Kemenkes: Bayi Nabila Meninggal karena Keracunan Darah, Bukan Asap

Menurut Yurianto, Nabila menderita diare serta batuk pilek (influenza) ketika tiba di rumah sakit. Kabut asap, menurutnya bukan jadi pemicu utama namun memang telah memperparah kondisi bayi tersebut.

BERITA | NASIONAL

Senin, 05 Okt 2015 20:00 WIB

Author

Iriene Natalia

Kemenkes: Bayi Nabila Meninggal karena Keracunan Darah, Bukan Asap

Seorang anak mendapat penanganan gangguan polusi asap dengan pemberian masker oksigen. (Foto: diskominfo.riau.go.id)

KBR,Jakarta - Kementerian Kesehatan membantah meninggalnya bayi Nabila (15 bulan) asal Jambi  disebabkan oleh pneumonia (radang paru-paru).

Menurut Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes, Achmad Yurianto, bayi Nabila meninggal dunia karena keracunan darah (sepsis).

Yurianto, mengklaim sudah mendapat konfirmasi dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi terkait hal itu.

Menurut Yurianto, Nabila menderita diare serta batuk pilek (influenza) ketika tiba di rumah sakit. Kabut asap, menurutnya bukan jadi pemicu utama namun memang telah memperparah kondisi bayi tersebut.

"Sudah kita konfirmasi ke Dinas Kesehatan Provinsi Jambi yang diterima dr. Ivo yang sudah berkomunikasi langsung dengan dokter yang merawat (Nabila). Nabila meninggal karena sepsis. Infeksi sistemik pada seluruh tubuh yang menyebabkan fungsi jantung, pernapasan, ginjal, dan otak berhenti. Tidak dikatakan satu-satunya penyebab adalah kabut asap. Dalam kondisi kabut asap, orang yang sudah sakit apapun pasti jadi lebih parah," kata Yurianto, Senin (5/10).

Terkait dampak kabut asap di Sumatera, Achmad Yurianto mengatakan, upaya untuk mengatasi radang paru-paru (pneumonia) adalah tindakan pencegahan agar penderita ISPA tidak bertambah. Jumlah penderita bisa berkurang jika kabut asap bisa tuntas.

Sebelumnya, Nabila Juliani Rahmadhan (15 bulan) meninggal di Jambi, Kamis (1/10) lalu. Orang tua Nabila menduga anaknya meninggal kabut asap yang tak kunjung hilang. Sebelum meninggal, Nabila sempat menderita sakit sesak pernafasan dan batuk-batuk selama kurang lebih 14 hari namun Dinas Kesehatan setempat enggan angkat bicara soal ini.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11