Haji Misbach, Pemimpin Komunis Keagamaan yang Dihilangkan dari Sejarah

KBR68H, Jakarta- Oktober seringkali dianggap sebagai bulan paling menyakitkan bagi sebagian warga Indonesia

BERITA

Jumat, 11 Okt 2013 08:53 WIB

Author

Sindu Dharmawan

Haji Misbach, Pemimpin Komunis Keagamaan yang Dihilangkan dari Sejarah

haji misbach, komunis, keagamaan, sejarah

KBR68H, Jakarta- Oktober seringkali dianggap sebagai bulan paling menyakitkan bagi sebagian warga Indonesia—terutama yang kerap dicap sebagai keturunan Partai Komunis Indonesia atau PKI. Orang yang dicap atau distempel komunis kerap digambarkan sebagai orang yang antiTuhan, tidak beradab, dan sebagainya. Pada Oktober 1965, banyak anggota PKI atau simpatisan partai menjadi korban pembantaian massal. Komunisme dianggap sebagai paham yang tidak boleh hidup di negeri ini.

Namun, tidak banyak orang tahu, bahwa ternyata salah satu tokoh pendiri PKI adalah seorang haji, berlatar belakang pesantren. Mohammad Misbach atau kerap disebut sebagai Haji Misbach merupakan seorang tokoh yang disejajarkan dengan Semaun, Tan Malaka maupun tokoh-tokoh perjuangan revolusioner lain. Nama-nama ini barangkali tenggelam atau ditenggelamkan dalam sejarah karena berpaham kiri. Salah satu pernyataan Haji Misbach yang banyak diperbincangkan adalah: menjadi seorang Muslim berarti menjadi komunis, dan begitu juga sebaliknya.

Sejarawan dan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Soewarsono menceritakan, nama Haji Misbach dikenal sebelum 1965-1966 di masyarakat Indonesia. Salah satu buku yang ditulis oleh almarhum profesor Harsa Bachtiar dari UI menyebut, Haji Misbach sebagai orang di antara pemimpin pergerakan kebangsaan di Indonesia, atau tepatnya dikenal dengan pemimpin komunis keagamaan yang mempropagandakan ideologis komunis dengan kutipan-kutipan dari Al Quran. Haji Misbach, juga dikenal sebagai orang yang dibuang di Manokwari, dan meninggal dua tahun kemudian. Sebuah jalan di Solo pernah dinamai dengan Jalan Haji Misbach, tapi setelah 65/66 jalan itu dihapus.

"Nama Haji Misbach dicoba untuk ditiadakan dalam realitas masyarakat Indonesia, maupun sejarah Indonesia. Pembicaraan mengenai Haji Misbach muncul kembali di kalangan akademisi itu, sejauh yang saya tahu sejak 1980an, ketika seorang penulis mengutip nama Haji Misbach sebagai seorang Jawa dan Komunis. Belakangan menjadi terkenal karena studi seorang sarjana dari Jepang, Takashi Siraishi yang menulis tentang pergerakan radikalisme rakyat di Jawa 1912-1926. Satu diantara tokoh yang dibahas secara intensif dan mendalam, adalah Haji Misbach. Lewat studi itu pula, nama Haji Merah muncul," jelas Soemarsono dalam perbincangan Agama dan Masyarakat kerjasama Tempo TV dan KBR68H, Rabu (10/10).

Soewarsono melalui buku yang ditulisnya 'Jejak Kebangsaan Kaum Nasionalis di Manowari dan Bovendigul' menceritakan, sosok Haji Misbach adalah muslim yang baik, lulusan pesantren, serta pernah berhaji sebelum memulai pergerakan Nasional. Haji Misbach juga seorang pimpinan media.

"Pergerakan Nasional dimulai oleh Haji Misbach ketika menjadi jurnalis. Haji Misbach memiliki dua surat kabar namanya Medan Muslimin yang didirikan 1915, dan Islam Bergerak pada 1917. Dia juga membuat perkumpulan yang namanya Tabligh Islam Reformis -Siddiq, Amanah, Tabligh, Fatonah-. Ini yang akan menjadi dasar dia berkegiatan dalam politik pergerakan saat itu. Hanya saja, masa pergerakan itu dimulai saat ia bergabung dalam organisasi yang didirikan Cipto Mangunkusumo, Insulinder yang berubah menjadi Sarikat Hindia, atau National Indische Partij,"terangnya.

Seorang islam sejati seperti Haji Misbach, jelas Soewarsono, mengalami perkembangan politik pada konteks pertamanya adalah pergerakan yang bersifat kebangsaan. Itu saat ini yang dikenal dengan 'Tiga Serangkai' (Cipto, Dowes Dekker, dan Suhardi Suryaningrat) hingga tahun 1923, sebelum kemudian Sarikat Hindia dihancurkan oleh Belanda.

"Haji Misbach kemudian masuk penjara dua kali, karena keterlibatannya di Sarikat Hindia. Setelah keluar, dia masuk ke Partai Komunis Indonesia (PKI) yang didirikan Mei 1920. Setelah itu dia menjadi propagandis PKI SI Merah. Pergerakan politiknya di Propagandis PKI SI Merah ini menjadi gerakan yang menakutkan terutama di Surakarta, dan Solo, yang membuat ia ditangkap dan dibuang di luar Jawa. Ia adalah orang pergerakan pertama yang dibuang di Manokwari, " katanya.

Era tahun belasan, terangnya, sebagai tahun gerakan nasional, yang ditandai dengan munculnya sebuah kata yang menjadi sangat bersejarah yaitu, kata Indonesia. Kata Indonesia itu dipakai oleh kaum pergerakan yang aktif untuk mengganti kata Hindia Belanda. Sistem penjajahan saat itu menjadi menarik di daerah kerajaan pribumi semisal di Surakarta, Yogyakarta dan sekitarnya.

"Kolonialisme Belanda saat itu menjadi perbincangan menarik, dan memunculkan pergerakan kaum nasionalis, yang juga diikuti oleh PKI. Haji Misbach yang seorang pedagang batik sukses juga terlibat dalam pergerakan itu."ujarnya.

Sosok yang tak bisa bahasa Belanda ini, karena hanya lulusan pesantren dan sekolah ongko lorho. Karena tidak bisa bahasa Belanda, Haji Misbach tidak bisa mengakses buku-buku tentang komunis terbitan Belanda. Untuk menyiasatinya, ia menggunakan bahasa daerah dan melayu yang dikuasainya untuk mengakses karya-karya komunisme yang ditulis dalam bahasa melayu.

"Seperti karya Tan Malaka, dan Semaun, yang saat itu banyak beredar. Semisal Novel Hikayat Kabirun, karya Semaun"
Karya-karya yang dibacanya itu membuat Haji Misbach berpandangan lain tentang islam, dan komunisme. Meskipun ia tahu Islam dan komunisme dua hal yang berbeda.

"Menurut dia, Islam adalah perbuatan, atau satunya kata dalam perbuatan. Kalau bicara, dia harus berbuat. Bagi dia komunisme dan islam memang berbeda. Namun, Haji Misbach tidak mecari perbedaan itu, justru persamaan yang ia cari, " ujar Sejarawan dan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Soewarsono.

Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq menjelaskan, sebuah studi yang ditulis oleh Takashi Siraishi membenarkan jika Haji Misbach pernah bergabung dalam organisasi lembaga tabligh Muhammadiyah di Solo. Dalam perjalanannya, ada perbedaan pandangan antara Haji Misbach dan pengurus Muhammadiyah di Solo, terutama soal hal-hal sensitif, khususnya soal buruh, yang menjadi konsen utama dari Haji Misbach.

"Pada akhirnya Haji Misbach memutuskan untuk membentuk satu lembaga dakwah tersendiri di luar Muhammadiyah, " katanya.
Jejak Haji Misbach di Muhammadiyah hingga kini masih menjadi diskusi menarik di  kalangan aktivis muda Muhammadiyah di Solo. Ada suatu keinginan untuk menghidupkan kembali api progresif islam yang dibangun oleh Haji Misbach, yang dinilai revolusioner.

"Dan kalau dilihat dalam perkembangannya sebenarnya gagasan Haji Misbach juga tidak terlalu mendapat tempat di Institusi Muhammadiyah. Karena pada akhirnya Muhammadiyah di Solo cenderung puritan. Saya melihat tak banyak jejak-jejak pemikiran Haji Misbach di Muhammadiyah, khususnya di Solo, " kata Fajar Riza Ul Haq.

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Tingginya Kasus Positif COVID-19 pada Anak

Cegah Krisis Pangan di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 8

Covid-19, IDAI Ungkap Kematian Anak Capai Ribuan Perminggu