jika dihitung biayanya cukup mahal, Hendri memilih membeli tabung oksigen.

Satu tabung oksigen ukuran kecil hanya bertahan untuk tiga jam jika dipakai terus-menerus dengan tekanan rendah, di bawah angka tiga. Jika habis, ia harus mengisi ulang oksigen dengan biaya Rp35 ribu sekali isi.

"Sebetulnya kalau mau aman saya harus punya beberapa tabung oksigen. Tapi solusinya nggak begitu. Saya harus bolak-balik isi ulang. Jarak dari rumah saya ke tempat isi oksigen itu sekitar 13 kilometer dengan sepeda motor," kata Hendri yang sudah tiga hari ini memakai tabung oksigen.

Karena jarak cukup jauh, Hendri hanya bisa mengisi tabung oksigennya sehari sekali.

Hendri tidak sendirian. Menurut Hendri, sejumlah apotek dan distributor alat kesehatan di Pekanbaru kehabisan persediaan tabung oksigen karena banyak yang membeli. Sejumlah tetangganya juga ikutan membeli tabung oksigen, karena kabut asap yang pekat.

Hendri sudah sebulan lebih menghirup asap pekat hingga terkena ISPA. Kata Hendri, solusi yang ditawarkan dokter sebenarnya adalah evakuasi ke daerah lain yang tidak ada kabut asap, baru ia bisa sembuh.

"Tapi saya punya aktivitas di sini, punya usaha di sini, saya tidak bisa tinggalkan," kata Hendri.

Hendri sekeluarga sudah berkali-kali ke rumah sakit karena ISPA. "Kalau Bapak ke rumah sakit, itu di UGD semua masalahnya sama, ISPA. Penuh di sana karena ISPA."

Hendri menggunakan tabung oksigen itu bergantian untuk lima anggota keluarganya. Terutama jika ada anggota keluarga yang baru habis beraktivitas di luar rumah.

"Biasanya saya pakai sekitar tujuh sampai 10 menit, tergantung kondisi fisik. Karena sedikit sekali oksigen di luar rumah. Yang ada hanya asap," katanya.

Dipapar asap selama lebih dari sebulan, Hendri mengakui kondisi anak-anaknya terganggu, terutama metabolisme tubuh. Anak-anak gampang sakit dan lemas. "Tabung oksigen ini terutama untuk anak yang sulung, yang bengek terus."

Hendri juga membeli alat selang pernafasan khusus untuk bayinya yang baru lahir. "Tentu nambah biaya lagi," katanya.

Dua anak Hendri yang agak besar sudah sebulan tidak sekolah. Mereka terpaksa dikurung karena kualitas udara yang berbahaya. Di rumah, Hendri tidak berani membuka pintu dan jendela. Hendri juga terus-menerus menyalakan alat penyejuk udara AC.

Hendri yang tinggal di Jl Pratama Marpoyan itu juga mempertanyakan tidak adanya langkah-langkah dari pemerintah kota maupun provinsi terhadap warga. Bahkan, sosialisasi dari pemerintah daerah ke rumah-rumah warga juga tidak ada.
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Meningkatkan Layanan Publik Melalui SPAN-L4POR

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12